Imarah: Hancurkan Empat Desa, Bukti Peradaban Barat Merusak

 

Mereka selalu berteriak tentang hak-hak perempuan, anak-anak, hewan dan hak asasi manusia dalam pidato mereka tetapi kenyataannya, mereka adalah tentara Salib Barat dari abad pertengahan yang menyebarkan teror, kebodohan dan penindasan.

 

Dunia Barat, khususnya Amerika dan Eropa selalu mengklaim sebagai pemilik peradaban yang maju dan ingin menularkannya pada masyarakat di negeri-negeri lainnya. Namun kenyataannya jauh berbeda dari slogan tersebut. Buktinya adalah pembantaian masal yang terjadi di Afghanistan bulan lalu. Kali ini mereka tidak hanya membunuh 10 atau 20 warga sipil atau menghancurkan satu atau dua rumah, melainkan seluruh desa dihancurkan, rata dengan tanah.

Para penjajah menyerbu 4 desa di Lembah Sholten di Distrik Shigal, Provinsi Kunar, dan membunuh banyak warga sipil dan kemudian membombardir desa mereka. Puluhan wanita dan anak-anak di dalam rumah mereka terbunuh dalam pemboman, dengan jumlah yang dibantai mencapai 65 orang warga, sementara puluhan warga sipil yang terluka telah dibawa ke Rumah sakit Asad Abad dan rumah sakit lainnya.

Para warga setempat menderita kerugian finansial yang besar atas kebiadaban tersebut. Rumah mereka rata, semua barang-barang rumah tangga, makanan dan kendaraan hancur dan bahkan ternak mereka ditembak dan dibunuh. Para penjajah dan pemerintahan Kabul berusaha membenarkan tindakan terorisme mereka dengan mengklaim bahwa mereka pada awalnya diserang oleh Taliban dan warga sipil mungkin telah kehilangan nyawa mereka ketika mereka membalas serangan itu. Penduduk di daerah tersebut mengklaim bahwa tidak ada Taliban di daerah itu dan tidak ada serangan yang dilakukan terhadap penjajah dan pasukan rezim Kabul.

Akhir-akhir ini, penggerebekan dan pemboman yang menargetkan warga sipil semakin meningkat, ratusan warga sipil kehilangan nyawa, cacat dan menderita kerugian keuangan yang besar di berbagai bagian negara selama sebulan terakhir.

Peran organisasi-organisasi hak asasi manusia, media dan UNAMA dipertanyakan dengan banyaknya kematian warga sipil.

Integritas media dan organisasi-organisasi hak asasi manusia dilecehkan oleh para pembunuh berdarah dingin tersebut. Karena masyarakat menyaksikan kematian banyak warga sipil sementara media tidak membela dan tidak memberitakan secara jujur insiden tersebut atau bahkan mengaburkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.

Pasukan yang mengklaim dari negara yang beradab secara terang-terangan telah melanggar hukum dengan teror dan ketakutan yang mereka sebarkan. Sampulnya peradaban yang maju dan menjunjung tinggi HAM, tetapi justru digunakan untuk menegakkan hukum rimba, pembunuhan terhadap wanita, anak-anak dan ternak serta mencemari lingkungan. Mereka selalu berteriak tentang hak-hak perempuan, anak-anak, hewan dan hak asasi manusia dalam pidato mereka tetapi kenyataannya, mereka adalah tentara salib barat dari abad pertengahan yang menyebarkan teror, kebodohan dan penindasan.

 

 

Sumber:   alemarah

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *