Ketika Amerika Merengek untuk Berbicara pada Taliban

“Kami saat ini meminta mereka untuk mengadakan pembicaraan namun saatnya akan tiba ketika mereka akan meminta kami untuk melakukan pembicaraan tetapi kami akan menolak mereka,”

Jurubicara Taliban menyatakan bahwa mereka membatalkan perundingan dengan AS ketika Amerika meminta pembicaraan damai. Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, menyatakan bahwa situasi ini diprediksi oleh Mullah Umar, pendiri Taliban yang meninggal pada 2013.

Pernyataan itu dikeluarkan hanya beberapa hari setelah Taliban membatalkan pembicaraan dengan AS karena ada upaya untuk melibatkan pemerintah Afghanistan dalam negosiasi. (Baca artikel terkait: Mengapa Taliban Mengajak Dialog Dengan Amerika, Bukan Rezim Kabul?)

Mujahid mengaitkan pernyataan itu dengan Umar di akun Twitter-nya pada 20 Januari dengan mencantumkan foto pendiri Taliban dan emir pertama Imarah Islam. Menurut Mujahid, pernyataan itu adalah “prediksi” Umar yang diungkapkan beberapa saat sebelum kematiannya. Umar meninggal karena sakit di Pakistan pada 2013; kematiannya disembunyikan oleh Taliban selama dua tahun.

“Kami saat ini meminta mereka untuk mengadakan pembicaraan namun saatnya akan tiba ketika mereka akan meminta kami untuk melakukan pembicaraan tetapi kami akan menolak mereka,” kata teks yang menyertai gambar Umar.

Taliban membatalkan negosiasi perdamaian awal dengan AS yang akan diadakan di Qatar pada 9 Januari karena “ketidaksepakatan agenda,” menurut Reuters. Taliban dikatakan keberatan dengan upaya AS untuk memasukkan pemerintah Afghanistan dalam perundingan, serta diskusi tentang gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Baca artikel terkait:

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 15 Januari (kami sertakan di bawah), Taliban mengatakan, AS mundur dari agenda [penarikan AS] dan secara sepihak menambahkan subyek baru. ”

“Oleh karena itu Imarah Islam memperingatkan Amerika Serikat bahwa jika keadaan saat ini terus berlanjut dan Amerika mempertahankan ketidaktulusannya, maka Imarah Islam terpaksa akan menghentikan semua pembicaraan dan negosiasi,” pernyataan itu menyimpulkan.

Empat hari kemudian, ketika dikabarkan bahwa Taliban akan memasuki kembali perundingan di Islamabad, Mujahid langsung membantahnya.

“Rumor tentang beberapa pertemuan antara perwakilan AS @ US4AfghanPeace [Zalmay Khalilzad] & perwakilan Imarah Islam di # Islamabad tidak benar,” tweeted Mujahid di akun resminya.

Taliban secara konsisten menyatakan bahwa mereka tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, yang dipandangnya sebagai “boneka” yang hanya menerima perintahnya dari AS. Berbicara dengan pemerintah Kabul adalah “buang-buang waktu,” kata Taliban.

Sebelum pembicaraan dapat dimulai, Taliban menuntut agar AS menarik pasukannya dari Afghanistan, membebaskan para tahanannya, dan mengeluarkan para pemimpin Taliban dari daftar hitam PBB.

Taliban juga menyatakan bahwa hanya Imarah Islam Afghanistan yang merupakan perwakilan sah rakyat Afghanistan, dan bahwa pendirian “pemerintahan Islam” adalah satu-satunya hasil yang dapat diterima. Ini diulangi dalam pernyataan Umar yang dirilis oleh Mujahid.

“Kami keluar dengan tujuan untuk berkorban di jalan Allah dan menegakkan hukum Allah pada para hamba-Nya,” kata Umar.

Baca juga;

AS telah mempercepat upaya merundingkan penyelesaian setelah Presiden Trump frustrasi atas situasi di Afghanistan. Trump dilaporkan akan memerintahkan pengurangan pasukan yang signifikan dan dapat mengakhiri misi AS pada tahun 2020.

AS dan NATO telah menolak untuk mengakui motivasi keagamaan Taliban untuk melanjutkan perang selama 18 tahun, mereka berasumsi bahwa Taliban bersedia mengadakan perjanjian pembagian kekuasaan dengan pemerintah Afghanistan. Taliban secara eksplisit menyatakan tidak akan berbagi kekuasaan dengan pemerintah Kabul.

Berikut kami tampilkan pernyataan lengkap Imarah Islam mengenai penundaan pembicaraan dengan delegasi AS yang dipublikasikan pada 15 Januari 2018:

 

Situasi Politik Afghanistan Saat Ini

Imarah Islam Afghanistan adalah kekuatan Islam nasional Afghanistan. Mereka telah memerangi invasi pasukan Amerika bersama dengan sekutu dalam dan luar negerinya selama dua dekade terakhir dengan semua sumber daya manusia dan material yang tersedia. Tujuannya jelas dan sah, kemerdekaan Afghanistan dan penegakan sistem Islam. Semua kegiatan militer dan politik dilakukan untuk mencapai tujuan ini.

Mereka membuka semua saluran untuk mencapai solusi politik dan Imarah Islam telah membuka Kantor Politik yang berbasis di Doha untuk menjalin hubungan dengan berbagai fihak.

Baca juga:

Setiap negara yang ingin membantu dalam menemukan solusi damai untuk masalah Afghanistan dapat menghubungi Kantor Politik dan akan disambut dengan tangan terbuka oleh Imarah Islam. Namun, masalah penjajahan Afghanistan adalah masalah tentang kemerdekaan negeri Muslim, dan bagaimana menyelesaikannya adalah hak kami (orang Afghanistan).

Masalah ini tidak dapat diselesaikan melalui tekanan atau manuver, siapa pun tidak boleh untuk menggunakan masalah Afghanistan untuk kepentingan mereka sendiri.

Jika Amerika Serikat ingin mengadakan pembicaraan dengan niat tulus dan menerima tuntutan sah bangsa Afghanistan, maka masalah itu akan menemukan resolusi. Tetapi jika mereka berusaha menolak tuntutan sah rakyat Afghanistan dengan berbagai alasan, untuk mencapai tujuan penjajahan dan militernya dengan kedok perdamaian atau memberikan tekanan yang melanggar hukum dengan membujuk negara-negara lain, berarti mereka tidak sungguh-sungguh ingin menemukan solusi damai untuk masalah Afghanistan.

Baca juga:

Dalam pertemuan di Doha pada bulan November 2018 Amerika Serikat menyetujui untuk membahas penarikan pasukan asing dari Afghanistan dan mencegah Afghanistan digunakan untuk menyerang negara-negara lain dalam pertemuan mendatang. Namun sekarang Amerika mundur dari agenda itu dan secara sepihak menambahkan tema pembicaraan. Oleh karena itu Imarah Islam memperingatkan Amerika Serikat bahwa jika keadaan saat ini terus berlanjut dan Amerika mempertahankan ketidaktulusannya, maka Imarah Islam terpaksa akan menghentikan semua pembicaraan dan negosiasi sampai Amerika mengakhiri tekanan dan manuvernya yang melanggar hukum dan mulai melangkah maju menuju kedamaian sejati.

 

Sumber:   longwarjournal,    alemarahenglish

 

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *