Suriah Selatan Kembali Membara

Pada 6 Februari kemarin, sebuah video kualitas rendah yang menampilkan serangan IED kepada pos pemeriksaan rezim di Suriah Selatan diunggah ke internet. Sebuah kelompok perlawanan yang relatif kurang terkenal, Perlawanan Rakyat (al-Muqawamah as-Sya’biyyah), mengklaim bertanggung jawab dalam video tersebut.

Kelompok kecil tersebut mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan sejak awal musim gugur lalu, dan ia masih merupakan salah satu kelompok oposisi yang mulai tumbuh di wilayah Suriah selatan. Upaya yang tengah dikerahkan oleh kelompok tersebut maupun oleh kelompok oposisi lainnya, adalah indikator yang baik tentang apa yang akan terjadi pada ‘kemenangan’ pasca-rezim di Suriah.

Setelah rezim Assad merebut kembali provinsi Deraa selatan dan Quneitra pada musim panas lalu, ketegangan yang muncul antara rezim dan bekas kelompok oposisi yang beroperasi di wilayah itu semakin meningkat. Setelah serangan yang dilakukan oleh rezim Assad dan sekutunya, para kelompok oposisi yang beroperasi di wilayah tersebut sebagian besar menyerah atau menandatangani perjanjian amnesti yang diajukan.

Namun, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi (SOHR) mencatat pada September lalu bahwa rezim Assad dan para sekutunya sedang melakukan penangkapan massal terhadap mantan pejuang oposisi di Deraa.

Kelompok Perlawanan Rakyat yang dibentuk pada pertengahan November 2018 lalu, memiliki tujuan untuk menjadi garda terdepan dalam perlawanan rakyat di provinsi Deraa yang dikuasai rezim. Sejak dibentuk, kelompok ini telah mengklaim beberapa serangan terhadap rezim.

Termasuk serangan mereka terhadap rezim di dekat kota Nawa selatan pada akhir November lalu, di mana kelompok tersebut mengklaim bahwa mereka telah membunuh dua tentara rezim. Hanya dua hari setelah serangan itu, kelompok tersebut mengklaim serangan lain terhadap rezim di posisi yang berbeda. Serangan kedua tersebut terjadi di dekat Al Sanamayn dengan menggunakan RPG dan granat.

Pada bulan Desember, serangan lainnya diklaim oleh kelompok tersebut di dekat Al Karak al Sharqi dan Nafus. Pada bulan Januari, kelompok tersebut dilaporkan meningkatkan intensitas operasinya dengan mengklaim bahwa mereka melakukan serangan udara terhhadap bangunan intelijen angkatan udara milik rezim di Karak al Sharqi dan di Ghabaghb pada hari yang sama. Tidak lama setelahnya, kelompok tersebut juga mengklaim serangan terhadap barak milik rezim di dekat Tafas.

Akhir bulan lalu, kelompok tersebut juga mengklaim bahwa mereka menargetkan seorang komandan Hezbollah di dalam atau di dekat kota Damaskus, tetapi hal tersebut belum dikonfirmasi secara independent.

Banyak penyergapan, serangan, dan pembunuhan lainnya yang diklaim oleh kelompok Perlawanan Rakyat di Deraa. Sebagian besar serangan tersebut telah dikonfirmasi oleh pers Suriah atau pers lain yang berbahasa Arab. Namun, video kemarin yang dirilis adalah video pertama yang menunjukkan kampanye grup tersebut ke dunia yang lebih luas.

Kelompok tersebut juga dilaporkan telah meningkatkan upaya mereka untuk merekrut individu-individu ke dalam gerakan perlawanan mereka, serta mengusung sentimen anti-rezim dan anti-Iran kepada para pemuda di Deraa. Mereka memanfaatkan kemarahan rakyat lokal atas wajib militer bagi para rakyat untuk melayani rezim. Dilaporkan bahwa kelompok tersebut telah bekerja untuk merekrut pejuang baru ke dalam pasukannya. Namun, tidak jelas seberapa sukses kelompok tersebut dalam hal perekrutan ini.

Dikatakan bahwa sentimen anti-rezim dan anti-Iran telah muncul di tempat lain juga di Deraa. Graffiti dengan tag ‘Perusahaan Selatan’ juga muncul di Karak al Sharqi, tetapi tidak jelas apakah kelompok ini berniat untuk mengimplikasikan pemberontakan yang lebih besar dari yang sedang terjadi.

Tidak banyak yang diketahui tentang cara kerja kelompok Perlawanan Rakyat, tetapi berdasarkan postingan online mereka sejauh ini, beberapa informasi bisa didapatkan. Logo mereka, contohnya, sangat jelas bahwa mereka menggunakan warna dan bendera revolusi Suriah, yang mengindikasikan brand FSA.

Selain itu, pernyataan yang dikeluarkan oleh kelompok tersebut juga sangat jelas didasarkan pada format pernyataan yang dulu dirilis oleh kelompok-kelompok cabang FSA.

Kemungkinan besar bahwa kelompok tersebut dibentuk oleh atau berisi mantan anggota FSA atau anggota kelompok oposisi lain di Deraa. Pembuatan dan penggunaan IED yang berhasil juga menunjukkan beberapa tingkat pelatihan dan atau pengalaman mereka. penyergapan dan taktik gerilya yang digunakan sebelumnya oleh kelompok tersbut juga menyiratkan pengalaman kelompok tersebut.

Sejauh ini, video IED kemarin masih menjadi satu-satunya bukti kampanye kelompok tersebut untuk melawan rezim dan sekutunya di Suriah selatan. Masih perlu dilihat apakah Perlawanan Rakyat akan mampu untuk mempertahankan pemberontakan tingkat rendah atau mereka akan dihancurkan oleh upaya-upaya ofensif rezim untuk mengusir bibit perlawanan yang masih muda tersebut.

Namun, kelompok yang disebut Perlawanan Rakyat tersebut telah menunjukkan bahwa, bahkan ketika Assad dan para sekutunya mampu merebut kembali beberapa wilayah di Suriah, perang di sana masih jauh dari kata selesai.

 

Sumber:   longwarjournal

 

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *