Saat Orang Amerika Memahami Alur Pikir Osama dan Al-Qaeda

  1. Bin Laden, sama seperti Muslim pada umumnya, merasakan simpati terhadap nasib buruk orang-orang Palestina yang dijajah selama beberapa generasi, dan juga membenci dukungan sepihak AS untuk militer Israel dan apparat pemerintahannya. AS hampir menjadi negara yang satu-satunya bersedia untuk melanggar hukum internasional, (resolusi PBB) dan rasa kemanusiaan mereka malah membuat mereka mendukung Israel semenjak tahun 1948.

Di sini lagi-lagi, tidak ada yang berubah. Washington melipatgandakan semuanya. Israel masih menjadi negara utama yang menerima bantuan militer dari AS, dengan hampir tanpa syarat. Media AS dan para pembuat kebijakan di Washington jarang menyebutkan tentang pembantaian demonstran Palestina yang tak bersenjata di sepanjang Jalur Gaza selama delapan bulan terakhir. Di mana korbannya sangat mengejutkan: 5,800 orang terluka dan sedikitnya 180 orang meninggal sejak Maret lalu.

Media mainstream AS mungkin tidak meliput dan menayangkan hal ini, tetapi siapa yang melakukannya? Sekian juta umat Muslim di seluruh dunia. Bahkan, demo yang sedang berlangsung, sebagian dimulai sebagai bentuk tanggapan terhadap keputusan -hampir sepihak- presiden Trump untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, suatu langkah yang pada dasarnya mengumumkan bahwa di mata Amerika, kota suci hanyalah milik umat Yahudi saja.

Baca juga:

Alasan di balik setiap sikap keras kepala dan bodohnya Amerika dalam urusan Timur Tengah bukan hal yang mengejutkan lagi. AS adalah negara yang dibangun di atas ideologi millenarian, yang didorong oleh misi untuk menyebarkan pesannya ke seluruh dunia. Rakyat -dan pemerintah- yang telah disuntik dengan ideologi semacam ini tidak mungkin menunjukkan kerendahan hati untuk kemudian berkaca dan mengakui kesalahannya.

Hal itu menjadi lebih mustahil lagi setelah terjadinya 9/11, ketika emosi memuncak dan nasionalisme menjadi bahan permainan. Namun demikian, bahkan pada masa-masa seperti itu, muncul suara-suara dari orang-orang yang dapat dipercaya untuk mempertanyakan kesibukan Amerika dalam berperang; seperti para sarjana, termasuk Noam Chomsky dan Robert Fisk, dan bahkan para comedian seperti Bill Maher.

Tujuh belas tahun dalam perang terpanjang sebuah negara, ada banyak alasan penting untuk kembali meninjau ulang keluhan-keluhan bin Laden, mempertimbangkan argumennya, dan menunjukkan kekuatan karakter untuk menyetujui poin-poin tertentu. Ini adalah ketenangan, bukan menyerah. Lagipula, kesadaran diri adalah tanda kekuatan dan kedewasaan dalam negara maupun individu.

Setelah bertahun-tahun melakukan kebijakan kontraproduktif khas AS dan mengintervensi Timur Tengah, maka Amerika memiliki dua pilihan yang jelas: mengakui kesalahan dan mengubah kebijakannya, atau mengobarkan perang dunia tanpa batas pada sebagian besar umat Islam. Opsi pertama akan mengurangi kekerasan dan akan mengarahkan kita ke tanah air yang lebih aman, tetapi membutuhkan keberanian untuk menghadapi kebenaran yang membuat kita tidak nyaman, dan hal ini tidak bisa diterima oleh sebagian besar orang Amerika. Bin Laden memang teroris, tetapi bukan berarti dia bersalah atas semua hal yang telah terjadi.

 

 

Catatan: Pandangan yang diungkapkan di tulisan ini adalah pandangan penulis yang berkapasitas resmi, dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau sikap dari Departemen Angkatan Darat, Departemen Pertahanan, atau pemerintah AS.

Mayor Danny Sjursen, seorang penulis rutin di antiwar.com, seorang perwira Angkatan Darat AS dan mantan instruktur sejarah di West Point. Dia telah menulis memoar dan analisis kritis tentang Perang Irak, Ghost Riders of Baghdad: Soldiers, Civilians, and the Myth of the Surge. Dia tinggal bersama istri dan empat putranya di Lawrence, Kansas.

 

Sumber: antiwar

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *