Baiat dan Deklarasi Jihad Ulama dan Pemimpin Aceh Melawan Agresi Belanda

Atas dasar wajib jihad yang diikrarkan bersama dalam musyawarah, maka para ulama aktif dalam mengambil peran penting, baik sebagai pemimpin perang maupun sebagai pengawas koordinasi perlawanan total rakyat terhadap Belanda.

 

Setelah beberapa tempat penting di Aceh Besar direbut oleh penjajah, keadaan sudah sangat kritis. Untuk mengatasi keadaan yang sudah demikian gawatnya, beberapa langkah penting diambil, sehingga situasi dapat dikendalikan kembali.

Kira-kira 500 orang pemimpin terkemuka mengadakan satu musyawarah dan kemudian mengikrarkan satu baiat (janji setia) di bawah pimpinan Imam Lungbata dan Teuku Lamnga; baiat yang diucapkan bersama dengan suara bergemuruh, yang menyatakan “wajib perang sabil” untuk mengusir kafir Belanda yang telah melakukan agresi terhadap Kerajaan Aceh Darussalam.

Atas dasar wajib jihad yang diikrarkan bersama dalam musyawarah itu, maka para ulama aktif dalam mengambil peran penting, baik sebagai pemimpin perang maupun sebagai pengawas koordinasi perlawanan total rakyat terhadap Belanda.

Baca juga:

Ketentuan-ketentuan terhadap rakyat awam, menurut keputusan musyawarah itu ialah:

  1. Sifat jihad, rakyat yang diwajibkan turut serta memanggul senapan atau kelewang (bertempur) adalah mereka yang sudah menyatakan diri secara sukarela untuk ambil bagian langsung dalam perang;
  2. Rakyat diwajibkan gotong-royong untuk segera memperbaiki Masjid yang rusak akibat perang supaya kewajiban ibadah tetap terpelihara;
  3. Rakyat diwajibkan gotong-royong untuk bersama-sama mengatasi akibat perang;
  4. Dalam masa perang dilarang mengadakan pertemuan-pertemuan sukaria yang tiada bertalian dengan agama, seperti seudati dan yang seperti itu;
  5. Setiap yang membutuhkan bantuan, wajib diberi bantuan oleh penduduk, terutama jika mereka memerlukan pemondokan dan persembunyian;
  6. Apabila diperlukan untuk membikin benteng (kuta), rakyat diwajibkan bergotong-royong;
  7. Ulama setempat berwenang memberikan bantuan dan/atau menerima pengaduan-pengaduan rakyat di dalam mengatasi kesulitan yang dideritanya.

Di samping konsolidasi dalam negeri yang berhasil dijalankan, Dewan Delapan yang berkedudukan di Penang dan diketuai oleh Teuku Paja juga menjalankan kegiatan diplomasi. Dengan suratnya yang bertanggal 20 Muharram 1291 (8 Maret 1874), dari Penang Dewan Delapan melaporkan kepada Kerajaan Aceh Darussalam dengan perantaraan Teuku Panglima Polem. Surat laporan yang mengandung dorongan bertempur disambut dengan hangat di Aceh.

Baca juga:

Di Lamsie, Aceh Besar, diadakan pula sebuah rapat rahasia yang dihadiri oleh Teuku Panglima Polem, Teungku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abee, dan sejumlah ulama-ulama dan uleebalang-uleebalang yang belum menyerah kepada Belanda. Yang menjadi tema pertemuan, yaitu menggiatkan perang jihad untuk mengusir Belanda.

Dalam rapat itu Teungku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abee menegaskan “bahwa tenaga perjuangan masih belum hancur seluruhnya, tetapi yang sudah kurang yaitu kesucian batin dan kekuatan iman,” yang akhirnya beliau menutup nasihatnya dengan kata-kata yang sangat berkesan:

“Sebelum kita memerangi musuh lahir, perangilah musuh batin dahulu, yaitu hawa nafsu. Harta rakyat yang ada pada kita masing-masing, yang telah diambil karena menurut hawa nafsu, serahkanlah kembali dengan segera.

Janganlah rakyat itu selalu teraniaya, tegakkanlah keadilan di tengah-tengah kita terlebih dahulu, sebelum kita minta keadilan pada orang lain. Bertobatlah, wahai teuku-teuku, dahulu sebelum mengajak rakyat memerangi Kompeni. Kalau tidak juga dikembalikan harta rakyat yang diambil dengan jalan yang tidak sah, yakinlah rakyat akan membelakangi kita dan kita akan tersapu bersih dari Aceh ini, melebihi dari yang sudah-sudah.

Kalau yang saya minta teuku-teuku penuhi maka saya akan bersama-sama teuku-teuku ke medan perang. Bila tidak, saya dan murid-murid saya jangan dibawa serta.”

Nasihat Teungku Tjhik Tanoh Abee ini dikuatkan oleh Teuku Panglima Polem, yang menganjurkan agar semua hulubalang kembali kepada ajaran Allah.

Baca juga:

Kaum mujahid yang bergerak sekitar Lembah Seulawah berkumpul mengadakan rapat rahasia di Gunung Biram, Seulimeum. Dalam rapat tersebut, kecuali membicarakan masalah taktik dan strategi perang gerilya melawan serdadu-serdadu Belanda, juga diputuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Pidie untuk Teungku Tjhik Dayah Tjut Tiro, yaitu Teungku Muhammad Amin, seorang ulama yang sangat besar pengaruhnya.

Dalam suatu pertemuan dengan para ulama dan pemimpin rakyat terkemuka di Tiro yang dipimpin oleh Teungku Tjhik Muhammad Amin Dayah Tjut, delegasi dari Gunung Biram mengemukakan kegawatan yang sedang melanda Aceh Besar. Akhirnya rapat memutuskan untuk membantu perang ke Aceh Besar dengan mengirim sejumlah ulama di bawah pimpinan kemenakan Teungku Tjhik Dayah Tjut sendiri, yaitu Teungku Haji Muhammad Saman yang baru kembali dari Mekkah, yang kemudian namanya termasyhur dengan “Teungku Tjhik di Tiro”.

Teungku Haji Muhammad Saman tidak saja mendapat mandat dan restu dari pamannya, Teungku Tjhik Dayah Tjut, tapi juga Sultan. Ia, yang sudah berkedudukan di Keumala, memberi wewenang kepadanya untuk memimpin “Perang Sabil” melawan Belanda dengan mengangkat beliau menjadi Wazir Sultan atau Menteri.

Baca juga:

Dalam perjalanan dari Tiro ke Aceh Besar, di berbagai tempat sepanjang jalan, Teungku Haji Muhammad Saman mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para ulama dan pemimpin rakyat dalam rangka mengobarkan semangat jihad, seperti di Garut, Padangtiji, Gunung Biram, Tanoh Abee, Je Alang, dan Lamsie. Para ulama dan pemimpin rakyat yang dijumpainya, termasuk Teungku Panglima Polem dan Teungku Tjhik Tanoh Abee, telah menjanjikan akan membantu usaha perang Teungku Tjhik di Tiro.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya Teungku Tjhik di Tiro membangun markas besarnya di Mureu dekat Indrapuri, dari sanalah beliau mengirim utusan ke segala penjuru Aceh untuk menemui para Ulama dan pemimpin rakyat, sehingga dalam waktu tiga bulan saja keadaan di seluruh Aceh, terutama di Aceh Besar, telah terbakar oleh panasnya api jihad.

 

Referensi:

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

Amirul Hadi, Exploring the Acehnese Conception of War and Peace (A Study of Hikayat Perang Sabi), First International Conference of Aceh and Indian Ocean Studies 24 – 27 February 2007.

Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1987

Paul Van T Veer, Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Diterjemahkan dari De Atjeh-Oorlog. PT. Grafiti Pers. 1985.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *