Saat Orang Amerika Memahami Alur Pikir Osama dan Al-Qaeda

Saya adalah seorang penduduk asli New York yang keluarga dan lingkungannya langsung bersentuhan dengan kengerian 9/11.

Meski begitu, setelah lebih dari 17 tahun serangan terhadap pentagon dan menara kembar tersebut, ada baiknya kita merefleksikan motif bin Laden dan membahas fakta nyata bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak membuat langkah nyata untuk mengatasi keluhannya.

Sekarang adalah saat yang tepat. Militer AS masih terperosok dalam perang di Timur Tengah, dan saat ini tengah memasuki tahun ke-18 mereka. Biaya yang harus dibayar: 5,9 triliun dolar AS, 7,000 tentara AS tewas, dan setidaknya sekitar 480,000 penduduk lokal tewas, termasuk juga 21 juta pengungsian yang diciptakan oleh perang tersebut. Hasilnya adalah; lebih banyak ketidakstabilan, kekerasan, serangan terror global, dan reputasi AS hancur setidaknya selama satu generasi di dunia Islam.

Perlu bukti? Pertimbangkan jajak pendapat regular yang menunjukkan bahwa AS dianggap sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia. Bukan China, bukan Rusia, bukan Iran, atau bahkan Korea Utara. Tetapi Amerika Serikat.

Baca juga:

Mengapa, AS sangat tidak disukai dari Afrika Barat hingga ke Asia Selatan? Ini dapat dijelaskan salah satunya adalah hanya karena kehadiran pasukan AS di wilayah tersebut. Sebagai seorang sejarawan, saya dapat meyakinkan Anda bahwa rakyat tidak biasa dengan kehadiran pasukan negara lain. Nemun demikian, yang terjadi lebih dari sekadar kehadiran belaka. Dan intinya, Washington, yang bahkan tidak mau mempertimbangkan keluhan bin Laden dan para pengikutnya yang sudah dikomunikasikan dengan jelas, malah bersikap sebaliknya, yaitu melipatgandakan militerisme di wilayah-wilayah tersebut, sehingga mengubah keluhan al-Qaida menjadi perasaan ‘ketidakadilan’ di seluruh dunia Muslim.

Mari kita meninjau tiga keluhan utama dalam fatwa bin Laden tahun 1996 -yang pada dasarnya merupakan deklarasi perang- terhadap AS, dan kemudian ia akan melihat kebijakan kontemporer dari Washington mengenai masalah-masalah ini:

  1. Bin Laden keberatan dengan adanya pangkalan militer AS di Arab Saudi secara khusus, dan di wilayah lainnya secara umum, karena kedekatannya dengan kota suci Mekkah dan Madinah. Selanjutnya, bin Laden mengkritik dukungan AS terhadap rezim dispotik kerajaan Arab Saudi.

Namun alih-alih menarik pasukannya ‘dari pantai’, militer AS malah memperluas wilayah pangkalannya, baik di Timur Tengah maupun di seluruh dunia. Meskipun dengan terjadinya pembantaian di Yaman dan pembunuhan terhadap jurnalis Washington Post, menjadikan Washington tidak mendukung sistem monarki Saudi. AS bahkan telah menegosiasikan kontrak senjata dengan kerajaan Saudi senilai 110 miliar dolar. Jelas, Washington hanya melipatgandakan pasukannya, dan tidak menggubris keluhan pertama.

  1. Pimpinan al-Qaida menyesalkan terjadinya blockade yang menyebabkan kelaparan oleh Barat -yang dipimpin oleh Washington- yang terjadi pada masa rezim Saddam Hussein di Irak setelah Perang Teluk pada 1991.

Jangan salah paham: Saddam bukanlah teman bin Laden -malah pada kenyataannya mereka adalah musuh bebuyutan-, tetapi kematian sekitar 500,000 anak-anak Irak yang dilaporkan, menjadi keprihatinan tersendiri bagi bin Laden. Blockade tersebut sangatlah ketat dan korban dari pihak sipil juga sangat banyak, sehingga kepala bantuan PBB, Denis Halliday, mengundurkan diri sebagai bentuk protes pada tahun 1998. Nampak jelas bahwa respon pemerintah AS malah terlihat kasar dan tidak berperasaan.

Ketika Menteri Luar Negeri Madeleine Albright diwawancarai oleh ’60 Minutes’ pada 1996 dengan pertanyaan, ‘apakah harga setengah juta anak-anak yang meninggal layak dibandingkan dengan keuntungan dari sanksi tersebut?’, ia menjawab dengan dingin, “Saya pikir ini adalah pilihan yang sangat sulit, tapi harganya -kami pikir itu sepadan.”

Baca juga:

Hari ini, di samping invasi AS ke Irak yang tidak beralasan pada 2003 (yang mengakibatkan setidaknya 200,000 korban sipil), AS juga terlibat dalam blockade terbaru di Yaman. Laporan terbaru menyatakan bahwa sekitar 85,000 anak-anak Yaman telah meninggal karena kelaparan dalam perang selama 3 tahun di negara Arab termiskin tersebut. Tidak merasa gentar, AS masih terus memberikan amunisi, informasi intelijen, dan pengisian bahan bakar pesawat untuk militer Saudi. Kejahatan perang yang sesungguhnya inilah yang menjadikan masyarakat yang anti-Amerika meningkat sama kuatnya seperti pada tahun 1990.

 

Lanjut ke halaman berikutnya….

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *