Era Baru Timur Tengah Tanpa Amerika

Ketika Turki, Iran dan Rusia bertemu untuk membicarakan tentang berakhirnya perang di Suriah, mereka melakukannya tanpa Amerika Serikat.

 

Pembicaraan damai untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina telah dibekukan selama bertahun-tahun, tetapi rencana Trump yang telah lama ditunggu-tunggu untuk memecahkan kebuntuan belum kunjung tiba.

Dan sekarang, meskipun ada pesan yang saling bertentangan tentang bagaimana dan kapan hal itu akan terjadi, Amerika Serikat sedang mengatur langkah untuk menarik diri dari Suriah.

Penarikan itu, yang militer katakan dimulai dengan pemindahan peralatan pada hari Jumat, hanyalah contoh terakhir dari memudarnya peran Amerika di Timur Tengah, yang dapat memiliki efek yang bertahan lama di sana, di salah satu regional yang paling bergejolak di dunia.

Ketika Amerika Serikat mundur, Rusia, Iran dan actor-aktor kuat di regional tersebut semakin melangkah untuk memetakan masa depan kawasan itu.

“Hal itu (penarikan mundur pasukan) bukan kabar yang bagus,” kata Richard Haass, presiden Dewan Hubungan Luar Negeri. “Hal itu adalah sebuah pemaksaan. Tidak liberal dalam semuanya, dan Amerika Serikat pada dasarnya telah kehilangan cara.”

Baca juga:

Sejak akhir Perang Dingin, Timur Tengah selalu menjadi prioritas dalam agenda kebijakan luar negeri Amerika. AS bercokol di sana di saat Perang Teluk Persia tahun 1990-91, dilanjurkan dengan invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003, dan momentum Musim Semi Arab dan pertempuran melawan Islamic State.

Para pemimpin Amerika telah menawarkan berbagai alasan atas jatuhnya korban nyawa dan harta di wilayah ini: untuk menggantikan kediktatoran dengan demokrasi, untuk meningkatkan supremasi hukum, untuk mendukung pemerintah sekutu dan untuk memerangi terorisme.

Namun bagi sebagian ahli kebijakan di kawasan itu, manfaat nyata dari semua tindakan AS itu lebih sedikit dibandingkan dengan besarnya usaha yang dilakukan Amerika.

“Ketika Anda melihat analisis biaya-manfaat, hanya ada hasil yang terbatas, dan Amerika Serikat akan mengurangi jejaknya dari waktu ke waktu karena ada begitu banyak hal lain yang harus dihadapi di dunia,” kata Gary Sick, seorang ahli Timur Tengah di Universitas Columbia yang bertugas di Dewan Keamanan Nasional di bawah tiga presiden AS.

Pandangan serupa tentang wilayah tersebut telah membentuk pendekatan baik pemerintahan Obama maupun Trump. Terlepas dari perbedaan drastis dalam kata-kata dan gaya mereka, keduanya telah memandang Timur Tengah terutama sebagai sumber gangguan yang menyedot sumber daya dari prioritas Amerika lainnya. Kedua presiden meminta kekuatan regional untuk memainkan peran yang lebih besar dalam melindungi dan memainkan pengaruh di regional tersebut.

Keinginan segera untuk mundur didorong oleh kelelahan pertempuran setelah bertahun-tahun pertempuran mematikan di Irak, dan perasaan bahwa investasi militer Amerika sering kali tidak membuat masalah menjadi lebih baik. Tetapi para ahli mengatakan bahwa pergeseran jangka panjang telah membuat wilayah tersebut kurang penting bagi prioritas Amerika.

Baca juga:

Perlindungan Amerika tidak lagi diperlukan untuk memastikan aliran minyak bebas dari Teluk Persia, misalnya, dan lonjakan produksi dalam negeri telah membuat Amerika Serikat kurang bergantung pada minyak Timur Tengah. Israel sekarang membanggakan militer paling efektif di kawasan itu dan ekonomi yang kuat sementara banyak negara tetangganya amburadul, menjadikannya kurang bergantung pada perlindungan Amerika.

“Kenyataannya adalah bahwa kepentingan langsung kita dalam hal melindungi tanah air Amerika sangat sedikit di Timur Tengah,” kata Sick, menambahkan bahwa catatan intervensi Amerika melakukan lebih banyak kebaikan daripada bahaya.

“Semuanya sangat kacau, dan saya tidak melihat mereka menjadi lebih baik dengan kehadiran kita dan saya tidak melihat mereka semakin buruk jika kita tidak ada di sana,” katanya.

 

Baca halaman selanjutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *