Adu Kuat Islamis Lawan Nasionalis yang Terus Bergolak

Dalam buku yang berjudul “Making the Arab World: Nasser, Qutb, and the Clash That Shaped the Middle East,” Fawaz Gerges meneliti konflik antara dua tokoh terkenal, Sayyid Qutb dari Ikhwanul Muslim (Ikhwan) dan Gamal Abdel Nasser, seorang revolusioner Mesir (dan kemudian Presiden). Pergulatan keduanya menandai awal dari konfrontasi yang telah mengguncang Timur Tengah selama 70 tahun terakhir.

Fawaz Gerges meneliti kebangkitan Islamisme revolusioner sebagai reaksi terhadap sosialisme yang diadopsi oleh Gamal Abdel Nasser. Munculnya ideologi agama fundamentalis, dipersonifikasikan oleh ulama dan ideolog dari Ikhwanul Muslimin, yaitu Sayyid Qutb.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, salah satunya, ada fakta bahwa Nasser dan Qutb memiliki banyak kesamaan ide. Namun, masing-masing secara pribadi adalah sosok yang ambisius. Ketika Nasser berkuasa, di antara tindakan pertamanya adalah membersihkan Mesir dari partai-partai politik yang berpotensi menjadi pesaing, dari kaum Marxis di sebelah kiri hingga gerakan  Ikhwan, yang berubah menjadi Ikhwanul Muslimin.

Baca juga:

Tak satu pun dari pergolakan di Mesir berjalan dengan mudah. Seperti yang dicatat Gerges, jalan berbelit-belit yang diambil oleh dua sosok kuat dan tanpa kompromi tersebut mengarah pada pelanggaran kebebasan bersuara, yang berpuncak pada eksekusi mati Qutb pada 1966 karena diduga merencanakan pembunuhan Nasser.

Tahun berikutnya, ketika Mesir berada di antara kekuatan Arab yang dipermalukan dalam perang melawan Israel, Islamisme memperoleh kekuatan baru. Pengganti Nasser, Anwar Sadat, berusaha untuk mengkooptasi pengikut Ikhwan. Pada perjalanannya, justru Anwar Sadat yang dibunuh.

Gerges mengamati bahwa ideologi pan-Arab Nasser sama dengan anti-imperialisme yang tidak terlihat di wilayah tersebut sebelumnya, tetapi itu tidak selalu sama dengan anti-Barat.

“Generasi nasionalis anti-kolonial angkatan Nasser menggunakan konsep universal mengenai penentuan nasib sendiri, kedaulatan rakyat, demokrasi populer, perlawanan, dan anti-hegemoni sebagai senjata yang efektif,” tulisnya.

Sedangkan, di sisi gerakan Ikhwan, para aktivisnya memasukkan Barat di antara musuh-musuhnya, dan memegang erat gagasan tentang benturan peradaban, dan percaya bahwa konstitusionalisme adalah konsep asing yang harus dihapus.

Baca juga:

Perjuangan berlanjut hari ini, dengan perwakilan modern baik Islamisme dan nasionalisme bersaing untuk kepemimpinan dalam apa yang berarti perang dingin regional. Sejarah tersebut membantu dalam menjelaskan perkembangan terkini di Mesir dan tempat lain di Timur Tengah.

Gerges menulis dari posisinya sebagai profesor hubungan internasional di London School of Economics dan Political Science dan penulis beberapa buku terkenal. Pembuatan buku ini didasarkan pada penelitian yang luas termasuk wawancara mendalam dengan para pemimpin masyarakat sipil, politisi, dan aktivis terkemuka, yang membuat buku ini sangat berharga untuk dibaca.

Akses tanpa batas yang dimiliki Gerges ke lingkaran Sayyid Qutb yang paling dalam, juga pada generasi tua dan aktivis muda Ikhwanul Muslimin, telah memungkinkan buku ini menggali sumber pada tahun-tahun kehidupan Qutb, dan meneliti jejak dan tindakan Qutb, sehingga mampu mengisi kesenjangan dalam literatur.

Gerges menjelaskan tahun-tahun yang dihabiskan Qutb di penjara memainkan peran penting dalam membentuk filosofinya. Di sanalah ia menetapkan “proyek Islam revolusioner” dan muncul dengan peta jalan untuk mengimplementasikannya.

Salah satu hal yang paling mengejutkan dalam buku ini adalah bahwa Nasser muda, bersama dengan “Gerakan Perwira Bebas” lainnya seperti Anwar Sadat, adalah anggota Ikhwanul Muslimin dan telah aktif dalam jaringan paramiliter mereka, yang dikenal sebagai “Petugas Khusus” (al-Tanzim Al- Khass).

Seperti yang dijelaskan Gerges, sebelum revolusi 1952 baik Ikhwanul Muslimin dan Gerakan Perwira Bebas bersatu dalam sebuah tujuan untuk menghapus monarki yang didukung Inggris di Mesir. Barulah pada akhir 1950-an, ketika wacana politik mereka masing-masing menjadi teradikalisasi, perpecahan itu terjadi. Perpecahan itulah yang selamanya mengubah lanskap politik wilayah tersebut.

Baca juga:

Pada tahun 2011, Ikhwanul Muslimin sekali lagi membuang kesempatan untuk memerintah Mesir. Salah satu penyebabnya diklaim karena presiden mereka, Muhammad Mursi, terbukti tidak layak menjadi presiden. Hasil dari kegagalan mereka adalah kembalinya kemenangan pemimpin ‘orang kuat’ dari kalangan nasionalis Mesir pada sosok Jenderal El-Sisi.

Seperti yang dicatat Gerges: “Tidak mungkin ada transisi politik di Mesir, selama Ikhwan, gerakan sosial paling berpengaruh di dunia Arab, dan rezim yang didominasi militer terkunci dalam posisi perang.”

Review Buku

Judul: Making the Arab World: Nasser, Qutb, and the Clash That Shaped the Middle East

Penulis: Fawaz A. Gerges

Penerbit: Princeton University

Tahun terbit: 2018

 

One Response
  1. February 13, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *