Imarah Ajukan Syarat Jika Rezim Afghanistan Mau Berdamai

 

Khalilzad (negosiator Amerika) mengakui bahwa pemboman AS, dimanapun (di wilayah Afghanistan), adalah atas permintaan pemerintah Kabul.

 

Negosiasi dua hari berlangsung antara delegasi Imarah Islam dan utusan Amerika, Zalmay Khalilzad di ibukota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Bagian penting dari agenda negosiasi adalah penarikan tentara asing dari Afghanistan dan berakhirnya agresi Amerika. Di samping itu ada pembicaraan mengenai pembebasan tahanan, blacklist , pendirian kantor dan beberapa topik lain yang penting untuk kemajuan negosiasi dan membangun kepercayaan. Kesimpulannya, Amerika harus mengambil keputusan dalam hal ini sehingga niat baiknya untuk mewujudkan perdamaian menjadi jelas.

Pakistan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (yang telah mengakui pemerintahan Imarah Islam sebelum agresi AS) berpartisipasi dalam pertemuan itu sebagai pengamat. Pada hari kedua, pemerintahan Kabul mengirim delegasinya sendiri ke UEA yang ingin menghadiri pertemuan tersebut walaupun tidak diundang. Imarah Islam menentang upaya tersebut dan menegaskan kembali sikap tegasnya mengenai pemerintahan Kabul.

Mereka tidak punya kapasitas untuk menyelesaikan masalah bangsa kami. Karena itu, tidak diizinkan untuk berpartisipasi dan kami juga tidak ingin bertemu boneka semata. Mempertimbangkan poin-poin agenda yang dinyatakan sebelumnya, adalah tidak masuk akal berunding dengan pemerintah yang perannya adalah untuk melindungi pendudukan asing.

Ia tidak dapat dan tidak ingin mengakhiri agresi Amerika karena satu-satunya cara untuk mempertahankan pemerintah Kabul adalah berlanjutnya agresi tersebut dan satu-satunya fungsinya adalah untuk menegakkan dominasi Amerika atas wilayah dan rakyat Afghanistan.

Pemerintahan Kabul telah membuat perjanjian keamanan sejak awal untuk memperpanjang pendudukan asing. Ini memungkinkan musuh pendudukan untuk melakukan berbagai macam tindakan kriminal di Afghanistan dan mereka tanpa malu-malu bekerja sama dengan tentara Amerika dalam membantai bangsanya sendiri.

Sampai saat ini, rakyat Afghanistan menderita akibat dari perjanjian ini. Para penjajah dan anteknya menganggap darah rakyat kami sangat murah sehingga mereka menolak untuk tidak membunuh puluhan warga sipil yang tak bersalah dalam serangan dan serangan udara setiap hari.

Selama pertemuan itu Khalilzad sendiri mengakui bahwa pemboman mereka, di mana pun dilakukan, adalah atas permintaan pemerintah Kabul. Dari udara pesawat Amerika dan di darat pasukan Afghanistan sama-sama terlibat dalam serangan terhadap penduduk sipil yang tidak bersalah.

Mereka melakukan penggerebekan (rumah penduduk sipil) siang dan malam, pasukan boneka berkolaborasi dengan bos Baratnya yang tidak beradab dalam membantai orang tak berdosa, rumah-rumah dihancurkan tanpa alasan bahkan perempuan dan anak-anak tidak lepas dari kejahatan mereka.

Pemerintah Kabul tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah serius seperti; daftar hitam, kantor politik, dll. Ini adalah masalah yang berkaitan langsung dengan penjajah dan hanya mereka yang memiliki wewenang untuk membuat keputusan. Boneka-boneka itu terlalu kecil untuk menyelesaikan masalah ini.

Di sisi lain, jika pemerintahan Kabul ingin mencapai kesepahaman dengan Imarah Islam, maka terlebih dahulu mereka harus menghapuskan perjanjian keamanan dengan AS. Kemudian harus meminta maaf kepada rakyat Afghanistan atas dukungannya terhadap agresi Amerika, atas perjanjian keamanan yang dibuat dan kejahatan tidak manusiawi yang dilakukan.

Selain itu, harus berjanji untuk menghadirkan pelaku kriminal yang bersalah atas pengkhianatan terhadap bangsa dan melanggar hak asasi manusia di hadapan pengadilan Islam. Bila itu bisa dilakukan, ada kemungkinan Imarah Islam dapat melirik prospek untuk berbicara dengan pemerintahan Kabul.

 

 

Sumber:   alemarah-english

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *