Struktur Rahasia Imperium Amerika

Ayah saya adalah seorang dokter di Angkatan Laut Kerajaan Inggris, dan saya tumbuh besar dalam berbagai perjalanan dengan kapal-kapal antara pos-pos terakhir Kerajaan Inggris, yaitu Trincomalee, Gibraltar, Hong Kong, Malta, Aden, Singapura, dan tinggal di dalam dan sekitar galangan kapal angkatan laut di Inggris dan Skotlandia.

Pangkalan angkatan laut Inggris tempat saya dibesarkan dan imperium Inggris sekarang hanya menjadi bagian dari sejarah. Galangan Kapal Chatham, galangan yang berfungsi selama lebih dari 400 tahun, sekarang menjadi museum dan objek wisata. Galangan kapal Trincomalee, tempat saya dilahirkan, telah diberitakan sebagai tempat di mana Angkatan Laut Sri Lanka dituduh menyiksa dan menawan tahanan dari orang-orang Tamil selama perang saudara Sri Lanka.

Sejak akhir 1970-an, saya telah tinggal di California dan Florida, bergulat dengan kontradiksi imperium AS seperti halnya orang Amerika lainnya. AS tidak memiliki territorial imperium yang diakui secara internasional seperti Imperium Inggris atau Ottoman. Politisi Amerika secara rutin menyangkal bahwa Amerika Serikat tidak mempertahankan atau mengingingkan imperium, bahkan ketika mereka bersikeras bahwa kepentingannya telah meluas ke seluruh dunia, dan ketika kebijakannya berdampak pada kehidupan, dan mengancam masa depan, semua orang di mana pun.

Jadi bagaimana kita memahami fenomena imperium AS ini, sangat penting bagi seluruh kehidupan dan masa depan kita. Namun siapa sangka ada struktur imperium yang tetap tersembunyi dan terselubung?

Dalam buku Ethnographies of US Empire, yang disunting bersama oleh Carol McGranahan dari University of Colorado dan John F. Collins dari CUNY, dua puluh empat antropolog mempelajari kelompok-kelompok orang yang kehidupannya dibentuk oleh kekaisaran AS dan interaksi mereka dengannya. Subjek mereka berkisar dari masyarakat adat di AS dan Hawaii hingga pekerja call center di Filipina hingga orang-orang Diego Garcia yang diasingkan secara paksa.

Banyak etnografi menyoroti kontradiksi yang tampak dari kekaisaran global yang sebenarnya ada di dunia pasca-kolonial di mana hampir semua negara secara internasional diakui sebagai negara yang independen dan berdaulat.

Kedaulatan bertingkat

Entri terakhir dalam Etnhografi Kekaisaran AS sampai pada analisis paling komprehensif dari pola kedaulatan yang bertingkat dan kompleks yang akibatnya negara-negara yang merdeka secara formal dan warganya tetap berada di bawah kedaulatan imperium AS.

Bab ini, “From Exception to Empire: Sovereignty, Carceral Circulation and the Global War on Terror,” oleh Darryl Li, seorang profesor antropologi di Universitas Chicago, mengulas jejak sekelompok pria yang datang ke Bosnia Herzegovina dari sebagian besar negara-negara Arab untuk bertempur di pihak Muslim Bosnia dalam perang proksi yang didukung AS untuk memecah Yugoslavia pada 1990-an.

Pada tahun 2001, sebagian besar dari 660 pria ini telah membuat rumah baru di Bosnia. Banyak yang menikah dengan wanita Bosnia dan memiliki keluarga di Bosnia. Semua telah diberikan, kewarganegaraan Bosnia sebagai pengakuan atas peran mereka dalam kemerdekaan negara tersebut. Tetapi setelah kejahatan 11 September 2001, pemerintah AS melihat bahwa “mantan mujahidin” ini berbahaya, dan bersikeras bahwa mereka harus “didenaturalisasikan” dan “dipulangkan.”

Pada awalnya, ini dilakukan melalui proses “rendisi” di luar proses hukum, tetapi setelah 2005 dilembagakan dalam Komisi Negara beranggotakan sembilan orang (termasuk seorang perwira Angkatan Darat AS dan seorang pejabat imigrasi Inggris) untuk mencabut kewarganegaraan orang-orang Bosnia. Sebuah “Pusat Penerimaan untuk Migran Khusus,” sebuah penjara yang dibangun dengan biaya Uni Eropa di tepi kamp pengungsi untuk orang-orang Serbia Bosnia di Lukavica di pinggiran Sarajevo; dan “Layanan untuk Orang Asing” di bawah Kementerian Keamanan Bosnia, diorganisir, dilatih dan dilengkapi oleh penasihat AS dengan biaya dari pembayar pajak AS, untuk mengoperasikan penjara dan melakukan deportasi.

Darryl Li mengunjungi, mempelajari, dan tetap berhubungan dengan beberapa orang ini dan keluarga mereka di Bosnia selama beberapa tahun. Dia mengamati bagaimana peran AS dengan hati-hati disembunyikan di belakang dan dioperasikan melalui kedaulatan resmi Bosnia Hercegovina; dan juga bagaimana nasib kelompok pria dari berbagai kebangsaan diatur oleh hubungan imperium AS dengan berbagai negara tempat mereka berasal dan ke tempat mereka dapat “dipulangkan.”

Kebanyakan pria Mesir dikirim kembali ke Mesir, sekutu AS yang dapat diandalkan, tempat mereka dipenjara, disiksa dan, dalam banyak kasus, menghilang, menurut keluarga mereka. Sebaliknya, enam pria dari Aljazair dibawa ke kamp konsentrasi AS di Teluk Guantanamo di Kuba. Mereka dipenjara di sana sampai mereka memenangkan kasus di Mahkamah Agung AS yang memungkinkan mereka untuk menuntut habeas corpus di pengadilan AS, dan mereka akhirnya dibebaskan pada 2009, 2010 dan 2013.

Seorang lelaki Suriah-Bosnia bernama Abu Hamza menjadi pemimpin perlawanan de facto terhadap denaturisasi dan deportasi. Dia dipenjara selama 7,5 tahun di penjara Lukavica, selama AS dan sekutunya menjalankan perang perang proksi yang gagal, untuk menempatkan rezim yang lebih patuh di Bosnia. Dia akhirnya dibebaskan pada tahun 2016, dan bergabung kembali dengan keluarganya di Bosnia.

Ketika Darryl Li pertama kali mengunjungi Abu Hamza di penjara di Lukavica pada 2009, ia mengenakan jalabiyya oranye dan topi bisbol, di mana ia menempelkan kata “BOSNIATANAMO.” Dia telah membuat seragam ini untuk dirinya sendiri untuk menyoroti kesejajaran antara penderitaan para tahanan di Lukavica dan Guantanamo.

Bendera yang berkibar di atas gerbang penjaga penjara di Lukavica adalah bendera Bosnia dan Uni Eropa, dan AS secara resmi terlibat dalam pemenjaraan orang-orang di sana hanya melalui saluran diplomatik, bantuan dana dan bantuan pelatih dan penasihat Amerika. Namun imperium AS adalah kekuatan terselubung di balik keberadaan penjara dan semua yang terjadi di sana.

Darryl Li membandingkan nasib para lelaki di Bosnia dengan kasus-kasus lain penahanan AS pasca 9/11, dan menemukan pola serupa di seluruh wilayah gulag (pemerintahan boneka yang menjalankan sistem kerja paksa dan represi) Amerika, di mana nasib orang-orang dari negara-negara tertentu sangat ditentukan oleh sifat hubungan AS dengan negara-negara yang terlibat.

Sebagai contoh, empat pria Inggris yang ditahan di Pakistan dan dikirim ke Guantanamo adalah di antara tahanan pertama yang dibebaskan dan dipulangkan, dan kembali ke rumah untuk kehidupan yang relatif normal di Inggris. Sebaliknya, Li bertemu dengan seorang pria Palestina di Gaza pada 2007 yang “dipulangkan” “di sana meskipun belum pernah tinggal di sana sebelumnya. Ia lahir di Yordania dan dibesarkan di Arab Saudi dan Pakistan, tempat ia ditangkap dan diserahkan kepada pasukan AS. Setelah beberapa tahun di penjara militer dan CIA AS, kebanyakan di Afghanistan, ia dikirim kembali ke Yordania, diserahkan ke Israel dan dibuang ke Gaza.

Dalam semua kasus ini, Li mengamati bagaimana imperium AS mempertahankan kedaulatan sistematis dan menyeluruh atas orang-orang dan negara-negara yang terlibat, bukan dengan sepenuhnya mengabaikan kedaulatan Bosnia, Mesir, Inggris, dan negara-negara lain, tetapi dengan secara selektif dan oportunis menggunakan kekuatannya sendiri melalui sistem politik dan hukum mereka yang independen secara nominal dan rincian hubungannya dengan masing-masing.

Penelitian Darryl Li mengungkap sistem kedaulatan bertingkat internasional, di mana kehidupan orang-orang tunduk pada kedaulatan imperium AS yang meluas serta kedaulatan negara mereka sendiri.

 

Baca halaman selanjutnya: Empirium Tanpa Terkecuali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *