Tidak Ada Jalan Keluar dari Perang Melawan Jihad Islam

Tidak kata cuti atau istirahat dalam kamus perang melawan jihad Islam

 

Donald Trump mengumumkan pada bulan Desember lalu bahwa AS akan menarik pulang pasukan dari Suriah, dan memangkas jumlah hingga setengah pasukan AS di Afghanistan. Pernyataan itu mengejutkan semua orang, termasuk di Pentagon, dan menghasilkan berbagai komentar. Hal yang hilang dalam sebagian besar retorika adalah konteks tentang sifat perang yang dilakukan AS di negara-negara tersebut.

Ada semua jenis perang di sana: perang konvensional dan non-konvensional, perang langsung dan perang proksi, perang etnis, politik, ekonomi dan agama. Perbedaan di antara perang-perang tersebut sangat penting; dan menjadi faktor penentu bagaimana AS memilih strategi untuk bermain di dalam perang-perang tersebut. Bagaimana AS bergelut dengan Cina atas Brasil, misalnya, atau dengan Rusia atas Venezuela, sangat berbeda dengan bagaimana AS harus memerangi para jihadis Islam di Suriah, Afghanistan dan Filipina.

Amerika Serikat sekarang terlibat dalam dua jenis perang yang sangat berbeda. Yang pertama adalah perang dingin yang berkembang dengan Rusia dan Cina atas kekuatan ekonomi dan politik. Itu adalah bagian dari pasang surutnya persaingan kekuatan besar, dan itu akan bertahan selama kekuatan besar bersaing atas pengaruh dan sumber daya. Perang ini terjadi di semakin banyak negara proksi, sebagian besar didorong oleh Cina yang baru saja memulai dominasi geostrategis.

Baca juga:

Yang kedua adalah perang religius dengan jihadis salafi. Perang ini sangat mematikan, dan juga terjadi di seluruh dunia ketika para jihadis ingin melakukan penaklukan dan membentuk pemerintahan Islam global. Timur Tengah adalah titik mulanya, tetapi medan perang utama di regional Asia dan Afrika tumbuh lebih kuat, dan jumlah front perang yang kecil semakin berkembang. Saat ini, sekitar setengah dari semua pemberontakan aktif dimotivasi sebagian atau seluruhnya oleh kelompok Islamis, dan sebagian besar mendapat dukungan tempur dari luar.

Perang agama adalah jenis yang berbeda. Perang ini bersifat ideologis, yang tidak bisa diatasi dengan solusi ekonomi atau politik atau sosial. Perang ini bisa bertahan selama berabad-abad, sampai ideologi agama yang mendorongnya bisa dikekang. Perang antara Islam dan Kristen, misalnya, telah berkobar sejak abad ke-7. Ini bukan perang menang-kalah, dan bahkan konsep perdamaian hanya bersifat sementara. Jihad Islam adalah perang semacam itu.

Sejak 9/11, AS sebagian besar telah memerangi jihad dengan operasi kontra-teror, memperkuat pasukan militer sekutu, kontra-pemberontakan, dan operasi penjagaan stabilitas. Seperti yang ditunjukkan dalam kekalahan ISIS 2017-2018 di Irak dan Suriah, operasi kontrateror yang agresif dapat terbukti sangat efektif dalam jangka pendek.

Karena itu tidak mengherankan bahwa perdebatan tentang meninggalkan Suriah telah menjadi perhatian utama. Lagi pula, AS tidak pernah pergi ke Suriah untuk jangka panjang, dan AS tidak boleh tinggal di sana setelah menyelesaikan pekerjaan. Ada terlalu banyak medan perang yang bersaing menuntut perhatian, meskipun terlalu sedikit jumlah pasukan khusus untuk melakukan operasi. Di Suriah, pekerjaan akan dinyatakan selesai ketika militant terakhir ISIS terakhir berhasil diburu, dan beberapa militan yang selamat diserahkan kepada musuh-musuh mereka.

Baca juga:

Afghanistan berbeda. Untuk AS, perang dimulai sebagai “perang tidak konvensional” melalui dukungan untuk perlawanan anti-Soviet. Setelah 9/11, perang itu menjadi operasi kontrateror terhadap Al Qaeda. Perang tersebut kemudian berubah menjadi perang etnis Pashtun, yang berjuang melalui operasi kontra-spektrum penuh. Seandainya perang itu hanya perang etnis, itu mungkin dapat diselesaikan melalui pembagian kekuasaan, pelimpahan wewenang kepada kelompok-kelompok etnis lokal, atau bahkan pembubaran negara. Skenario-skenario itu, bagaimanapun, telah diambil alih oleh peristiwa.

Afghanistan adalah pusat dari jantung bersejarah bagi Salafi-jihadi di Khurosan, dan dalam beberapa tahun terakhir, Afghanistan telah menjadi teater terbesar kedua dalam jihad global. Lingkungan Afghanistan-Pakistan menjadi tuan rumah bagi konsentrasi kelompok teroris terbesar di dunia, termasuk 20 dari 61 kelompok yang dituding oleh AS sebagai organisasi teroris asing. Perang ini sekarang bersifat religius dan juga etnis. Pembangunan bangsa, pengamanan, demokrasi dan stabilitas adalah semua upaya yang baik, tetapi mereka tidak akan memperbaiki perang etnis-agama ini.

Hal yang diperlukan untuk memerangi jihad global adalah jaringan yang kuat dari platform kontrateror di wilayah-wilayah di mana kelompok jihad aktif beroperasi. Afghanistan harus menjadi pusat jangka panjang utama untuk Asia tengah dan barat daya, seperti Jerman dan Jepang setelah Perang Dunia II dan Korea Selatan setelah tahun 1953. Jika AS tidak melakukannya sekarang, AS akan dipaksa melakukannya esok hari.

AS akan berperang selama beberapa generasi, dan tidak hanya di sana. Para jihadis akan memicu perang suci di kota-kota mereka dan di kota-kota Amerika, seperti yang mereka lakukan sekarang di London dan Paris dan Roma. Sampai unsur-unsur paling ganas dari ideologi Salafi dinetralkan, satu-satunya cara untuk memerangi mereka adalah dengan membiarkan perang tetap berjalan. Dan lupakan gagasan bahwa AS bisa meninggalkan perang, di Suriah, Afghanistan, atau di medan perang lainnya.

 

Sumber: thehill

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *