Zaitun dan Perlawanan Rakyat Palestina

Masa musim panen zaitun di Palestina baru saja berlalu, periode yang sangat ditunggu setiap bulan Oktober dan November. Ini adalah saat yang penting bagi ekonomi Palestina.

 

Amira Salman tidak dapat membayangkan hidupnya tanpa zaitun.

“Saya telah berkutat dengan zaitun selama 50 tahun. Semuanya saya hasilkan dari zaitun,” kata pria berusia 56 tahun itu, mengutip perkataan populer:“ Biji-bijian dan minyak adalah kebutuhan dasar dari setiap rumah.”

Bersama dua putranya, dia memanen zaitun di Deir Istiya, di wilayah Nablus di utara Tepi Barat yang diduduki. Sesuai dengan aturan tradisional, keluarga Salman akan menyimpan sepertiga dari buah zaitun yang akan dipanen, sementara sisanya menjadi hak pemilik tanah.

Masa musim panen zaitun di Palestina baru saja berlalu, periode yang sangat ditunggu setiap bulan Oktober dan November. Ini adalah saat yang penting bagi ekonomi Palestina. Menurut Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan, sektor perkebunan zaitun menghasilkan 15 persen dari total pendapatan pertanian. Panen zaitun mengurangi dampak pengangguran dan kemiskinan dengan menyediakan lapangan kerja.

Baca juga:

Delapan puluh persen lahan yang dibudidayakan di Tepi Barat yang diduduki dan Gaza digunakan untuk kebun zaitun, menurut PBB. Minyak zaitun yang mereka hasilkan sebagian besar dikonsumsi oleh pasar domestik. Kelebihan pasokan – rata-rata 4.000 ton per tahun telah diekspor, sebagian besar ke Israel, meskipun sejak awal intifada kedua pada tahun 2000, komoditas ini telah menyusut dan mendekati titik terendah sepanjang waktu.

Perkebunan zaitun membutuhkan sumber daya tidak hanya untuk memanen zaitun, tetapi juga untuk memanfaatkannya menjadi sabun, serta kayu yang digunakan untuk kerajinan. Pentingnya pohon zaitun bagi warga Palestina juga lebih dari sekadar nilai ekonominya, kata Baha Hilo, koordinator prakarsa LSM To Be There, yang bekerja untuk membawa orang-orang dari seluruh dunia ke Palestina untuk wisata pendidikan, termasuk selama musim panen zaitun.

Serangan

“Ada hubungan antara keluarga Palestina dan pohon zaitun masing-masing. Anda akan membuktikannya setiap kali buldoser Israel datang dan menghancurkan kebun zaitun. Cobalah Anda bertanya kepada keluarga Palestina: ‘Bagaimana rasanya?’ Mereka akan berkata: ‘Ini rasanya seperti seseorang telah membunuh keluarga saya’ atau ‘Rasanya seperti lenganku terpotong.’ Ada hubungan biologis antara Anda dan pohon zaitun yang selalu menghasilkan untuk Anda. Zaitun telah memberi Anda sarana penghidupan.”

Pohon zaitun telah menjadi bagian dari identitas Palestina, simbol perlawanan nasional dan ikatan dengan tanah Palestina. Aktivitas panen, terutama yang dekat dengan daerah pemukiman atau di daerah yang diblokade oleh tembok Israel di Tepi Barat, dianggap sebagai bagian dari perlawanan terhadap pendudukan Israel.

Baca juga:

Namun panen zaitun juga menjadi identik dengan serangan oleh para pemukim Israel terhadap para pemetik zaitun. Para pemukim ini secara rutin menghancurkan pohon dan mencuri buah zaitun. Sejak 1967, ketika Israel menduduki Tepi Barat, PBB memperkirakan bahwa sekitar 800.000 pohon zaitun Palestina telah tumbang, dibakar atau dirusak oleh para pemukim atau dibersihkan untuk permukiman Israel, pembangunan tembok dan langkah-langkah lain yang mengarah pada pendudukan Israel.

Di daerah yang dekat dengan permukiman Israel, warga Palestina perlu mendapatkan izin dari otoritas militer Israel untuk memanen zaitun. Izin tersebut biasanya diberikan hanya untuk beberapa hari.

Tahun ini tidak terkecuali, ketika serangan oleh pemukim Israel telah merusak pohon-pohon zaitun. Sejauh tahun ini, lebih dari 7.000 pohon zaitun telah dirusak oleh pemukim Israel.

Serangan pemukim selama panen telah dilaporkan terjadi di Turmusaya dekat Ramallah; Burin, Haris, al-Lubban al-Sharqiya, semuanya di wilayah Nablus; begitu juga di desa Jit dan Deir al-Hatab, di mana para pemukim menyerang dua orang Palestina. Di Tel Rumeida di daerah Hebron juga terdapat kekerasan yang dilakukan pemukim Israel kepada para pemanen.

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan juga melaporkan kerusakan sekitar 700 pohon zaitun dan pencurian produk dalam lima insiden di desa al-Mughayyer (Ramallah), Burqa dan Tell (Nablus), al-Khader (Bethlehem) dan Desa Farata, antara Nablus dan Qalqiliya.

Layanan Perdamaian Perempuan Internasional, sebuah organisasi aktivis internasional yang berbasis di dekat Nablus, melaporkan serangan oleh para pemukim Israel terhadap pasangan Palestina yang memetik buah zaitun di desa Urif pada 8 November. Setelah serangan itu, tentara Israel memperpendek periode panen penduduk desa.

Terlepas dari ancaman dari pemukim Israel dan kesewenang-wenangan dari tentara Israel yang terus-menerus seperti itu, panen zaitun adalah masa solidaritas di antara orang-orang Palestina dan dengan dunia luar. Setiap tahun, orang-orang internasional datang untuk membantu para petani Palestina. Warga Palestina di luar perkebunan juga banyak yang menjadi sukarelawan, seperti Muhannad, berusia 26  tahun, yang merupakan bagian dari kelompok aktivis pemuda Anti-Pendudukan, yang berbasis di Hebron.

“Motivasi saya adalah untuk mendukung sumud [prinsip ketabahan] dan perlawanan untuk keluarga Palestina,” kata Muhammad, yang tidak ingin memberikan nama keluarganya. “Bagi kami, sangat penting untuk berada di sini sebagai orang Palestina, untuk membantu para petani tinggal di tanah dan di rumah mereka, karena kami tahu bahwa jika kami tidak datang ke sini, permukiman Israel akan meluas, dan bisa jadi permukiman liar Israel berikutnya akan dibangun di atas reruntuhan rumah saya.”

Orang Palestina juga melibatkan anggota keluarga besar mereka dalam melakukan panen. Setiap tahun, beberapa generasi bekerja berdampingan, mewariskan tradisi dan keterikatan terhadap tanah lahir mereka.

 

Sumber:  electronicintifada

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *