Kehidupan Jurnalis di Damaskus, Terbungkam dan Terancam

(AFP)

Suara-suara berisik itu akan selalu menghantui Alia (bukan nama sebenarnya). Ketika dia menceritakan tentang kehidupan di wilayah yang dikuasai pemerintahan di pusat kota Damaskus, ia menyebut suara-suara dari serangan udara di dekatnya dan suara –suara rudal akan membuatnya berdiam diri di rumahnya sepanjang hari.

Tinggal di ibu kota Suriah pada saat itu berarti harus terbiasa untuk “tidur dan bangun dengan suara pemboman tanpa henti”, menurut mantan jurnalis kelahiran Damaskus tersebut. Dia meninggalkan Suriah dengan suaminya tahun lalu.

Di Damaskus, perang menjalar ke hampir semua aspek kehidupannya.

Alia bekerja di sebuah situs berita yang dikelola pemerintah, ketika pemerintah Suriah meningkatkan intensitas pembomannya di pinggiran Ghouta Timur yang dikuasai oposisi. Di sana, saudara laki-lakinya tewas akibat pemboman yang dilakukan oleh pemerintah Suriah, beberapa tahun sebelumnya.

Di kantornya, Alia tidak mungkin memberi tahu rekan kerjanya tentang tewasnya saudara laki-lakinya tersebut, sebab ia takut dengan “loyalis rezim” di antara rekan kerjanya.

“Tidak ada rekan saya yang tahu [tentang saudara saya] sampai setahun setelah saya mulai bekerja di kantor,” Alia teringat.

“Selalu ada rasa takut dan kehati-hatian dalam hubungan saya dengan orang-orang di Damaskus.”

Pada saat yang sama, tunangan Alia (yang kemudian menjadi suaminya) bekerja di bawah ancaman pengeboman, sebagai seorang perawat di daerah lain yang dikuasai oposisi di luar ibu kota. Terkadang di tempat kerja, Alia menemukan berita online yang membuatnya khawatir terhadap keselamatan nyawa tunangannya tersebut.

Dalam sebuah insiden pemboman yang dilakukan pasukan pemerintah di luar Damaskus pada 2016, “Rumah sakit [tempat tunangan saya bekerja] dibom,” tutur Alia. “Saya berada di tempat kerja, dan terus mengikuti berita.”

“Saya merasa seperti ambruk. Saya tidak bisa mengatakan apa pun kepada rekan kerja saya atau mengungkapkan apa pun.”

Didukung oleh serangan udara berat dan tembakan artileri, pasukan pro-pemerintah akhirnya merebut daerah tempat tunangannya tinggal, sebelum merebut kembali Ghouta Timur awal tahun ini. Pengambilalihan tersebut adalah bagian dari serangkaian kemenangan besar yang telah memungkinkan pemerintah Suriah untuk menegaskan kembali kendali atas banyak wilayah sejak 2016.

 

Baca halaman selanjutnya: Bekerja Secara Rahasia

One Response
  1. December 13, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *