Amerika Serang Al-Qaeda Afrika 40 kali di 2018

Militer Amerika mengklaim berhasil membunuh delapan pejuang Shabaab pada Sabtu (15/12) di daerah dekat Mogadishu. Komando Amerika untuk Afrika (AFRICOM) menargetkan posisi cabang Al-Qaeda di Afrika itu sebanyak 40 kali di tahun 2018, melebihi total gabungan serangan ke ISIS dan Al-Qaeda tahun lalu.

Serangan terjadi di kota Gandarshe yang berjarak 15 mil selatan Mogadishu dan di utara Merca. AFRICOM mengaku tidak ada warga sipil yang terbunuh selama operasi.

Gandarshe terletak merupakan wilayah di sepanjang pantai dimana dahulu pernah menjadi pusat pejuang al Qaeda dari luar Afrika bergabung dengan Shabaab. Pada tahun 2009, Amerika Serikat membunuh Saleh Ali Saleh Nabhan , seorang pemimpin senior Al-Qaeda yang bersekutu dengan Shabaab. 

Baca juga:

Senior Al-Qaeda itu dituduh atas keterlibatannya dalam serangan-serangan di tahun 1998 terhadap fasilitas Amerika di Kenya dan Tanzania, dalam operasi khusus penyerbuan di dekat Barawe. Nabhan berperan dalam memperkuat penggabungan resmi antara Shabaab dan Al Qaeda. AS juga membunuh seorang jihadis Maroko di Merca dalam serangan udara pada tahun 2012.

Daerah ini, yang dikenal sebagai Daerah Shabelle Bawah, diidentifikasi oleh pemerintah AS sebagai wilayah aman untuk pergerakan Shabaab. Militer Somalia, bersama dengan Uni Afrika dan militer AS, telah berusaha merebut kembali kendali atas wilayah ini dari Shabaab. Pekan lalu, Shabaab membunuh dua jenderal Somalia yang memimpin serangan di wilayah tersebut.

Setelah meluncurkan serangkaian serangan terhadap jaringan Shabaab di provinsi Somalia tengah, Mudug, serangan AFRICOM terhadap Shabaab tampaknya telah bergeser lebih jauh ke selatan.

Serangan pada 8 Desember di Basra, sebuah kota kecil di sebelah utara Mogadishu, menewaskan empat pejuang Shabaab. Serangan lain, pada 4 Desember, menewaskan empat pejuang Shabaab di kota Awdheegle, yang terletak di utara Gandarshe.

Baca juga:

Shabaab telah melakukan aktivitas perjuangannya secara efektif meskipun militer Amerika, Uni Afrika dan Somalia berupaya menekan cabang Al-Qaeda Afrika tersebut selama satu dekade penuh.

Departemen Luar Negeri AS juga telah mencap Shabaab sebagai ancaman terus-menerus. Laporan terbaru tentang terorisme, AS menggambarkan Somalia sebagai “tempat aman bagi teroris.”

Laporan itu menjelaskan bahwa al-Shabaab mengalami tekanan militer yang signifikan selama 2017, tetapi kelompok itu masih mempertahankan kontrol atas sebagian besar negara. Al-Shabaab mempertahankan kemampuan untuk melakukan serangan profil tinggi menggunakan alat peledak improvisasi kendaraan (VBIEDs), bom mobil, mortir, dan senjata kecil.

 

Ditulis oleh Bill Roggio, Anggota Senior di Longwarjournal FDD.

Sumber: longwarjournal

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *