Israel Membunuh, Amerika Serikat Mengecam

Pekan lalu, Amerika Serikat mengajukan resolusi kepada Majelis Umum PBB untuk mengecam Hamas karena menyerang Israel. Resolusi ini didukung oleh 87 negara tetapi ditentang oleh 57 negara lainnya. Lebih dari 30 negara menyatakan abstain. Pada akhirnya usulan resolusi tersebut tidak disetujui oleh Majelis Umum PBB karena tidak mendapatkan dua pertiga suara dari jumlah total suara  yang diperlukan.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak pernah meloloskan resolusi yang mengutuk Hamas,” keluh utusan AS untuk PBB, Nikki Haley. “Tak pernah. Lebih dari 700 resolusi mengutuk Israel dan tidak ada satu resolusi pun mengutuk Hamas. Hal itu, lebih dari apapun, adalah kecaman terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sendiri. ”

Kegagalan resolusi AS terhadap Hamas terjadi pada Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina, yaitu pada 29 November. Ini adalah peringatan tahunan berdasarkan Resolusi PBB 188 yang diadopsi oleh Majelis Umum pada tahun 1977.

Baca juga:

Selayaknya kita mengutuk Nikki Haley, dan bergembira atas kepergiannya dari PBB pada akhir tahun ini, paling tidak karena dia telah bertindak lebih seperti duta besar untuk Israel dengan dukungan buta untuk negara Zionis. Mungkin dia sekarang sedang mencari posisi dalam politik AS.

Ketika membandingkan Hamas dengan pemerintahan Netanyahu, kita menemukan bahwa pihak yang pertama adalah gerakan pembebasan nasional yang menurut AS telah membuat kesalahan, sementara yang pihak yang disebut terakhir adalah kumpulan manusia yang melakukan rasisme dan praktik terorisme Negara, dengan sangat sengaja.

Netanyahu sendiri menghadapi kemungkinan diadili karena suap dan penipuan atas rekomendasi polisi Israel. Ada yang mengklaim bahwa gaya militerisme agresif yang dilakukan Netanyahu telah dirancang untuk mengalihkan perhatian dari situasi yang memalukan atas kasus suapnya tersebut.

Baca juga:

Sementara itu, perlawanan Palestina terhadap pelanggaran hak-hak Israel di Jalur Gaza telah berlangsung sejak protes Great March of Return dimulai di perbatasan Gaza dengan Israel pada 30 Maret. Tentara Israel telah menewaskan lebih dari 200 orang pria, wanita dan anak-anak tak bersenjata hingga saat ini.  Israel bahkan menewaskan 50 orang pada 14 Mei saja.

Selain itu, Israel telah melukai lebih dari 18.000 orang lainnya. Para penembak jitu diberi lampu hijau oleh komandan mereka untuk membunuh dan melukai pemuda Palestina. Israel dan pendukungnya kemudian mempertanyakan saat orang-orang Palestina berani menembakkan roket ke negara pendudukan sebagai tanggapan.

Memang, ribuan orang Palestina telah terbunuh di Jalur Gaza selama serangan militer Israel pada tahun 2008-2009, 2012, dan 2014. Lebih dari 2.200 orang tewas pada serangan tahun 2014, termasuk sekitar 550 anak-anak. Nikki Haley tidak menyebutkan korban apartheid Israel ini; sebaliknya, ia menyebutkan seorang tentara Israel yang terluka ketika membunuh orang-orang Palestina di perbatasan.

Mesir campur tangan untuk mempersiapkan gencatan senjata antara Palestina dan Israel. Perang memang tertahan, tetapi Gaza terus berada di bawah ancaman. Qatar membantu rakyat Gaza dengan uang, yang juga bagus, tetapi perlawanan harus terus dan tidak boleh berhenti sampai negara Palestina merdeka didirikan. Itulah yang seharusnya dicapai oleh “proses perdamaian” yang telah memakan waktu 25 tahun. Tetapi tanah yang tersedia untuk Palestina telah terkikis hari demi hari karena Israel terus membangun dan memperluas pemukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki.

Sumber:

Mayoritas negara di dunia, seperti yang kita lihat di Majelis Umum PBB beberapa hari yang lalu, mendukung hak Palestina untuk memiliki negara mereka sendiri, dan telah mengeluarkan resolusi yang mengadvokasi hak asasi manusia dan hukum mereka, dan mengecam Israel karena menolak resolusi tersebut. Resolusi PBB yang paling penting dalam hal ini dikeluarkan pada tahun 2012 ketika Majelis Umum menerima Palestina sebagai negara anggota pengamat.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menganggap Sang Teroris Netanyahu dan pemerintahnya sebagai sekutu favorit Amerika dan sedang mempersiapkan rencana “kesepakatan abad ini”, semata-mata untuk kepentingan Israel.

Orang-orang Palestina, tampaknya, tidak akan diberi pilihan selain menerimanya. Itu hampir tidak mungkin, tetapi ini tidak akan menghentikan aksi Trump dan menantunya yang pro-Israel, Jared Kushner. Saat Israel dengan bebas membunuh rakyat Palestina, AS mengecam Hamas dan kelompok perlawanan lainnya yang terlibat dalam perjuangan untuk memperoleh hak mereka.

 

Sumber:  middleeastmonitor

 

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *