Amerika Jadikan Yaman Seperti “Neraka” Bagi Rakyatnya

Amerika Jadikan Yaman Seperti “Neraka”

Washington sangat lambat dalam belajar dari kesalahannya. Khususnya di Timur Tengah. Selama satu setengah dasawarsa terakhir di belahan yang kritis dan kacau di dunia ini, Amerika Serikat berulang kali menyaksikan keterbatasan penggunaan instrumen tumpul kekuatan militer Amerika untuk menyelesaikan konflik politik, sosial, ekonomi dan agama yang rumit.

Tentu saja, tidak ada contoh yang lebih baik dari kegagalan untuk memahami batas-batas kekuatan militer Amerika ini daripada invasi dan pendudukan kita yang menghancurkan selama satu dekade di Irak. Namun kita sekarang kembali membuat kesalahan yang sama, kali ini di negara yang kurang terkenal bernama Yaman.

Selama tiga tahun, Amerika Serikat telah mendukung koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi yang mengobarkan perang di Yaman. Perang itu diklaim berusaha untuk menggulingkan pemerintah pemberontak yang terdiri dari anggota Houthi. Peran kita dalam koalisi itu sangat signifikan. Kita menjual bom dan senjata ke Saudi, kita membantu mereka memilih sasaran di Yaman, dan hingga saat ini, kita mengisi kembali pesawat mereka di udara.

Bagi siapa pun yang memperhatikan, jelas bahwa Amerika Serikat terlibat dalam perang di Yaman. Namun perang ini belum disahkan atau diperdebatkan oleh Kongres. Keterlibatan kita dimulai dengan tenang di bawah Presiden Barack Obama, dan sekarang Presiden Donald Trump telah meningkatkan partisipasi kita. Dan itu bukan berati partisipasi kita dalam konflik Yaman tidak mempunyai konsekuensi yang serius.

Yaman telah menjadi neraka di bumi bagi warga sipil yang terperangkap di dalam perbatasannya. Lebih dari 10.000 orang tak berdosa terbunuh dalam kampanye pemboman yang dipimpin Saudi sejak awal perang sipil itu. Targetnya termasuk sekolah, rumah sakit, pesta pernikahan, upacara pemakaman, dan baru-baru ini sebuah bus sekolah yang membawa 38 anak dalam perjalanan lapangan.

Lebih dari 22 juta orang -tiga perempat dari populasi- membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan. Negara ini berada di ambang kelaparan dan berada di tengah-tengah wabah kolera terburuk di dunia.

Hingga saat ini, sekitar 85.000 anak di bawah usia 5 tahun di Yaman mungkin telah meninggal karena kelaparan dan penyakit. Dalam banyak hal, penderitaan ini merupakan hasil sampingan yang disengaja dari koalisi Saudi, yang telah menargetkan instalasi pengolahan air, klinik kesehatan dan bahkan rumah sakit milik Doctors Without Borders. Semua itu dilakukan dengan bantuan AS.

Ada jejak AS di masing-masing kematian warga sipil ini. Ketika mimpi buruk kemanusiaan semakin memburuk, hal itu juga menyediakan bahan bakar untuk merekrut pemuda ke dalam organisasi teroris seperti Al Qaeda dan ISIS. Mereka telah mampu berkembang dalam kekosongan kekuasaan yang diciptakan oleh perang.

Karena banyak orang jahat yang kita bunuh dengan strategi ini, kita menciptakan lebih banyak lagi. Pada akhirnya, keterlibatan kita menjadikan Amerika Serikat kurang aman ketika kita menciptakan kondisi yang meradikalisasi generasi pemuda Timur Tengah untuk melawan kita.

Itu sebabnya saya bekerja dengan Senator Bernie Sanders dari Vermont dan Mike Lee dari Utah untuk memaksa Senat agar memberikan suara pada resolusi. Resolusi itu  mengatakan bahwa Presiden dan pemerintahan ini tidak dapat terus terlibat dalam konflik di Yaman tanpa deklarasi perang dari Kongres.

Perundang-undangan kita, yang menyelesaikan rintangan prosedural besar pada hari Rabu dan sedang bekerja melalui Senat di bawah Undang-Undang Kekuasaan Perang 1974, akan memaksa pemerintah untuk menarik dukungannya dari koalisi Saudi sampai mendapat deklarasi perang.

Saatnya bagi Kongres untuk mendapatkan kembali salah satu tugas paling mendasarnya -memutuskan kapan dan di mana Amerika Serikat pergi berperang. Sudah terlalu lama, kami puas duduk di pinggir dan menyerahkan kekuasaan ini ke cabang eksekutif. Namun dalam melakukannya, kita mengulangi kesalahan yang sama yang kita buat selama 15 tahun terakhir kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.

Sudah waktunya bagi kita untuk mengakhiri keterlibatan bencana kita di Yaman, dan sudah waktunya bagi Kongres untuk merebut kembali perannya sebagai badan dengan satu-satunya otoritas untuk menyatakan perang. Kita bisa mulai dengan memutuskan untuk mengakhiri keterlibatan kita dalam perang di Yaman.

 

Naskah ini disadur dari opini yang ditulis oleh Chris Murphy, seorang Senator AS dan dimuat dalam situs berita cnn.com.

Sumber:  us.cnn

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *