Menyerahnya Sang Habib Setelah 14 Tahun Berjuang

Habib Abdurrahman dianalogikan sebagai: “Kunci satu-satunya yang dapat digunakan penjajah Belanda untuk masuk ke Aceh.” Walau “kunci” yang dimaksud tidak digunakan secara mutlak, tapi setidaknya, penjajah Belanda telah berhasil masuk ke Aceh dengan petunjuk yang didapat dari “kunci” tersebut.

 

Membaca sejarah Aceh, khususnya yang menyangkut konfrontasi antara penjajah Belanda dan Kesultanan Aceh –yang kemudian dinamakan Perang Aceh (1873-1903)– tidak terlepas dari sosok-sosok yang memiliki peranan penting dalam internal kekuatan Kesultanan Aceh (1496-1903), yang kemudian membelot kepada penjajah Belanda: pengkhianat. Salah satu sosok yang menonjol yang sering disebut sebagai pelaku pengkhianatan adalah Sayyid Habib Abdurrahman al-Zahir (1832-1896).

Habib Abdurrahman yang memangku jabatan perdana menteri Aceh, seorang Arab, yang banyak sekali merepotkan Belanda. Sama seperti Teuku Maharaja Panglima Tibang Muhammad alias Panglima Tibang yang merupakan orang asing yang berasal dari India dan berjasa besar pada penjajah  Belanda dalam Perang Aceh, Habib Abdurrahman al-Zahir juga tak lain adalah orang asal Arab yang datang ke Aceh pada tahun 1864, setelah sebelumnya singgah di banyak tempat.

Baca juga:

Sebagai orang yang berasal dari Timur Tengah, Abdurrahman sudah sering bertinteraksi dengan pendatang-pendatang asal Aceh yang berkunjung ke Mekkah. Tak heran, bila ia dapat dengan mudah diterima oleh petinggi-petinggi Kerajaan Aceh untuk diposisikan sebagai mufti sekaligus imam masjid kerajaan selama beberapa tahun.

Dua orang terkenal yang berkhianat. Panglima Tibang dan Habib Abdurrahman.

Pada bulan April 1873, Abdurrahman tiba di Mekkah, untuk memperbarui hubungan lama –antara Aceh dan Turki– dan menyampaikan sepucuk surat dari Sultan Mahmud (Aceh) yang berisi keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih erat antara Turki dan Aceh. Ketika mendengar kabar bahwa perang (Aceh) telah pecah, Abdurrahman bergegas menuju Konstantinopel (kini Istanbul) bersama Nyak Abas –seorang pemilik kebun lada yang melakukan perjalanan bersama Abdurrahman dari Penang (sekarang wilayah Malaysia).

Baca juga:

Abdurrahman tiba di ibukota Turki (Ottoman) itu pada tanggal 27 April, saat pasukan penjajah  Belanda baru saja mundur ke kapal-kapal mereka di pantai Aceh; sebab tak mampu menerobos pertahanan pasukan Aceh, yang kala itu masih tangguh saat penjajah  Belanda melancarkan agresi pertamanya tersebut.

Sayyid Habib Abdurrahman tatkala berada di Istanbul pada tahun 1873.

Dokumen-dokumen surat ini mencakup surat permohonan dari Sultan Mahmud kepada Turki untuk memperbarui status lama Aceh wilayah yang mendapat pelindungan (protektorat) Turki, guna menangkal agresi militer penjajah  Belanda. Abdurrahman berada di Turki tatkala Kerajaan Ottoman sedang dalam keadaan huru-hara. Stabilitas politik Turki sedang terguncang. Harapan untuk melibatkan Turki dalam Perang Aceh sangatlah tipis.

Van der Heijden diperintahkan mengejar tentara-tentara Abdurrahman yang jumlahnya sedikit di sekitar Mukim XXII dan XXVI seluruhnya. Pengejaran membawa hasil pada tanggal 25 Agustus 1878. Pada hari itu muncul tiga orang utusan Habib di pos Belanda Lam Baro dengan permohonan tertulis meminta ampun dan minta berunding serta menyerah.

Baca juga:

Dalam hubungan tertulis itu ternyata Abdurrahman bersedia menghentikan peperangan, syaratnya ia beserta empat ratus orang anggota keluarga dan pengikutnya diperkenankan berangkat ke Arab dengan kapal Belanda dan menerima pensiun di sana. Tuntutan ini tidak kecil, tetapi Van Lansberge dan Van der Heijden yakin bahwa menyerahnya Abdurrahman akan membuat peperangan ini lain jadinya.

Setelah selama 14 tahun habis-habisan (1864-1878) membantu perjuangan Aceh, namun ia memilih berhenti terlibat dalam perang lalu pulang ke kampung halaman. Pada bulan Oktober menyusul persetujuan setelah ada perkenan dari Pemerintah Belanda. Abdurrahman akan diangkut ke Mekkah bersama dengan dua puluh orang pengikut naik kapal Belanda dan di sana seumur hidupnya ia akan menerima uang tahunan sebanyak 10.000 ringgit Spanyol.

Sebelum berangkat pada tanggal 24 Desember, melalui nasihat tertulis dicobanya menganjurkan para pemuka Aceh agar menyerah. Akan tetapi sia-sia. Para pemuka feodal, yang dalam tahap perang ini seluruhnya telah diungguli oleh kaum ulama, ternyata selama ini sudah tidak baik hubungannya dengan Abdurrahman. Sekarang benar-benar mereka dapat menudingnya sebagai pengkhianat. Dia telah kehilangan pengaruhnya di Aceh.

Dia (Habib Abdurrahman) dan Teuku Muda Baet menyerah di Kutaraja (kini Banda Aceh) pada tanggal 13 Oktober 1878. Sebagai imbalan, Belanda bersedia mengangkut Habib dan pengikutnya ke Jeddah (kini wilayah Arab Saudi), dan memberinya uang pensiun $1.000 –waktu itu setara dengan 10.000 gulden– per bulan dengan syarat ia harus tetap tinggal di Arab.

Baca juga:

Abdurrahman hidup tenang, diam-diam, tanpa banyak bicara di Hejaz (Arab Saudi), sampai ia meninggal pada tahun 1896. Meski pernah diangkat sejenak menjadi Syaikh as Sadat (syaikh para sayyid) oleh Gubernur Turki (Ottoman) pada tahun 1886, ia dijauhi oleh orang Aceh dan tidak populer di kalangan orang Arab, karena peran yang dimainkannya di Aceh.

Menyerahnya Abdurahman tidak diikuti penyerahan para pemimpin lain secara besar-besaran. Bulan Maret sampai Agustus 1879 Belanda kemudian melakukan pembantaian berdarah di Aceh Besar sampai Indrapuri. Habib Abdurrahman dianalogikan sebagai: “Kunci satu-satunya yang dapat digunakan penjajah Belanda untuk masuk ke Aceh.”

Pada akhirnya, “kunci” itu direkomendasikan penjajah untuk menetap di Arab; dengan biaya hidupnya ditanggung penuh oleh penjajah Belanda. Walau “kunci” yang dimaksud tidak digunakan secara mutlak, tapi setidak-tidaknya, penjajah Belanda telah berhasil masuk ke Aceh dengan petunjuk yang didapat dari “kunci” tersebut. Sejak saat itu, pertahanan pihak Aceh, makin hari makin melemah. Demikianlah akhir dari keterlibatan Habib Abdurrahman dalam Perang Aceh kala itu.

 

 

Referensi:

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

Göksoy, Ismail Hakki (2007). Ottoman-Aceh Relations According to the Turkish Sources, ICAIOS

Paul Van T Veer, Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Diterjemahkan dari De Atjeh-Oorlog. PT. Grafiti Pers. 1985.

Reid, Antony (2005). Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Edisi ke-1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *