Jerit Rakyat Palestina: Tak Bisa Sembunyi, tak Bisa Lari!

Di mana Anda bisa bersembunyi saat tidak bisa lari?

Ini adalah pertanyaan dua juta penduduk Gaza. Mereka bertanya pada diri mereka sendiri setiap serangan Israel datang.

Itu juga pertanyaan dari Abdallah Zaid, 45, yang terakhir bertanya pada dirinya sendiri pada bulan November ketika sebuah serangan bom terjadi di dekat rumahnya di lingkungan Nasser di Kota Gaza.

Malam itu, seorang tetangga datang dan menasihati Abdallah dan keluarganya (istrinya, Naila, dan tujuh anaknya) untuk mengungsi dari rumah mereka. Mereka takut gedung sebelah, bangunan milik stasiun TV al-Aqsa yang berafiliasi dengan Hamas, akan menjadi sasaran rudal Israel.

Perkiraan itu benar. Pada 12 November, Israel melancarkan kampanye pemboman hebat sehari setelah serangan ke Gaza, yang tampaknya merupakan misi pengumpulan informasi.

Secara total, rudal Israel menyasar lebih dari 70 sasaran pada hari berikutnya, termasuk bangunan tempat tinggal, hotel dan stasiun TV. Gencatan senjata baru dilakukan pada keesokan harinya, 13 November.

Seperti biasa, warga di lingkungan yang ditargetkan selalu berebut mencari keselamatan. Dan seperti biasa mereka bertanya-tanya: ke mana harus pergi?

“Saya tidak tahu ke mana kami harus pergi,” kata Abdallah kepada The Electronic Intifada. “Kami bertelanjang kaki. Yang penting adalah jauh dari bahaya di dekat rumah. ”

Masalahnya, katanya, adalah “tidak ada tempat yang aman di Gaza.” Ada tempat perlindungan, terutama di sekolah-sekolah milik PBB, meskipun kadang-kadang orang-orang juga mencari perlindungan di masjid.

Tapi kemudian, tempat-tempat itu juga tidak aman dan orang-orang mulai meninggalkan tempat-tempat tersebut sejak 2014, kata Abdallah. Sebabnya adalah “sekolah-sekolah tersebut juga tak lepas dari ancaman.”

Selama perang Israel 2014 di Gaza, sejumlah sekolah PBB diserang oleh rudal dan bom Israel, menewaskan puluhan orang, termasuk staf PBB. Sejumlah masjid juga menemui nasib yang sama.

Tugas yang mustahil

Bagi otoritas Gaza, berusaha melindungi orang adalah tugas yang mustahil.

Raed al-Dahshan, direktur operasi pertahanan sipil di Gaza, menunjuk pada kurangnya infrastruktur untuk melindungi warga sipil.

“Tidak ada tempat aman di mana warga Gaza bisa bersembunyi jika terjadi pemboman atau perang. Tidak ada bunker atau bangunan yang dirancang dengan tempat perlindungan bom,” kata al-Dahshan kepada The Electronic Intifada.

Selama tiga kali perang Israel di Gaza dalam dekade terakhir, upaya pertahanan sipil telah fokus pada penyampaian informasi keselamatan kepada publik melalui radio, mengarahkan mereka untuk berlindung dari jendela, lantai atas dan balkon dan mencari bagian terkuat dari rumah atau bangunan yang mereka tempati.

Tetapi bekal informasi saja tidak dapat memerangi pasukan yang kuat seperti Israel, yang tidak peduli dengan korban sipil.

Al-Dahshan menyebutkan salah satu kasus pada tahun 2014 di daerah Shujaiya di timur Kota Gaza yang mengakibatkan pembantaian setidaknya 55 warga sipil di daerah itu selama kurang dari dua hari.

Al-Dahshan ikut andil dalam upaya penyelamatan di daerah itu pada saat itu. Dia yakin, katanya, bahwa militer Israel tahu persis di mana orang berada tetapi tetap melanjutkan serangannya.

Dengan tidak adanya ruang yang aman, beberapa organisasi berusaha mempersiapkan warga Palestina di Gaza untuk bertindak dalam situasi darurat yang sering mereka hadapi.

Salah satu program tersebut dibentuk setelah perang Israel 2014 di Gaza untuk menangani sisa-sisa ranjau yang belum meledak. Program ini dirancang oleh Ma’an Development Center bekerja sama dengan UNMAS – Layanan Tindakan Ranjau PBB – dan lembaga Norwegian People’s Aid,.

Proyek ini dimulai dengan kampanye publikasi untuk meningkatkan kesadaran tentang cara menghadapi persenjataan yang tidak meledak.

Antara tahun 2014 dan 2016, menurut PBB, 17 orang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka, termasuk lebih dari 45 anak-anak, sebagai akibat dari bom dan rudal sisa-sisa serangan Israel yang tidak meledak.

Mempersiapkan perang

Hani Abu Hatab, koordinator lapangan untuk program tersebut, mengatakan proyek itu dibuat karena tidak ada organisasi yang mengambil langkah seperti itu sebelumnya dan ada kebutuhan yang sangat mendesak.

Lebih dari 60.000 orang kini telah mengikuti program tersebut, sebagian besar di daerah yang sebelumnya terkena dampak serangan Israel, kata Abu Hatab.

Pelatihan ini dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama menyangkut persiapan umum untuk perang termasuk mengidentifikasi ruang teraman di rumah-rumah penduduk, jauh dari jalan utama dan menghindar sejauh mungkin dari jendela, dan mengambil tindakan pencegahan seperti menyimpan makanan dan air dan memastikan memiliki kotak P3K.

Orang-orang juga diajarkan apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan selama serangan – seperti menjauh dari gedung-gedung publik atau kantor petugas keamanan. Kemudian tidak kembali ke rumah yang hancur sebagian karena mungkin masih akan runtuh.

Bagian kedua dari pelatihan melibatkan keterampilan praktis.

Orang-orang diajari pertolongan pertama, bagaimana cara menghadapi api dan bagaimana menangani yang terluka. Mereka juga diberitahu bagaimana mengidentifikasi, menangani atau tidak menangani, sisa-sisa bom yang tidak meledak.

Ma`an telah membentuk kelompok komite darurat di komunitas lokal di seluruh Gaza. Idenya adalah bahwa tokoh masyarakat yang terkemuka akan berfungsi sebagai penghubung dengan Ma’an untuk membantu di saat darurat, apakah dengan menyampaikan informasi kepada masyarakat, membantu penduduk setempat atau membantu memimpin operasi penyelamatan di daerah tersebut, seandainya mereka diperlukan. Menurut Abu Hatab, ada 186 sukarelawan semacam itu yang tersebar di seluruh Gaza.

Publikasi semacam itu sangat penting dalam menangani populasi yang trauma oleh perang.

Takut akan gelap

Ahmed al-Saqa, 35 tahun, adalah seorang yang benci terhadap gelap. Malam hari adalah saat pesawat-pesawat Israel melakukan serangan ke Gaza.

Seperti hampir semua orang di Gaza, al-Saqa terus mengawasi berita, selalu mencermati setiap perkembangan.

Dia selalu khawatir ke mana dia harus pergi jika perang kembali pecah. Rumahnya di Khuzaa, di bagian timur Khan Younis, hancur dalam perang 2014. Dengan rumah yang belum dibangun kembali, al-Saqa telah tinggal di akomodasi sewaan di lingkungan Sheikh Radwan di Kota Gaza.

“Gaza terkepung. Mesir di selatan, penjajah di utara dan timur. Dan di sebelah barat adalah laut dan dikuasai angkatan laut penjajah. Inilah situasi kami. Kami akan berada dalam bahaya besar saat perang terjadi lagi,” kata al-Saqa kepada The Electronic Intifada.

Dia bukan satu-satunya yang takut pada malam hari. Kembali pada bulan November, Rand Abu al-Attah, 4, terbangun di tengah malam, lagi-lagi, ia takut akan ledakan yang bisa didengarnya dari luar.

Ini adalah suara yang tidak dapat dihindari oleh para orang tua. Alaa, ibu Rand, mengatakan yang bisa dia lakukan ketika pesawat mulai membom adalah membawa putrinya ke tempat teraman yang bisa dia temukan di rumah, jauh dari jendela dan pintu, dan berdoa.

“Kita tidak bisa melupakan adegan dari tiga perang Israel di Gaza,” Alaa, 29 tahun, mengatakan kepada The Electronic Intifada. “Pada 2014, kami harus melarikan diri ke jalan ketika rumah tetangga kami dibom. Sekarang, anak saya semakin besar dan dia tahu suara pengeboman. Itu membuatnya ngeri.”

Abdallah Zaid, yang pada bulan November harus membawa keluarganya ke jalan karena kedekatan rumah mereka dengan stasiun TV Al-Aqsa, mengatakan ia telah bosan dengan rekaman TV internasional yang menunjukkan orang Israel yang ketakutan berlindung di bunker.

“Tidak ada yang melihat kami berlari tanpa alas kaki di jalan, menuju sekolah dan masjid yang juga akan menjadi sasaran,” katanya.

Dan seperti halnya setiap orang Palestina di Gaza, ia memiliki kisahnya sendiri, tentang perang, yang mendominasi ingatan orang-orang pada dekade terakhir.

Yazan, putranya yang berusia 9 tahun, lahir pada tanggal 27 Desember 2008, ketika serangan besar Israel terhadap Gaza dimulai.

“Itu seharusnya menjadi hari yang bahagia,” katanya. “Tapi ketika istri saya melahirkan di rumah sakit al-Shifa, saya menyaksikan semua mayat datang. Itu bukan hari yang bahagia. Kami tidak ingin perang terjadi lagi.”

 

Sumber:  electronicintifada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *