Kejinya Belanda dalam Membantai dan Menghancurkan Kampung di Aceh

 

Sampai tahun 1880 sudah 400 sampai 500 kampung yang dibakar dan sesudah tahun 1874 sampai 1880, 30.000 korban tewas.

 

Bulan Maret sampai Agustus 1879 Belanda melakukan pembantaian berdarah di Aceh Besar sampai Indrapuri.  Para pemimpin pejuang, Teungku di Tiro, Panglima Polim, dan Imam Lueng Bata mundur menarik kekuatan ke pedalaman Pidie. Membawa serta sekitar 3000 orang, 18 meriam gunung, dan 1700 tukang pikul. Dengan mundurnya para pejuang operasi militer kedua dinyatakan berakhir oleh Van Lansberge.

Mungkin mundurnya para pejuang ke pedalaman untuk mencegah lebih banyak korban jiwa rakyat sipil dan kerugian material lainnya ketika mereka masih di dekat pemukiman.

Korban dari pihak NIL tahun 1879 berjumlah 865 orang. Dari kalangan tawanan perang yang dipaksa berperang dari 3.200 orang 1.548 di antaranya tewas. Korban di pihak Aceh tidak diumumkan. Namun, Jenderal Van Swieten memperkirakan antara tahun 1874–1880 sekitar 3.000 orang Aceh gugur dan 400 sampai 500 kampung dibakar.

Baca juga: 

Van Swieten, yang sebelumnya juga telah menulis tentang perang Aceh, pada tahun 1879 ia menulis dengan judul yang berani De waarheid over onze vestiging in Atjeh (Kenyataan sebenarnya tentang pendudukan kita di Aceh). Segalanya dibongkar, semua penulis brosur dan teman-teman sekutu mereka dikritik.

Disesalkannya “dasar-dasar kemanusiaan yang keliru”. Ia mengemukakan penyesalan yang lebih berat kepada Verspijck. Verspijck bersalah, “kena penyakit gila yang seolah-olah telah menjangkiti seluruh tentara Hindia,” yaitu membakari kampung-kampung. “Muncullah di sini kekeliruan. Celakanya, banyak panglima kita keranjingan, di samping menggunakan kelewang juga main bakar dengan obor.”

Baca juga:

Sesudah keberangkatannya dari Aceh, demikian menurut Van Swieten, pendukung-pendukung kekerasan perang yang kasar ini dapat bersorak gembira. “Sebab, bagaimanapun tercelanya prinsip mereka, tindakan ini dilakukan dengan kekejaman yang tiada taranya, tidak hanya terhadap kampung-kampung yang mempertahankan diri, tetapi juga terhadap kampung-kampung yang ditinggalkan, kalau-kalau mereka besok atau lusa akan dapat mempertahankan diri.

Korban Pembantaian di Kampung Likat sebanyak 432 orang dibantai, termasuk 212 wanita dan anak-anak, hasil serbuan pasukan Van Daalen

Akibatnya, dalam peta Aceh Besar yang dibuat pada bulan Maret 1876 terdapat 230 kampung yang habis terbakar. Untuk menutupi tindakan-tindakan keji itu, dalam laporan-laporan tidak terbaca lagi pembakaran kampung-kampung.

Sekarang tindakan itu disebut penghukuman, yang tidak lain merupakan ungkapan eufemistis untuk membakari rumah, memusnahkan panen, dan menebangi pohon buah-buahan. Dan orang merasa heran bahwa perang begitu lama berlangsung dan orang Aceh tidak mau takluk kepada suatu bangsa, yang tentaranya mereka lihat begitu keji melakukan pembersihan.”

Baca juga:

Masih dalam tahun yang sama, Van Swieten juga menulis dengan judul De luitenant-Generaal Van Swieten contra den Luitenant-Generaal Verspijck. Ia mengemukakan sampai tahun 1880 sudah 400 sampai 500 kampung yang dibakar dan sesudah tahun 1874 sampai 1880, 30.000 korban lagi tewas.

Inilah neraca Perang Aceh Van Swieten: “Pada bagian debet: 30.000 jiwa manusia, lebih dari 160 juta gulden di samping mengenakan pajak-pajak baru di Negeri Belanda dan di Hindia agar sistemnya dapat bertahan. Pada bagian kredit: rakyat dendam, dan suatu negeri hancur, yang dimusnahkan oleh Belanda, dan harus ditaburi bayonet untuk dapat mempertahankan bagian kecil yang direbut.”

Keadaan di kubu pertahanan Kutö Rèh yang dibantai pasukan Van Daalen pada tanggal 14 Juni 1904. Jumlah korban 516 orang, di antaranya 248 orang wanita dan anak-anak. Pada gambar terlihat satu-satunya korban yang masih hidup, yakni seorang anak kecil (di tengah-tengah foto -red).

Di bawah pimpinan beberapa orang perwira telah dilakukan kekejaman-kekejaman yang tidak terlukiskan dan ekspedisi-ekspedisi teror oleh brigade-brigade marsose, yang mengakibatkan ratusan orang laki-laki, perempuan, serta anak-anak terbunuh.

Tetapi, ada pula pekerjaan brigade marsose kecil-kecil yang beroperasi sendiri di daerah musuh, dengan daya tahan yang luar biasa disertai keberanian yang hebat, yang disebut kepahlawanan militer (Belanda) dalam Perang Aceh.

Baca juga:

Peristiwa-peristiwa tahun 1896 sesudah tahun 1873 dan tahun 1884 merupakan Bencana Aceh yang ketiga. Menurut beberapa perhitungan, perang telah memakan biaya lima ratus juta gulden. Berapa banyak korban yang telah tewas, lebih sulit menaksirnya.

Pasti sudah kira-kira: 10.000 orang anggota militer NIL (Tentara Hindia Belanda) dan 15.000 orang narapidana kerja paksa sejak tahun 1873 yang tewas atau meninggal dunia karena sakit dan penderitaan, 35.000 ribu orang Aceh terbunuh, menurut sumber-sumber Belanda yang tersebar, seperti dalam buku-buku Kruisheer dan Van Swieten, yang dapat dipercaya. Hanya angka-angka kerugian NIL merupakan angka resmi. Baru sesudah tahun 1899, semua kerugian dari pihak Aceh juga dilaporkan secara resmi.

 

Referensi:

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1987

Ismail Sofyan dkk, Perang Kolonial Belanda di Aceh. The Dutch Colonial War In Aceh, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Jalan Jendral Sudirman No. 5 Banda Aceh Indonesia, Cetakan I, 1977.

Paul Van T Veer, Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. Diterjemahkan dari De Atjeh-Oorlog. PT. Grafiti Pers. 1985.

 

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *