Janji Allah atau Janji Amerika?

“Allah menjanjikan kemenangan kepada kami, sedang Amerika menjanjikan kekalahan kami. Kita akan lihat, janji yang mana dari keduanya yang akan terpenuhi.”

—Mullah Muhammad Umar—

 

Setelah serangan 11 September, presiden George W. Bush meminta Taliban menyerahkan Usamah bin Ladin. Tanpa syarat. Taliban merespon dengan meminta bukti keterlibatan Usamah dalam serangan tersebut. Namun, Bush mengatakan bahwa “tidak perlu mendiskusikan apakah Usamah bersalah atau tidak.”

Ia mengancam, bahwa Taliban harus membayar mahal atas sikap tersebut. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di muka bumi ini bagi Taliban, ancam Bush.

Mendengar ancaman tersebut, Mullah Umar merespon dengan penuh keyakinan:

Saya mempertimbangkan dua janji. Yang satu adalah janji Allah, yang lain adalah janji Bush. Janji Allah adalah bahwa tanah saya sangat luas. Jika kita memulai perjalanan di jalan Allah, kita dapat tinggal di mana saja di bumi ini dan akan dilindungi … Janji Bush adalah bahwa tidak ada tempat di bumi ini di mana kita dapat bersembunyi [dari Amerika]. Kita akan melihat, mana dari kedua janji yang akan terpenuhi.”

Pada akhirnya, Amerika memborbardir Afghanistan bersama puluhan negara sekutu.

Baca juga:

Perang yang Mahal untuk Amerika

Kini, kita memasuki tahun 2019. Delapan belas tahun sudah berlalu sejak serangan Amerika ke Afghanistan. Harga yang harus dibayar Amerika dan sekutunya sangat mahal.

Triliunan dollar sudah dihabiskan. Lebih dari ratusan ribu jiwa sudah menjadi korban.

50 jurnalis terbunuh, 400 pekerja kemanusiaan terbunuh, 38.000 warga sipil Afghanistan terbunuh, 59.000 pasukan Afghanistan terbunuh, 4.000 pasukan bayaran Amerika terbunuh, 2.400 pasukan Amerika tewas, dan 20.000 pasukan Amerika terluka.

Baca juga:

Lebih dari 320.000 tentara dari Afghanistan dan Irak mengalami cedera otak traumatis yang menyebabkan disorientasi dan kebingungan, 138.000 memiliki kelainan stres pasca-trauma. Mereka mengalami kewaspadaan berlebih dan sulit tidur.

Rata-rata, 20 veteran bunuh diri setiap hari menurut sebuah studi Veterans Affairs (VA) pada tahun 2016. Veteran Irak dan Afghanistan Amerika menemukan bahwa 47 persen anggotanya mencoba bunuh diri setelah kembali dari tugas aktif. Kelompok itu menganggap bunuh diri di kalangan veteran sebagai masalah nomor satu.

Untuk inikah Amerika berperang?

Triliunan dollar pajak rakyat Amerika dihabiskan untuk mengebom, merampas, dan menyiksa rakyat Afghanistan. Triliunan dollar lainnya harus dikeluarkan untuk merawat para vetaran yang terluka.

Tak hanya itu, Afghanistan juga menunjukkan bagaimana Amerika kehilangan posisi moralnya di hadapan dunia. Anda tidak akan bisa menampilkan diri sebagai bangsa yang beradab disaat Anda menginvasi negara miskin, menculik rakyatnya, menyiksanya dalam sebuah kamp kematian, serta memanjakan bandit-bandit lokal.

Perang Afghanistan merepresentasikan kegagalan terbesar dalam sejarah militer Amerika. Indikator paling signifikan bahwa perang Amerika di Afghanistan berujung pada kegagalan adalah keinginan mereka untuk secara terbuka bernegosiasi dengan musuhnya.

Ingat, tujuan militer dari Operasi Kebebasan Abadi (Operation Enduring Freedom) ini adalah untuk menghancurkan Taliban dan mencegah Afghanistan sebagai tempat perlindungan teroris. Namun, kini Amerika justru berusaha mengakhiri perang dengan bernegosiasi dengan Taliban. Ini, menurut sejarawan Andrew J. Bacevich adalah pengakuan kegagalan secara de facto.

Baca juga:

Jadi, mengapa Amerika kalah di Afghanistan? Menurut Ted Ral, terlalu gampang menjawabnya: Afghanistan adalah kuburan imperium. Kekalahan Amerika sudah terjadi bahkan sebelum perang dimulai, tambah Ted Ral.

Menduduki dan mengelola Afghanistan adalah tugas yang sangat sulit. Sangat sedikit sekali imperium yang berhasil melakukannya.

Dalam tulisannya di the Atlantic, Peter Beinart menggambarkan perang yang dipimpin AS di sana sebagai hal yang sia-sia: Taliban tidak mungkin untuk menurunkan nilai tawar karena waktu berada di pihak mereka. Mereka hanya harus menunggu sampai Amerika Serikat memutuskan untuk pergi.

Amerika Serikat sudah terlibat di Afghanistan selama hampir 17 tahun, menjadikannya sebagai konflik terpanjang dalam sejarah Amerika (kecuali Vietnam, tergantung pada bagaimana kita menafsirkan kronologi konflik tersebut). Meskipun telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk Afghanistan daripada untuk membangun kembali Eropa setelah Perang Dunia II, tak banyak kemajuan yang telah dibuat.

Kesabaran Taliban

“Kalian memang punya jam tangan, tapi kami punya waktu. Batere jam kalian akan habis, namun waktu kami dalam perjuangan ini tidak akan pernah berakhir. Dan kami akan menang.”

—Mujahid Rahman, Pejuang Imarah Afghanistan—

 

Kata-kata di atas terus menghantui Amerika. Dan kata-kata tersebut sangat mewakili bagaimana Amerika dan Taliban menyikapi perang di Afghanistan saat ini. Para pejuang Taliban sangat yakin bahwa Allah bersama mereka. Mereka menjalani perjuangan dengan penuh kesabaran.

Waktu bersama mereka, detail-detail yang lain pun seolah tidak lagi relevan: sudah berapa lama perang berlangsung, kapan akan berakhir, bagaimana garis waktunya, beban ekonomi, keuangan, dan politik yang sehari-hari terus menguras tenaga dan pikiran pembuat kebijakan Amerika. Para pejuang Taliban tidak terlalu tertarik dengan angka dan statistik. Mereka hanya fokus pada kemenangan yang mereka yakini akan mereka capai.

Baca juga:

Ketika Mullah Mohammed Omar dan para santri meluncurkan pertempuran mereka melawan para panglima perang di negara itu pada tahun 1994, mereka tidak menetapkan tanggal target untuk menguasai Kabul. Yang terjadi kemudian, hanya perlu dua tahun bagi mereka untuk menguasai ibu kota.

Lima tahun kemudian, ketika Amerika menyerang, mereka tidak kalah terkejut dengan seberapa cepat Imarah Islam mereka runtuh. Tetapi mereka mulai membangun kembali gerakan mereka yang hancur, masih tanpa kerangka waktu yang ditentukan. “Kami tidak pernah memiliki kalender, jam tangan, atau kalkulator seperti yang dilakukan orang Amerika,” kata seorang mantan menteri Imarah Islam Afghanistan “Dari sudut pandang Taliban, waktu bahkan belum dimulai.”

Taliban yakin, bahwa Amerika lah yang pertama kali akan keluar dari peperangan. “Ketika pasukan Amerika datang ke sini, mereka mulai menyalakan stopwatch. Menghitung setiap detik, menit, dan jam hingga mereka pulang kembali ke rumah,” tutur mantan menteri tersebut.

Tidak seperti tentara Amerika, Taliban muda memiliki tidak terlalu rindu dengan kenyamanan hidup. “Pejuang muda kami memiliki kehidupan yang ideal dengan sepeda motor, AK-47, RPG, rambut panjang, dan tujuan suci untuk diperjuangkan,” katanya. “Mereka tidak memikirkan waktu dan konsekuensi, hanya perjuangan tanpa akhir untuk meraih kemenangan.” Dia mengatakan bahwa kalaupun para pejuang muda mengukur waktu, itu hanya berdasarkan panjang rambut mereka: “Dibutuhkan sekitar satu tahun bagi rambut mereka untuk tumbuh hingga setengah meter.”

Para pejuang yang tak henti-hentinya membanggakan tentang daya tahan mereka mungkin terdengar seperti propaganda, tetapi jika dilihat dari poin tersebut, para pejuang memiliki jawaban yang meyakinkan: terlepas dari semua kematian dan cedera, panjangnya penjara, kurangnya dana, makanan, dan perawatan medis, dan jauhnya mereka dari orang yang mereka cintai, relatif sedikit pasukan Taliban yang pernah membelot.

Baca juga:

Tidak ada satu pun komandan senior yang beralih pihak atau menyerah dalam pertempuran, dan hanya beberapa pejuang tingkat rendah yang bergabung dengan program amnesti dan reintegrasi pemerintah Kabul. “Jika Taliban khawatir tentang panjangnya perang dan berapa lama lagi mereka bisa berkorban, akan ada pembelotan besar,” kata mantan menteri tersebut. “Itu belum terjadi. Dan kami masih mendapatkan semua rekrutan baru yang kami butuhkan.”

Sejarah memberikan bayangan panjang pada mereka yang tidak menghargai sejarah Afghanistan dan nilai-nilai rakyatnya yang kokoh. Kuburan imperium itu berjalan jauh dan dalam, yang berasal dari nilai-nilai kemuliaan yang mereka miliki. Bangsa yang tidak mau ditindas, merdeka dan tidak terlalu rindu dengan kenyamanan hidup.

Dalam sebuah perang panjang, bukan persenjataan dan kecanggihan teknologi yang menentukan. Bukan jam yang suatu saat kehabisan batere, tapi kesabaran menjalani waktu hingga tercapai tujuan. Dan inilah yang dimiliki Taliban, dan tidak dimiliki oleh Amerika Serikat. Bahkan bagi mereka, waktu belum dimulai.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *