Dampak 15 Tahun Jihad Aceh: Belanda Kalang Kabut dan Minta Damai

 

Tentara Kompeni hampir tidak bisa bergerak: jalan kereta api dan jalan trem dirusak, kawat telepon yang menghubungkan benteng satu dengan yang lain digunting. Beberapa kelompok pasukan sabil berhasil menyusup melewati pagar besi sampai ke tengah-tengah daerah musuh dan mengamuk di sana. Banyak bencana yang mereka sebabkan; ada juga kaum wanita masuk ke dalam benteng musuh, dengan menyamar sebagai penjual makanan di siang hari dan pejuang gerilya di waktu malam.

 

Perang Sabil yang dilancarkan rakyat Aceh di bawah pimpinan para ulama, di mana Teungku Tjhik di Tiro duduk sebagai pemimpin tertinggi, benar-benar telah memusingkan kepala pimpinan Angkatan Perang Hindia Belanda. Banyak tentaranya yang sudah tewas menjadi korban, perang yang berkepanjangan yang sudah berjalan 15 tahun benar-benar menguras keuangan penjajah Belanda.

Teungku Tjhik di Tiro, Syekh Saman, dan barisan perang sabilnya yang berjumlah 6.000 orang menggencarkan serangan pada garis pertahanan lawan. Ia mendirikan benteng-benteng yang berderet letaknya, seolah-olah mengurung Kompeni dalam garis konsentrasinya. Benteng-benteng ini memungkinkan pasukannya melakukan aksi sewaktu-waktu. Dari benteng-benteng ini keluar kelompok-kelompok kecil, yang menyeberangi garis demarkasi Kompeni yang lebarnya 1 km dan sampai ke batas pagar-besi Kompeni.

Baca juga:

Beberapa kelompok pasukan sabil berhasil menyusup melewati pagar besi sampai ke tengah-tengah daerah musuh dan mengamuk di sana. Banyak bencana yang mereka sebabkan; ada juga kaum wanita masuk ke dalam benteng musuh, dengan menyamar sebagai penjual makanan di siang hari dan pejuang gerilya di waktu malam. Kian besar kemenangan mereka, kian hebat pula anjuran penyair Hikayat Perang Sabil untuk melakukan perang sabil.

Tentara Kompeni hampir tidak bisa bergerak: jalan kereta api dan jalan trem rusak, kawat telepon yang menghubungkan benteng satu dengan yang lain digunting. Menurut catatan administrasi ketentaraan, kawat yang hilang dirampas dalam setahun saja panjangnya mencapai 51 km.

Korban dari pihak NIL tahun 1879 berjumlah 865 orang. Dari kalangan tawanan perang yang dipaksa berperang dari 3.200 orang 1.548 diantaranya tewas. Korban di pihak Aceh tidak diumumkan. Namun, Jenderal Van Swieten memperkirakan antara tahun 1874–1880 sekitar 3.000 orang Aceh gugur dan 400 sampai 500 kampung dibakar.

Baca juga:

Ketika para penjajah semakin terdesak mereka minta pada para peminpin perang sabil untuk berunding. Menanggapi ajakan penjajah untuk berdamai, para ulama di Aceh mengajukan prasyarat yang mencengangkan Belanda. Teungku di Tiro juga menulis surat kepada Residen Van Langen, yaitu memajukan syarat-syarat perdamaian di Aceh agar dapat dilaksanakan perundingan damai (bunyinya antara lain):

“Setahun yang lalu kami dalam sebuah surat kepada Tuan tentang mengadakan perdamaian memajukan dengan tegas syarat kami: Tuan Besar masuk dalam agama Islam dengan mengucapkan Syahadat maka kami sudi mengadakan perjanjian dengan Tuan.”

Demikian mulai surat Ulama yang masyhur itu. Ia menguraikan pula betapa lemah kedudukan Kompeni sejak ia mengurung diri dalam daerah konsentrasi :

“Tapi, hingga sekarang kami tidak mendapat balasan dari Tuan atas surat kami. Sesungguhnya, apabila Tuan-Tuan memeluk agama Islam dan mengikuti Sunnah Rasul Allah, ini adalah yang sebaik-baiknya bagi Tuan-Tuan. Tuan akan selamat di dunia, tidak akan menderita bahaya dan ancaman dibunuh, tidak dihinakan harus lari menyelamatkan diri lewat sawah-sawah, pipa air, hutan, dan jalan; sedangkan sekarang kehinaan yang sebesar-besarnya menanti Tuan, yakni bahwa Kompeni harus meninggalkan Aceh seluruhnya, miliknya dirampas semuanya oleh tangan kaum muslimin Aceh yang miskin dan lemah ini! Malapetaka yang paling besar masih menanti Tuan; ialah hukuman hari kiamat, yakni di neraka, menurut hukum Tuhan Seru Sekalian Alam!”

Pemerintah Belanda tidak segera memberi jawaban atas ancaman ulama ini. Pemerintah di Den Haag baru mendapat “jurus yang tepat untuk menjawab tuntutan yang diajukan itu” pada tahun 1888 Menteri Daerah Jajahan Keuchenius menulis di Buitenzorg :

“Tuntutan yang tidak benar, bahwa kita harus masuk agama Islam, agaknya akan diakui juga oleh Teungku di Tiro, kalau ia membaca ayat 257 Surah ke-2 dari Al-Qur’an yang berbunyi: ‘Janganlah ada paksaan dalam agama; siapa yang menyangkal tahyul dan percaya Allah, dialah bersandar pada tongkat yang tidak akan patah-patah’.”

Baca juga:

Surat dari menteri jajahan negeri Belanda yang berusaha untuk mengutip ayat Al Qur’an namun celakanya ia salah menyebutkan ayat, terjemahannyapun tidak tepat. Yang benar surat Al-Baqarah ayat 256 (bukan ayat 257 seperti yang disebut Menteri Jajahan Belanda tersebut). Terjemah lengkapnya: “Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu, siapa saja yang ingkar kepada thaghut dan beriman pada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Dari jawaban menteri ini terbukti betapa Pemerintah Belanda menyegani musuhnya. Sebaliknya, Belanda merasa malu, karena Aceh dalam waktu 15 tahun belum bisa ditundukkan, sedangkan di daerah lain kekuasaan penjajah semakin kokoh. Biaya perang sudah naik mencapai jumlah yang pada waktu itu adalah luar biasa besarnya, yaitu 1.5 juta gulden setiap bulan.

 

Referensi:

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1987

Paul Van T Veer, Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Diterjemahkan dari De Atjeh-Oorlog. PT. Grafiti Pers. 1985.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *