Amerika Bunuh 450 Sipil Saat Invasi Langsung Militer ke Aceh 1832

Invasi militer pertama di Asia ini terjadi di pelabuhan Kuala Batu Aceh. Kuala Batu merupakan daerah di sepanjang pesisir Samudera Hindia dengan panorama teluk yang tenang, pantai yang asri dan alami mulai dari Surin Lama Tuha, Lama Muda hingga Kuala batu yang daerahnya terdiri dari muara-muara sungai, rawa-rawa dan hutan belantara.

Kuala Batu (beberapa sumber Barat menulis dengan ejaan Quallah Battoo) adalah sebuah kerajaan kecil di wilayah Aceh pada masa lalu.

Kerajaan ini berkuasa sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi. Kini lokasinya masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee yang berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Baca juga:

Meski memiliki wilayah yang kecil, namun nama Kuala Batu pernah membuat geger Amerika Serikat pada tahun 1832. saat itu beberapa anak buah kapal dagang Friendship asal Amerika dibunuh dan muatannya dirampas oleh penduduk di wilayah ini.

Peristiwa ini sekaligus menjadi awal dari berakhirnya kekuasaan Kerajaan Kuala Batu, di wilayah Aceh Barat Daya.

Menurut Leong Sau Heng, arkeolog dari University Malaya, yang dikutip oleh Susanto Zuhdi; dijumpai beberapa kategori pelabuhan yang berfungsi sebagai penghubung antara dunia barat dan timur. Dia menyebutkan berbagai fungsi pelabuhan yaitu, sebagai feeder points, collecting center, dan entrepot.

Kategori pertama (feeder points) adalah yang berfungsi sebagai “pengumpan” komoditas kepada pelabuhan kategori kedua dan atau langsung ke pelabuhan kategori ketiga. Dengan gerak pelabuhan-pelabuhan itulah terbentuk jaringan maritim, yang intinya adalah sistem-sistem laut (sea systems).

Pada masa kurun niaga dengan kejayaan ladanya, pelabuhan Kuala Batu tumbuh menjadi salah satu pelabuhan feeder points internasional. Di pelabuhan ini banyak kapal asing yang mengambil komoditas utama lada hitam untuk di bawa ke pelabuhan entrepot.

Baca juga:

Feeder points ini kemudian menjadi rebutan dalam sea systems perdagangan lada sehingga terjadi saling intervensi, yang dapat menimbulkan peperangan baik dengan bangsa asing maupun dengan tetangga dalam merebut hegemoni, setelah bangsa barat datang.

Adat Dan Syariat Yang Menyatu Di Aceh

Budaya ‘Aceh’ telah lama dipengaruhi Islam. Budaya itu melingkupi sistem hukum dan adat serta tradisi, termasuk juga di dalamnya perdagangan dan komoditas barang dagangannya. Budaya dalam perdagangan dan komoditas barang dagang tersebut paling tidak sudah berkembang sejak abad ke-13 ketika Samudera-Pasai muncul sebagai ‘bandar dagang’ yang terkenal di sekitar Selat Malaka. Sedangkan adat dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Aceh Darussalam, baru mulai ditata pada abad ke-16, yaitu ketika ‘kesultanan Aceh Darussalam’ terbentuk. Di Kesultanan Aceh, sistem hukum dan adat senantiasa memayungi seluruh lini kehidupan masyarakat. Keduanya berjalan beriringan, seperti ‘dua sisi mata uang’

Pada masa kesultanan Aceh (1528-1903) telah dibangun tempat khusus untuk berdagang yang disebut Peukan, Keude, dan Pasai. Peukan, Keude dan Pasai dikendalikan oleh syahbandar yang disebut syahbanda atau hariya. Para pedagang yang berjual-beli harus tunduk pada peraturan-peraturan kesultanan yang dijalankan oleh syahbandar atau hariya peukan. Dalam perkara timbang-menimbang barang dilakukan oleh tandi yang diawasi secara baik oleh petugas.

Hal itu dilakukan untuk menghindari kecurangan yang dapat merugikan taksir wasee kesultanan atau pedagang. Kecurangan dalam timbangan dianggap sebagai dosa besar. Barang-barang dagangan yang disimpan di peukan-peukan (di pasar-pasar) menjadi tanggung jawab dari syahbanda atau hariya. Sedangkan adat wasee atau cukai dikenakan kesultanan kepada pedagang selalu dibayarkan lunas. Sewa tempat dan keude (toko) juga selalu dilunasi secara kolektif oleh pedagang di pasar tersebut.

Baca juga:

Di Aceh, orang memandang hina sekali kepada perampas/perampok harta orang lain. Perampas/perampok harta orang disebut dengan gelaran “si meurampah” (si perampas/perampok). Barang-barang yang dirampok apabila tertangkap, harus dikembalikan utuh. Apabila mengalami kerusakan atas barang tersebut harus dibayarkan sesuai ‘kadar’ kerusakannya. Barang-barang yang diserobot juga harus dibayar sesuai dengan harga saat kejadian perkara.

Di Aceh, arak (minuman beralkohol) dan peternakan babi dilarang. Apabila barang terlarang tersebut tetap diperdagangkan, boleh dirusak dan isinya dibuang atau ditumpahkan. Arak yang ditumpahkan atau babi yang dibunuh tidak akan dilakukan pembayaran ganti-rugi.

Para pedagang asing diperbolehkan berdagang di Aceh sampai ke kampung-kampung dari pagi sampai sore saja. Sedangkan pada malam hari, mereka harus kembali ke kapal atau tempat-tempat ‘penampungan’ yang sudah disediakan di pinggir-pinggir sungai. Hal itu untuk menjaga keamanan dan barang-barang dagangan mereka.

Sistem Perlindungan Perdagangan Barat Yang Biadab

Keberhasilan berdagang di pantai Aceh tergantung pada kemahiran berbahasa Melayu, kalau tidak berbahasa Aceh. Kenyataan bahwa “pantai lada” Aceh terdiri dari banyak sekali wilayah otonomi, yang mengakui kedaulatan Kesultanan Aceh tetapi tidak “mengacuhkan” perintahnya, menjadikan pantai lada itu wilayah klasik “diplomasi kapal perang” barat. Kapten kapal yang menunjukkan kehalusan perasaan, kesabaran dan berlaku adil tidak banyak mengalami kesulitan, dan bahkan dapat berdagang secara kredit, yang menuntut kepercayaan yang tinggi kepada mereka oleh pedagang-penjual Aceh.

Namun, fluktuasi harga yang sangat cepat di pasar yang tidak stabil ini, menimbulkan konflik-konflik yang tidak dapat diselesaikan oleh pemegang wewenang politik manapun. Sedikit sekali orang asing yang menyukai kontrol terpusat, baik oleh Aceh ataupun pemerintah kolonial di wilayah itu, yang mungkin menetapkan pembatasan-pembatasan terhadap perdagangan. Sebaliknya, jalan akhir yang mereka tempuh jika diserang ketika sedang berdagang di Aceh adalah meminta angkatan laut masing-masing untuk menghancurkan desa tempat serangan terjadi.

Baca juga:

Sebagai sebuah “sistem” perlindungan perdagangan, cara seperti itu jelas sewenang-wenang dan biadab. Orang Aceh selalu mundur ke pedalaman sampai aktivitas kapal perang “selesai”. Dan, mendirikan kembali rumah-rumah kayu mereka secepat ketika kapal perang meninggalkan tempat tersebut.

Kapal-kapal perang Inggris dan Belanda sudah lama menggunakan cara ini di wilayah Melayu, bahkan juga di bagian-bagian lain pantai Aceh. Namun, Amerika merupakan pelopor yang memperkenalkan bentuk “hukuman” ini kepada perdagangan lada di pantai barat Aceh.

Mengapa Penduduk Kuala Batu Berani menantang AS?

Penduduk Kuala Batu, Aceh muak dengan pedagang Amerika yang suka mencurangi takaran timbangan. “Endicott menghabiskan banyak waktu dengan Po Adam, uleebalang setempat, yang memperingatkannya bahwa raja-raja lokal tengah marah karena turunnya harga lada dan kapten-kapten kapal yang kabur dengan tidak membayar penuh,” tulis Robert Booth dalam Death of an Empire: The Rise and Murderous Fall of Salem, America’s Richest City.

Menurut versi kedua kapal dagang Amerika Serikat Friendship diserang oleh penduduk Kuala Batu (sekarang Kuala Batee) pada 3 Februari 1813 dan menyandra kapal tersebut karena hendak menyelundupkan lada dari pelabuhan Kuala Batu.

Baca juga:

Menurut sumber Barat lainnya kuala batu adalah kota bajak laut, gerombolan yang sering merampok kapal-kapal dagang di selat Malaka. Dengan dalih itu kapal perang AS Potomac menghancurkan kota Kuala Batu dan membantai hampir semua penduduknya.

Setelah peristiwa itu, arus kapal-kapal dagang dari Salem yang berlayar ke Aceh kian intensif. Pada 1839, pemerintah kota Salem kemudian memutuskan untuk membuat logo kota bergambarkan sosok penduduk dengan pakaian khas Aceh dan kalimat berbahasa Latin: “Ke pelabuhan terjauh yang kaya di Timur.”

“Logo tersebut merupakan contoh bagaimana Salem memaknai aktivitas dagangnya di Hindia sebagai simbol kejayaan dan keterlibatannya dalam dunia komersial internasional,” tulis Jessica Lanier, “Salem’s China Trade: Pretty Presents and Private Adventures,”  termuat dalam Global Trade and Visual Arts in Federal New England suntingan Patricia Johnston dan Caroline Rank.

Pada 7 Februari 1831, kapal dagang berbendera Amerika Serikat, Friendship, berlabuh di Kuala Batu, Aceh Barat Daya, untuk mengangkut lada. Kehadiran kapal-kapal dagang Amerika di pantai barat Sumatra sudah menjadi pemandangan biasa sejak pergantian abad ke-19. Namun kegiatan transaksi jual beli yang semestinya berjalan seperti biasa tersebut, lantas menjadi malapetaka bagi awak Friendship.

Friendship melepas jangkarnya dari kota Salem, Massachusetts, salah satu kota pelabuhan terpenting Amerika dalam urusan perdagangan di Timur Jauh kala itu. Dalam misinya membeli lada ke Kuala Batu, Friendship dipimpin oleh Kapten Charles M. Endicott. Friendship berlabuh dan Endicott beserta beberapa anak buahnya turun untuk menegosiasikan harga. Situasi mulai terasa aneh ketika tiga perahu kayu penuh dengan penduduk yang bersenjata mengerubungi Friendship, dan kemudian menyerangnya.

Baca juga:

Awak kapal Friendship berhamburan, dan beberapa lainnya tewas. Friendship dirampas. “Melihat kekacauan tersebut dari pantai, Endicott dan awaknya yang tersisa melarikan diri dengan sampan ke Muki, meminta bantuan dari tiga kapten kapal lain di sana (yang juga berasal dari Salem) untuk merebut kembali Friendship,” tulis David Foster Long dalam Gold Braid and Foreign Relations: Diplomatic Activities of U.S. Naval Officers 1798-1883.

 

Baca halaman selanjutnya:  Aksi Pembalasan Koboi AS yang Kejam

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *