Bencana Alam, Konflik, dan Perubahan Tatanan Dunia

Memang, ada perbedaan signifikan antara letusan Tambora dan perubahan iklim saat ini yang membuat perbandingan langsung menjadi sulit. Pertama, perubahan Tambora mendadak dan tidak terduga, sedangkan perubahan iklim saat ini relatif bertahap. Kedua, saat ini, ekonomi global lebih terdiversifikasi dan saling berhubungan dibanding pada tahun 1800-an. Dan ketiga, aerosol yang dipancarkan oleh Tambora menyebabkan pendinginan planet ini, bukan pemanasan.

Tapi, Rüdiger Glaser, seorang ahli geografi yang mempelajari sejarah perkembangan iklim, memperingatkan bahwa keunggulan semacam ini tidak menawarkan penghiburan nyata. “Kita mungkin lebih ulet dalam satu hal, tetapi kita masih rentan dengan cara lain yang mungkin tidak kita sadari.”

Glaser melanjutkan dengan berpendapat bahwa tidak peduli seberapa maju ekonomi kita, tidak ada yang terlepas dari ketergantungan mendasar kita. “Kebutuhan dasar kita adalah makanan dan kesehatan,” katanya. Setelah ketahanan pangan terancam, kita semua menjadi rentan terhadap segala dampak yang terjadi pasca ledakan Tambora yang dijelaskan di atas–mulai dari pergolakan politik dan, pada akhirnya, migrasi massal dalam bentuk pengungsi.

Baca juga:

Musim Semi Arab, misalnya: Gelombang panas di Rusia, Kanada, dan negara-negara penghasil gandum terkemuka lainnya menjadi salah satu pemicu kenaikan harga roti. Dampaknya sangat terasa di dunia Arab, yang merupakan kawasan pengimpor gandum. Ketika pemerintah Suriah, Mesir, dan Tunisia gagal untuk memperbaiki efek ini, ketidakstabilan terjadi. Konsekuensi dari kerusuhan yang dihasilkan, setidaknya dalam kasus Suriah, masih dirasakan di seluruh dunia hingga saat ini. Menunjukkan bahwa peristiwa yang terkait iklim dan bencana alam dapat memiliki efek lanjutan yang drastis di ranah sosial politik lainnya.

Yang paling mengkhawatirkan, tidak seperti efek letusan Tambora, yang menghilang setelah sekitar tiga tahun, perubahan iklim modern tidak berakhir. Kali ini aerosol tidak akan menghilang, suhu global juga mungkin tidak akan kembali seperti sebelumnya, begitu juga curah hujan. Sehubungan dengan itu, akibat Tambora dan bencana alam lainnya seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kisah peringatan, tetapi sebagai prolog yang sangat serius.

 

 

One Response
  1. January 26, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *