Terlalu Lama, Perang Afghanistan Hampir Terlupakan

Perang Afghanistan telah merenggut nyawa hampir 4.000 tentara koalisi, setengah dari mereka adalah pasukan AS. Lebih dari 20.000 tentara AS terluka dalam pertempuran.

Dick Cheney, Don Rumsfeld, John Bolton, Paul Wolfowitz, dan para pengikut neo-konservatif lainnya yang berkuasa bersama George W. Bush pada tahun 2001, semuanya memiliki kesamaan visi. Dalam pikiran mereka, mereka memandang bahwa Irak yang dikuasai dan ditaklukan, sebagai batu loncatan menuju konflik yang lebih luas yang akan mengarah pada transformasi regional yang luas dan menciptakan perdamaian yang ditegakkan oleh imperium Amerika. Semua “cita-cita” tersebut diperlancar oleh industri perminyakan Timur Tengah.

Dengan menggunakan Irak sebagai titik lompatan, mereka akan menjatuhkan rezim demi rezim, mengibarkan bendera penuh bintang-bintang dan garis-garis ketika mereka pergi (simbol bendera AS), dan kemudian menyaksikan perdamaian dan kemakmuran berkembang seperti gurun yang ditumbuhi bunga-bunga yang mekar.

Kawah konflik yang tampaknya tak berujung itu akan segera menjadi surga demokratis yang bahagia yang dipenuhi dengan pelanggan McDonald yang mengikat tali sepatu Nike baru mereka dengan jari-jari berwarna ungu dari pemungutan suara. Yang dibutuhkan orang-orang Bush itu adalah katalis, “Pearl Harbor baru”. Ketika orang-orang itu turun, mereka mengkritik tentang kebijakan dalam perang-perang itu, dan AS terus terjebak di dalamnya.

Baca juga:

 

Rencana Mereka Belum Berjalan Sesuai Rencana

Tentu saja, mereka kini terjebak dalam perang tanpa henti, dan teman-teman mereka semua mendapat keuntungan yang banyak dari perang tersebut. Tentu, budaya secara umum, setelah bertahun-tahun penuh darah, bercokol dalam mentalitas hobi perang, pemujaan rasis, sehingga melupakan kenyataan bahwa Donald Trump yang rasis itu benar-benar menjadi presiden … tetapi damai / kebebasan / demokrasi, semuanya gagal dijalankan.

Lima belas tahun setelah Bush memperluas perang yang dimulai ayahnya 27 tahun yang lalu, Irak adalah negara yang hancur. Suriah, negara tetangga Irak, juga ikut runtuh dalam kekacauan dan kekerasan setelah menyerap jutaan pengungsi dari Irak. Suriah juga menjadi kuburan akibat perang yang brutal. Mesir dan Libya berada dalam kondisi kerusakan sosial dan ekonomi yang beragam.

Baca juga:

Perang Arab Saudi yang sedang berlangsung di Yaman, yang dilancarkan dengan bantuan langsung AS yang dimulai selama pemerintahan Obama, telah mengubah negara itu menjadi tempat pembantaian dimana puluhan ribu orang telah tewas dan jutaan orang menghadapi ancaman kelaparan secara langsung.

Dan kemudian, tentu saja, ada Afghanistan, perang yang tampaknya hampir dilupakan oleh semua orang, di mana AS masih berjuang. Perang itu, yang terlama yang pernah terjadi dalam sejarah AS, akan menjadi semakin tua pada pemilu tahun depan. Bisa saja para pemilih terdaftar menjalani wajib militer dan dikirim ke Afghanistan. Perang itu telah mengambil nyawa hampir 4.000 tentara koalisi, kira-kira setengah dari mereka adalah pasukan AS. Tiga tentara AS tewas pada awal Desember, dan dua lainnya pada minggu sebelumnya. Lebih dari 20.000 tentara AS terluka dalam pertempuran.

Lebih dari 100.000 orang Afghanistan telah tewas, sekitar 30.000 dari mereka warga sipil. Dalam 10 hari terakhir di Afghanistan, 55 warga sipil tewas dan 94 orang terluka dalam pemboman bunuh diri di sebuah pertemuan agama. Dua tentara dan tiga petugas polisi tewas dalam insiden terpisah pada hari yang sama.

Pada 22 November, para pejuang Taliban dengan cepat mengeksekusi 11 petugas polisi lokal dan anggota milisi. Di AS, berita-berita langka tentang Afghanistan berkisar nasib suram yang mereka alami (“17 Tahun, Perang Afganistan Menemui ‘ Jalan buntu ’”) atau penuh bahasa kiasan (“Meningkatnya Kematian AS di Afghanistan, Mendung Gelap untuk Perdamaian”).

Baca juga:

Sampai saat ini, perang di Afghanistan menghabiskan biaya lebih dari $ 2 triliun, tetapi jumlah itu tidak memperhitungkan bunga pinjaman yang dikeluarkan AS untuk membayar hutangnya. Perkiraan konservatif untuk biaya semua perang saat ini mencapai sekitar $ 6 triliun, tetapi bahkan angka itu sebagian besar adalah dugaan karena pengeluaran dalam perang ini tidak tercatat dalam buku-buku, dan Pentagon belum dapat melakukan perhitungan sederhana selama beberapa generasi.

Irak, Afghanistan, dan sekarang Yaman. Pemerintah AS tidak berani membicarakan tentang perang-perang ini. Segala hal tentang perang umumnya tidak dimasukkan dalam skrip oleh acara berita TV, karena orang-orang kanan masih menghasilkan uang dari bisnis perang ini. Uang 6 triliun dolar itu tidak hilang; hanya pindah ke beberapa rekening orang-orang kelas atas.

Hampir tidak mungkin untuk tidak menjadi sangat sinis dalam menghadapi semua ini, tetapi ada sisa-sisa cahaya yang masih menembus kabut. Pada hari Rabu, Senat AS melemparkan batu bata besar ke jendela Gedung Putih setelah menyetujui perdebatan tentang RUU yang akan mengakhiri dukungan militer AS untuk perang biadab Arab Saudi di Yaman.

Sekitar 14 anggota Partai Republik, termasuk Lindsey Graham, Bob Corker, dan Mike Lee bergabung dengan Bernie Sanders dan seluruh Senator Demokrat dalam pemungutan suara untuk membuka debat, yang melewati margin 63-37. Debat ini dipicu oleh dukungan Donald Trump untuk Arab Saudi setelah pembunuhan jurnalis Washington Post dan kritikus perang Yaman, Jamal Khashoggi. Bagi Trump, uang yang dihasilkan dari perang lebih penting daripada sekadar kasus pembunuhan.

Voting untuk membuka debat tentang mengakhiri dukungan AS untuk perang Yaman bukan berarti AS akan benar-benar memilih untuk mengakhirinya. RUU untuk mengakhiri perang di Yaman mungkin tampaknya memiliki harapan kecil. Namun, meskipun banyak hal akan berubah pada bulan Januari, debat ini perlu segera dilakukan. Keterlibatan AS di satu sudut yang mengerikan dari perang yang lebih luas yang dimulai AS harus diakhiri.

Baca juga:

“Mari kita saling menatap mata,” tulis jurnalis Truthout, Robert Naiman, “dan berkomitmen bahwa kita akan mendorong dengan segala cara, menurut hukum dan non-kekerasan, yang diperlukan untuk memaksa sebanyak mungkin suara yang diperlukan di Senat dan Kongres sebelum Kongres berdiskusi, untuk mengakhiri perang Yaman dan menghentikan kelaparan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok-kelompok pemberi bantuan telah mengatakan dengan tegas bahwa harus ada gencatan senjata yang berkelanjutan saat ini, untuk memberi akses pada relawan dan segala jenis sumber daya masuk ke Yaman, yang diperlukan untuk menghentikan kelaparan. Tidak perlu menunggu bulan Januari. Sekarang juga.”

Saat ini, sebelum 17 tahun berlalu dan Yaman dilupakan bersama dengan Afghanistan, Irak dan banyak lagi.

 

Sumber:   truthout

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *