Kamp Re-Edukasi Raksasa itu Bukan di Xinjiang, tapi di Tengah-Tengah Kita

Hari-hari ini, kita begitu sering mendengar berita tentang penindasan yang dialami oleh Muslim Uyghur di China. Tentang mereka yang dilarang untuk berpuasa, tentang mereka yang dipaksa untuk memakan babi dan minum alkohol. Masjid dirobohkan, Al-Quran dilarang. Jilbab dipaksa untuk ditanggalkan, anak-anak dipisahkan dari orang tua untuk dididik meninggalkan agamanya. Bahkan, naik haji pun bisa berdampak pada hukuman mati.

Di sana, simbol-simbol keislaman dan ajarannya dikriminalisasi. Keislaman seseorang dianggap sebagai potensi ancaman. Hampir dua juta Muslim Uyghur dimasukkan ke dalam sebuah kamp raksasa. Mereka dibina untuk melepas keislamannya dan, sebagai gantinya, berpegang pada nilai-nilai komunis China. Mereka diajari tentang “bahaya” Islam dan untuk lebih mengutamakan konstitusi China diatas Syariat Islam.

Dalihnya, memerangi ekstremisme Islam.

Namun, di saat hari ini kita sedih atas nasib Muslim Uyghur, sadar atau tidak, pola yang sama juga diterapkan di sini. Bahkan tak hanya di sini, tapi mengglobal di seluruh dunia.

Baca juga:

China menerapkan apa yang selama ini pondasinya sudah dibangun di Barat, dengan postur yang lebih keras. Mereka membingkai kebijakannya dalam serangkaian kebijakan kontraterorisme yang selama ini direkomendasikan oleh pemerintah Barat sejak 9/11. Program itu dikenal dengan sebutan Countering Violent Extremism (CVE).

Program ini pertama kali diterapkan di Inggris, untuk kemudian disebarkan secara global, mulai dari Amerika hingga di negara-negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia.

CVE bertujuan untuk mencegah seseorang terlibat dalam kekerasan dengan menyasar ideologinya. Sebagaimana kamp penahanan China untuk Muslim Uyghur, CVE berbasis pada teori bahwa ide dan keyakinan, terutama yang diinspirasi oleh Islam, akan membawa seseorang pada kekerasan dan mengancam keamanan nasional. Tujuan CVE adalah untuk melakukan kontra, dan pada akhirnya menghapus keyakinan tersebut.

Esensinya, CVE adalah program reedukasi tanpa kamp.

Kamp penahanan China menunjukkan betapa mengerikannya dampak dari pendekatan CVE. Kamp tersebut menjadi pengingat bahwa, dalam praktiknya, CVE menjadi topeng untuk menyembunyikan masalah politik yang sistemik, seperti kediktatoran dan ketidakadilan, yang menyebabkan kekerasan politik. Keberadaan kamp konsentrasi ala Nazi tersebut juga membantah mereka yang berpandangan bahwa program deradikalisasi semacam CVE adalah versi lunak dari kontraterorisme.

Transformasi ideologi umat Islam adalah pusat dari program CVE.

CVE didasarkan pada teori “radikalisasi” yang mengklaim bahwa untuk menjadi “teroris,” seseorang terlebih dahulu berpikiran radikal. Proses “radikalisasi” ini dapat diprediksi melalui faktor-faktor teologis dan budaya. Dengan mengidentifikasi faktor-faktor tersebut, pemerintah menilai mereka bisa mencegah terorisme. Menurut teori ini, tidak ada perbedaan antara apa yang disebut keyakinan radikal dengan kekerasan. Keyakinan radikal, meskipun tanpa kekerasan, pada akhirnya dianggap akan membawa seseorang pada kekerasan.

Baca juga:

Sejumlah negara mulai mengadopsi CVE sebagai strategi kontra-terorisme pada awal 2000-an. Salah satu hasilnya adalah program-program pengawasan yang dilakukan oleh kepolisian New York (NYPD) terhadap komunitas Muslim di wilayah New York, yang berhasil diungkap oleh Associated Press pada tahun 2011. NYPD mengawasi lebih dari 250 masjid.

Selain itu, mereka juga mengawasi restoran, kafe, organisasi masyarakat, dan asosiasi mahasiswa yang tak terhitung jumlahnya. Tindakan tersebut didorong oleh argumen yang dibangun CVE bahwa “radikalisasi” terkait dengan indikator seperti “memakai pakaian Islami, menumbuhkan janggut,” atau “ikut kelompok pengajian untuk meningkatkan pemahaman keislaman”.

Terkadang, program CVE yang dilakukan sejumlah negara tidak secara terbuka menghubungkan faktor tersebut dengan kekerasan. Namun dalam praktiknya, program tersebut secara tidak proporsional berfokus pada komunitas Muslim.

Baca juga:

China mendesain ulang CVE untuk diterapkan atas Muslim Uyghur, setelah mempelajarinya dari penerapan CVE di Barat dan di negara mayoritas Muslim. Dalam sebuah seminar di China bulan November 2018, beberapa akademisi China menjelaskan tentang pendekatan CVE yang dilakukan China.

Salah seorang pembicara mempresentasikan model empat lapis (four-layered model) yang digunakan China berdasarkan prinsip memecah, membangun, mencegah, dan mengembangkan. Strategi memecah dilakukan untuk mengisolasi seseorang dari lingkungan ekstremis; strategi membangun dilakukan dengan mengenalkan mereka kepada nilai spiritual sejati dari agama; mencegah dilakukan melalui edukasi; dan membangun dilakukan melalui program pengembangan skill.

Penjelasan lebih rinci disampaikan Zunyou Zhou dalam tulisannya yang berjudul Chinese Strategy for De-Radicalization. Ia menjelaskan  bahwa strategi CVE China dibuat dari berbagai pendekatan. Dalam merumuskannya, mereka berkonsultasi dengan Barat dan pendekatan deradikalisasi yang mereka lakukan. Pendekatan tersebut meliputi ‘lima kunci’, ‘empat gigi’, ‘tiga kontingen’, ‘dua tangan’, dan ‘satu kunci’. Semua pendekatan tersebut berbasis pada pendekatan hukum, agama, budaya, ideologi, dan sains. Pelaksananya adalah badan pemerintah, institusi publik, dan organisasi masyrakat di wilayah tersebut.

Baca juga:

‘Lima kunci’ terdiri dari ideologi, budaya, agama, hukum, dan adat istiadat. ‘Empat gigi’ terdiri dari kombinasi empat metode: menekan dengan mengoreksi keyakinan agama; melakukan kontra melalui budaya untuk membawa mereka menuju sekulerisme dan modernisasi, melakukan kontrol dengan hukum, dan mempopulerkan sains.

‘Tiga kontingen’ dilakukan dengan menguatkan tiga kelompok yang bisa diandalkan pemerintah: kader, guru, dan tokoh agama. Sedangkan dalam pendekatan ‘dua tangan’, satu tangan digunakan untuk menumpas terorisme, dan tangan lain digunakan untuk “mendidik dan memandu” Muslim Uyghur. Terakhir, maksud dari ‘satu aturan’ adalah kebijakan di Xinjiang harus berdasarkan hukum.

CVE adalah Alat Represi

Sampai sekarang, tidak ada kesepakatan tentang definisi radikalisasi, ekstremisme, terorisme, atau bagaimana mereka terkait satu sama lain. Meski sudah begitu banyak uang sudah dikeluarkan untuk melakukan riset, belum ada konsensus mengenai apa yang menyebabkan seseorang menjadi teroris.

Begitu juga, tidak ada bukti bahwa keyakinan agama adalah penyebab utama seseorang terlibat dengan kekerasan. Data yang ada justru menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang melakukan aksi kekerasan tidak memiliki keyakinan “radikal” sama sekali.

Sejak dibuat, CVE menjadi alat yang paling banyak dimanfaatkan pemerintah untuk mengkriminalisasi keyakinan seseorang. Penerapan program CVE bervariasi. Mulai dari digunakan untuk mengkooptasi komunitas tertentu yang ideologinya tidak disukai negara, sampai yang paling mengerikan, CVE membawa kepada model yang sudah diterapkan oleh pemerintah China atas Muslim Uyghur hari ini: sebuah kamp konsentrasi untuk mengubah keyakinan Muslim Uyghur.

CVE pun menjadi alat bagi rezim untuk melakukan represi.

Selama ini, CVE menjadi dalih bagi pemerintah untuk “menjelaskan” terorisme, dengan menutup mata atas kebijakan luar negeri, ketidakadilan, dan praktik represi yang mereka lakukan. Seolah semuanya tidak ada kaitannya sama sekali. CVE menjadi justifikasi bagi pemerintah untuk menjalankan ageda-agenda mereka sebelumnya. Tak heran jika pemerintah China menggunakan retorika CVE untuk melegitimasi kamp penahanan mereka. Kamp konsentrasi ala Nazi di China adalah wujud dari ekspresi total CVE.

Baca juga:

CVE adalah musang berbulu domba yang ingin mengubah identitas seorang Muslim. Mereka menginginkan Muslim yang jinak, yang hanya fokus pada ibadah harian, tapi tidak pernah menyinggung tentang ketidakadilan. Muslim yang sibuk menjelaskan tentang tangan mana yang digunakan untuk makan dan minum, kaki mana yang harus didahulukan saat melangkah masuk kamar mandi, tetapi tangan dan kaki tersebut tidak pernah digunakan untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman.

Jika hari ini banyak yang mengecam praktik yang dilakukan China atas Muslim Uyghur, jangan lupa, ada hal lain yang menjadi akar dari semua itu, sebuah program reedukasi raksasa, reedukasi tanpa kamp, yang ingin mengubah keyakinan dan menjinakkan umat Islam.

Tags:
No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *