Bencana Alam, Konflik, dan Perubahan Tatanan Dunia

Kekalahan Prancis di Waterloo besar dampaknya terhadap Eropa. Kebangkitan nasionalisme Jerman yang memuncak pada Perang Dunia II dan lahirnya Inggris sebagai negara super power, menggantikan Prancis, pada abad 19 diyakini berawal dari Waterloo, buntut dari letusan gunung Tambora, Sumbawa.

 

Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis berpengaruh yang menaklukan hampir seluruh dataran Eropa akhirnya harus bertekuk lutut dalam pertempuran Waterloo pada Juni 1815. Sejarawan mencatat kondisi hujan dan berlumpur membantu tentara sekutu mengalahkan Bonaparte. Peristiwa kekalahan Bonaparte ini pada akhirnya mengubah jalannya sejarah Eropa. Namun siapa sangka, kondisi tak bersahabat yang dialami Bonaparte disebabkan oleh kekuatan alam yang berjarak ribuan kilomater. Tak lain adalah dampak dari erupsi gunung Tambora di Pulau Sumbawa yang menewaskan sekitar 100.000 orang, dua bulan sebelumnya. Selain membuat Bonaparte kalah telak, letusan Tambora juga berdampak pada penurunan suhu global yang membuat gagal panen serta kelaparan.

Pada tahun berikutnya, 1816, awan debu besar dan padat telah memasuki atmosfer dan bergerak melintasi sebagian besar dunia, mengganggu sistem cuaca di belahan bumi utara selama 1816 dan tiga tahun berikutnya. Hilangnya cahaya matahari menyebabkan banyak orang menderita efek psikologis kegelapan serta konsekuensi fisik dari suhu yang sangat rendah selama musim dingin vulkanik yang menggantikan musim panas 1816. Tak heran, fenomena alam itu dijuluki sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas”.

Perubahan iklim memunculkan hujan badai yang luar biasa dan kegagalan panen di seluruh dunia. Kelaparan, penyakit, kemiskinan, kerusuhan sipil dan migrasi massal terjadi.

Baca juga:

Pada tahun 1816, Irlandia menderita kelaparan terburuk: demam tifus meletus, menginfeksi 80.000 dan membunuh 44.000 lainnya. Di provinsi Yunnan di Cina, di mana panen mengalami kehancuran selama tiga tahun, mereka menanam bunga poppy sebagai alternatif dari beras yang lebih kuat dan menguntungkan, yang menjadi salah satu sumber opium utama China, dengan konsekuensi yang menghancurkan di dalam dan luar negeri.

Kegagalan panen yang berulang-ulang selama periode yang sama di Amerika Utara menyebabkan ekonominya jatuh pada tahun 1819. Di India, musim hujan yang terganggu sebagai dampak dari letusan Gunung Tambora memunculkan kolera baru yang hampir memusnahkan tentara Inggris di Teluk Bengal: epidemi menyebar ke luar negeri, termasuk ke Indonesia, di mana lebih banyak orang terbunuh oleh penyakit daripada yang mengalami kematian secara langsung akibat letusan gunung berapi tersebut.

Kekalahan Prancis di Waterloo besar dampaknya terhadap Eropa. Kebangkitan nasionalisme Jerman yang memuncak pada Perang Dunia II dan lahirnya Inggris sebagai negara super power, menggantikan Prancis, pada abad 19 diyakini berawal dari Waterloo.

Ilmu pengetahuan telah menunjukkan: Perbedaan rata-rata suhu global, meski hanya beberapa derajat, jauh berdampak pada hal lainnnya, seperti kekurangan makanan, keresahan politik, migrasi massal, dan penyebaran penyakit yang lebih cepat.

Itulah yang terjadi pada tahun 1815, gunung berapi bernama Tambora meletus, mengirimkan awan abu berukuran raksasa ke udara. Yang terjadi selanjutnya adalah serangkaian bencana yang mengerikan— mulai dari kelaparan di seluruh dunia hingga penyebaran kolera–pandemi pertama di dunia

Letusan terbesar dalam sejarah manusia

Ketika Tambora meletus pada bulan April 1815, ledakan itu sangat keras sehingga bisa terdengar hampir 2.000 km jauhnya. Ia mengirimkan 12 milyar ton batu meluncur ke stratosfer, mengurangi separuh ukuran gunung dan menciptakan awan abu seukuran negara Mesir. Sulfur dioksida (SO2) yang dilepaskan oleh ledakan kemudian didistribusikan ke seluruh dunia oleh angin, menghalangi sinar matahari, dan akhirnya mendinginkan atmosfer bumi. ”Rata-rata suhu di bulan Juli waktu itu lebih dingin delapan derajat dari biasanya,” kata Wolfgang Behringer, seorang profesor sejarah di Universitas Saarland

Tahun berikutnya, 1816, dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas.” Ditandai dengan hujan lebat, cuaca dingin, dan salju yang jatuh di tengah musim panas. Selama bulan-bulan yang dingin ini, di Amerika Serikat, tidak ada satu pun pohon yang tumbuh.

Tetapi, ada masalah yang lebih besar daripada pohon yang tidak tumbuh.

Baca juga:

 

Gejolak Sosial

Dunia hari itu mengalami gagal panen dan kelaparan. Begitu banyak orang menjadi miskin di Prancis, sehingga para wisatawan yang berkunjung mengira bahwa para pengemis adalah pasukan yang sedang berbaris. Ruprecht Zollikofer, seorang jurnalis Swiss yang menulis tentang kelaparan, menggambarkan pemandangan pada tahun 1817 sebagai berikut: “Jika seorang pengusaha berjalan di jalanan, ia akan dikejar oleh orang-orang yang malang. Ketika dia mendekati penginapannya, sepertinya dia didorong di sepanjang jalan oleh hembusan angin ketika ratusan dari mereka mengelilinginya.”

Saat orang-orang mulai putus asa, tingkat kejahatan meningkat. Di London, tingkat hukuman naik hampir empat kali lipat hanya dalam waktu dua tahun. Demikian pula, angka kematian di Eropa pada tahun 1817 naik 50% dibandingkan dengan tingkat yang sudah tinggi pada tahun 1815, yang merupakan akhir dari perang Napoleon.

Gejolak ekonomi dan politik

Menurut sejarawan ekonomi John Post, pergolakan itu pada akhirnya akan mengilhami rentetan otoritarianisme yang menandai lanskap politik Eropa pasca-Napoleon. Ketakutan akan kekurangan pertanian juga menyebabkan beberapa pemerintah mengadopsi kebijakan proteksionis; pada masa inilah tarif dan hambatan perdagangan (trade barriers) mulai muncul sebagai elemen standar sistem perdagangan transatlantik.

Di Skotlandia, Wales, dan Inggris, tentara harus dikerahkan untuk menghadapi demonstrasi. Pemerintah yang tidak bisa mempertahankan kontrol, seperti di China waktu itu, sangat lemah. Dalam bukunya, Behringer berpendapat bahwa ketidakmampuan China untuk mengelola gangguan pada tahun 1817 menjadi salah satu faktor penyumbang utama penurunan mereka sebagai kekuatan dunia pada abad ke-19.

Migrasi massal dan munculnya penyakit baru

Dalam menghadapi pergolakan sosial, banyak orang di Eropa memilih untuk mencari perlindungan di Amerika Utara, memicu salah satu gelombang migrasi terbesar dalam sejarah umat manusia. Tetapi para pendatang di New England mendapati kenyataan bahwa hujan yang berlebihan telah menghancurkan tanaman mereka di sana juga. Situasi menjadi begitu mengerikan, hingga membuat penduduk desa di Vermont dilaporkan hidup dari makan landak dan jelatang rebus.

Di luar konsekuensi politik, ekonomi, dan sosial, letusan di Tambora juga berdampak pada dunia kesehatan: Lapisan debu-sulfat yang dikeluarkan gunung berapi mengganggu musim hujan di Asia Selatan selama tiga tahun berturut-turut. Kondisi-kondisi ini pada gilirannya memunculkan epidemi kolera Bengali, yang menyebar ke seluruh dunia, menjadi pandemi kolera global pertama dan membunuh jutaan manusia.

 

 

Baca halaman selanjutnya: Apa yang bisa kita pelajari?

One Response
  1. January 26, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *