Inilah Bukti Al-Qaeda Bangkit Lagi

Menurut Strategi Nasional Anti-Terorisme 2018, Amerika Serikat belum efektif dalam mengatasi cara-cara yang digunakan oleh kelompok-kelompok seperti al-Qaeda dan Islamic State untuk menginspirasi, meradikalisasi, dan merekrut. Akibatnya, strategi yang baru diarahkan bahwa Amerika Serikat harus meningkatkan upaya untuk “melemahkan kemampuan ideologi teroris untuk menciptakan identitas bersama dan kesamaan tujuan di antara calon yang direkrut.”

Satu hal yang menjadi kemampuan penting bagi kelompok mana pun untuk mendapatkan dukungan dan memproyeksikan ideologinya adalah kampanye media, yang tidak hanya menginspirasi tindakan tetapi juga mengarahkan strategi keseluruhan.

Islamic State sangat efektif dalam ranah media. Pada suatu waktu, kelompok tersebut menyebarkan majalah-majalah yang diterbitkan secara teratur (Dabiq dan kemudian Rumiyah), bersama dengan produksi video (termasuk pemenggalan kepala), dan seri “Anak-anak Khilafah”.

Kelompok ini menguasai penggunaan pencitraan dan narasi sejarah untuk menginspirasi dukungan kepada gerakannya. Sebaliknya, penjangkauan media telah menjadi sebuah kekurangan bagi al-Qa`ida, khususnya setelah kematian pemimpinnya tahun 2011, Usamah bin Ladin. Kelompok ini telah menghadapi tantangan seperti komunikasi terbatas dari para pemimpin senior, kegagalan untuk menyuarakan strategi yang jelas dan fokus, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi di Timur Tengah.

Namun, al-Qaʻida tampaknya berusaha untuk membalikkan kekurangan ini. Misalnya, kelompok ini telah secara signifikan meningkatkan laju pernyataan dari pemimpinnya saat ini, Ayman al-Zawahiri. Selain itu, mereka secara bertahap juga meningkatkan laju pernyataan dari Hamza bin Ladin (mempromosikannya sebagai seruan untuk generasi berikutnya), menciptakan kohesi yang lebih besar di antara upaya media dari afiliasinya, dan membuat situs web baru yang menyediakan kumpulan pidato dan bahan referensi. Upaya ini memperlihatkan bahwa al-Qaʻida sedang mencoba untuk memperkenalkan kembali gerakannya ke dunia, dan mungkin mengubah strategi jangka panjangnya.

Selain itu, pada beberapa kesempatan di tahun 2018, al-Zawahiri menyuarakan niat al-Qaeda untuk menargetkan Amerika Serikat. Seruan tersebut termasuk pelabelan Amerika Serikat sebagai “musuh pertama” umat Islam di seluruh dunia. Meskipun kritik terhadap Amerika Serikat bukanlah hal baru bagi al-Qaeda, langkah di mana al-Zawahiri menyebarkan pesan-pesan telah berubah. Selain itu, pesan-pesan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kelompok itu tidak meninggalkan ciri khasnya yaitu menargetkan musuh jauh dan memiliki ambisi jangka panjang untuk mendirikan sebuah kekhalifahan.

 

Pemimpin Al-Qaeda Memperluas Jangkauan Media

Ayman al-Zawahiri telah menjabat sebagai Amir al-Qaeda sejak 2011. Al-Zawahiri, yang lahir dan dibesarkan di pinggiran kota Kairo, adalah seorang dokter ahli bedah handal dan anak dari keluarga aristokrat. Sebagai seorang pemuda, dia secara aktif terlibat dalam upaya untuk memprotes penggunaan taktik kasar terhadap aktivis Islam oleh pemerintah Mesir dan mendirikan sebuah kelompok yang bertujuan untuk menggantikan pemerintah sekuler Mesir dengan pemerintahan baru yang dia anggap Islami, saat dia baru berusia 15 tahun.

Dia kemudian berpartisipasi dalam jihad Afghanistan, menjalin hubungan dekat dengan bin Ladin, dan memainkan peran integral dalam pengembangan al-Qaeda dan strategi keseluruhannya.

Meskipun al-Zawahiri secara teknis memiliki kredensial untuk memimpin gerakan, dia telah dikritik karena memiliki kekurangan dalam karismanya dan digambarkan sebagai terlalu hati-hati dan “otoriter.”  Dia juga telah dikritik karena sempat menghilang  dalam waktu lama tanpa mengeluarkan bimbingan atau arahan publik. Hal tersebut wajar karena ada kekhawatiran bahwa komunikasi semacam itu dapat membahayakan keamanan pribadinya. Misalnya, antara 2014 dan 2015, hampir sepanjang tahun ia tidak membuat pernyataan publik apa pun sama sekali

Sejak Januari 2018, al-Qaeda telah merilis 15 pernyataan yang dikaitkan dengan al-Zawahiri, dengan yang terbaru dirilis pada 24 Desember 2018. Meskipun ini mungkin tidak tampak seperti jumlah yang signifikan untuk audiens Barat, tetapi jumlah itu mencerminkan 67 persen peningkatan dibandingkan dengan laju penjangkauan media al-Zawahiri pada tahun 2017.

Meskipun al-Zawahiri masih tidak memiliki kepribadian yang karismatik seperti pendahulunya, peningkatan jangkauan media dapat membantu mengurangi persepsi tentang ketertutupannya dan untuk memperkenalkan kembali kepada pengikut dan pendukung Al-Qaʻida. Selain itu, sikap keras kepala al-Zawahiri tentang pengembangan potensi kekhalifahan Islam harus dilakukan dengan lambat dan terencana kemungkinan dibenarkan oleh kontraksi yang jelas dari ISIS. Hal tersebut membantu memposisikan al-Zawahiri sebagai ‘pemimpin jihad yang bijaksana.’

Mulai akhir 2017, al-Qaeda juga meningkatkan kecepatan penyebaran pernyataan dari Hamza bin Ladin, putra ketiga dari mantan pemimpin al-Qaeda. Misalnya, pada tahun 2016, al-Qaeda merilis hanya dua pernyataan yang dikaitkan dengan Hamza bin Ladin, sementara sejak pertengahan 2017, mereka telah merilis enam, dengan yang terbaru dirilis pada musim semi 2018.

Hamza dilaporkan menjadi salah satu anak laki-laki kecintaan Bin Ladin, dan suatu hari dipersiapkan untuk membantu memimpin al-Qaeda. Ia pernah muncul dalam rekaman propaganda bersama ayahnya, menjalani pelatihan tempur dengan pejuang al-Qaeda, dan memberi ceramah kepada para pejuang al-Qaeda.

Al-Qaeda kemungkinan berusaha untuk menarik garis keturunan Hamza sebagai putra Usama bin Ladin untuk menginspirasi generasi pejuang baru, sementara juga memberikan alternatif “generasi berikutnya” untuk al-Zawahiri sebagai wajah al-Qaeda. Al-Qaeda tampaknya mengandalkan Hamza untuk mempertahankan dasar-dasar simbolik kelompok itu. Al-Qaedakem ngkinan akan berhati-hati untuk tidak terlalu mempromosikan Hamza untuk menekan kemungkinan pertanyaan tentang suksesi atau tantangan bagi kader kepemimpinan senior saat ini.

Kelompok itu tampaknya merasa nyaman dalam memberi Hamza bin Ladin peran untuk mempelopori upaya melawan Kerajaan Arab Saudi. Lebih dari setengah pernyataan Hamza berfokus pada mengkritik rezim Saudi, yang dia klaim “mengkhianati Islam dan Muslim dengan pengkhianatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

 

Baca halaman selanjutnya:  Memperkenalkan kembali Visi Strategis

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *