Cuaca Ekstrim, Pengungsi Suriah Dilanda Badai Salju dan Banjir

Dengan sedikit bantuan dari pihak berwenang, para pengungsi Suriah yang tinggal di kam- Lembah Bekaa berani menghadapi banjir yang sedingin es. Lagi dan lagi.

Tarima Ibrahim meringkuk bersama anak-anaknya untuk menghangatkan diri mereka saat terjadi hujan yang terus-menerus, bersamaan dengan angin kencang dan hujan es yang menampar tenda terpal mereka dan mengancam keadaan kamp pengungsian mereka.

“Kami kedinginan,” katanya. “Tendanya tidak cukup hangat karena dibanjiri oleh air yang sedingin es.”

Lebanon dilanda badai Norma pada 6 Januari, yang merusak 360 kamp pengungsi informal dengan sangat parah, dan membuat 850 kamp pengungsian lainnya dalam keadaan bahaya. Negara ini adalah rumah bagi lebih dari satu juta pengungsi Suriah, dan banyak di antara mereka yang hidup di dalam bangunan sementara, seperti tenda.

Kamp yang dihuni Tarima, Ali Askar, terletak di dekat pegunungan Qalamoun yang tertutup salju, di daerah yang disebut Bar Elias di Lebanon. Daerah tersebut termasuk salah satu daerah yang paling parah terkena badai.

Mengarungi air setinggi lutut, Tarima menunjuk ke peralatan-peralatan yang mengapung, jaket yang basah, dan selimut yang meneteskan air di tendanya. “Kami kehilangan rumah di Suriah, sekarang kami kehilangan segala yang kami miliki di sini,” katanya.

Pada tahun 2015, Tarima meninggalkan Homs di Suriah dan pindah ke Lembah Bekaa di Lebanon. Dia mengatakan bahwa dia mungkin telah menyelamatkan keluargaknya dari perang, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara melindungi mereka dari murka alam.

Menurut Badan Pengungsi PBB, UNHCR, ada setidaknya 70,000 orang yang berada dalam resiko karena cuaca ekstrim, lebih dari setengahnya adalah anak-anak. Bencana alam tersebut telah merenggut korban pertamanya, seorang gadis delapan tahun yang tersapu banjir di wilayah Minieh.

Tarima takut akan kehilangan anak-anaknya karena badai. “Sebelumnya saya khawatir mereka akan ditelan oleh banjir, dan sekarang saya mengkhawatirkan penyakit,” katanya.

Putranya yang berumur 18 bulan, Ahmad, sekarang tengah mengalami demam tinggi selama lebih dari seminggu, tetapi belum pergi ke dokter.

“Tidak ada obat-obatan maupun dokter,” katanya. “Lihatlah air kotor ini. Tidakkah akan menimbulkan penyakit?” tambahnya. Anak-anaknya yang lain menderita pilek dan batuk, sebuah kondisi yang diderita banyak anak di kamp tersebut.

“Tidak ada makanan juga. Anak-anak saya belum minum susu selama lebih dari seminggu,” kata Tarima. Ia juga menambahkan bahwa ia kehilangan makanan yang telah dia simpan karena air. Dan sekarang ia menunggu LSM setempat di Lebanon agar dapat menyediakan bantuan apapun semampu mereka.

Lisa Abou Khaled, juru bicara UNHCR, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa organisasi tersebut telah mulai memompa air di kamp-kamp di Lembah Bekaa. Dia mengatakan bahwa hal tersebut, “menjadi tugas yang sangat menantang,” karena sebagian besar kamp-kamp di sana dibangun di bawah ketinggian jalan, sehingga hujan terus menggenang di kamp-kamp tersebut.

“Baik di Utara dan di Bekaa, situs-situs alternative telah diidentifikasi untuk mengakomodasi keluarga-keluarga yang terkena dampak badai,” kata Abou Khaled. Ia juga menambahkan bahwa sekitar 600 orang telah dipindahkan sejauh ini, dan beberapa telah pindah ke bangunan permanen dengan keluarga dan teman mereka. Sementara keluarga-keluarga lainnya mencari perlindungan di sekolah atau masjid terdekat.

Bersama dengan pihak berwenang dan mitra lokal, UNHCR telah mendistribusikan selimut, kasur, dan peralatan drainase, tambah Lisa.

 

Baca halaman selanjutnya: “Kolam Renang”

One Response
  1. March 29, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *