Saat Hoax Trump Soal Perang Afghanistan Terbongkar

Siapa Yang Sebenarnya Kelelahan Berperang, Taliban Atau Amerika?

Selama akhir pekan di awal Februari lalu, Presiden Donald Trump mengulangi desas-desus bahwa Taliban sudah lelah berperang, dan itulah yang mendorongnya ke meja perundingan. Para pemimpin politik, militer, dan intelijen, serta para analis dan pakar di Afghanistan telah mengklaim bahwa Taliban kelelahan dalam pertempuran selama lebih dari 15 tahun. Namun faktanya Taliban terus berjuang sementara AS sangat ingin pulang.

Trump membuat klaim usang tentang klaim kelelahan Taliban selama wawancara dengan CBS News :

Dan sudah waktunya. Dan kita akan lihat apa yang terjadi dengan Taliban. Mereka menginginkan perdamaian. Mereka lelah. Semua orang lelah. Kami ingin memiliki- Saya tidak suka perang tanpa akhir. Perang ini. Apa yang kita lakukan adalah berhenti pada titik tertentu.

Trump benar tentang satu hal: AS tentu bosan dengan pertempuran di Afghanistan. Inilah sebabnya mengapa Zalmay Khalilzad telah ditunjuk untuk menegosiasikan penarikan tentara AS, dan akhirnya menyerah, dengan Taliban. Tapi, selama 17 tahun lebih pertempuran di Afghanistan telah menunjukkan kepada dunia bahwa Taliban sama sekali tidak lelah.

Laporan-laporan tentang “kelelahan” Taliban dapat ditelusuri mulai digemakan pada tahun 2004, ketika Christian Science Monitor (CSM) mengutip Al-Haj Mullah Abdul Samad Khaksar, mantan menteri dalam negeri Imarah Islam yang meninggalkan Taliban.

“Sebagian besar Taliban lokal lelah berperang, mereka ingin kembali dan tinggal di sini dengan damai,” kata Khaksar kepada CSM .

Namun dalam dua tahun, Taliban yang dikatakan lelah malah lebih ofensif di selatan dan timur, dan mengambil kendali atas wilayah besar negara itu yang akhirnya memaksa militer AS untuk menyerang dengan lebih dari 100.000 prajurit.

Kemudian pada tahun 2011, saat puncak pertempuran. “Baik barat dan Taliban sudah lelah sekarang dan ingin bergerak ke arah resolusi,” tulis The Guardian. Taliban yang lelah pasti akan memasuki pembicaraan damai dan puas dengan (dikte) pemerintah AS dan Afghanistan.

Pada 2013, Russia Today menurunkan sebuah tulisan yang menyatakan bahwa Taliban “lelah perang” dan siap untuk membentuk partai politik (Taliban secara eksplisit sering menyatakan pemilihan dilarang dalam Islam). Pakar Afghanistan Rashid Waziri mengatakan bahwa “Taliban lelah dengan perang dan itu akan menjadi langkah ke arah yang benar jika mereka meluncurkan gerakan politik.”

Dan Taliban tidak pernah meluncurkan gerakan politik ala demokrasi. Sebagai gantinya, ia memperolah keuntungan dari akhir lonjakan tentara AS dan penarikan sebagian besar pasukan AS dan mulai merebut kembali kendali atas distrik-distrik terpencil Afghanistan. Hari ini, militer AS mengakui bahwa hampir separuh Afghanistan dikendalikan atau diperebutkan oleh Taliban (LWJ memperkirakan bahwa lebih dari 60 persen distrik Afghanistan diperebutkan atau dikendalikan oleh Taliban).

Dua tahun kemudian, Jenderal John Campbell, yang kemudian memimpin pasukan AS dan NATO di Afghanistan, berbicara tentang Taliban yang lemah pada bulan Mei 2015, yang siap untuk perdamaian. Dari Sputnik News :

Taliban lelah dari pertempuran selama 14 tahun dan ingin melanjutkan hidup mereka, Campbell berpendapat, sehingga mereka mungkin siap dan bersedia untuk terlibat dalam pembicaraan damai dengan pemerintah Afghanistan.

Namun kenyataannya Taliban yang dikatakan kelelahannya itu menyerbu Kota Kunduz beberapa bulan kemudian, dan menguasainya selama lebih dari dua minggu sebelum pasukan AS dipaksa untuk campur tangan.

Satu tahun kemudian, seorang yang mengaku komandan Taliban, mengatakan kepada The Washington Post bahwa Taliban lelah dan pejuangnya akan meletakkan senjata jika mereka yang bisa mendapatkan pekerjaan.

“Taliban lelah dan akan bergabung jika pemerintah membayar mereka, dan jika pemerintah menyediakan pekerjaan untuk mereka,” kata Hanafi.

AS berusaha membayar ribuan pejuang Taliban untuk keluar dari medan pertempuran. Upaya itu gagal. Pada akhir 2016, Taliban kembali menduduki Kota Kunduz.

Ada banyak contoh pernyataan lain tentang Taliban yang lelah dan hancur yang putus asa untuk membuat kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran dan berpartisipasi dalam pemerintahan Afghanistan. Namun faktanya Taliban tidak kelelahan, mereka terus berjuang dan mendapatkan dukungan. AS yang gagal membuat Taliban kelelahan dan melumpuhkannya . justru Amerika mengumumkan bahwa mereka akan mundur dari Afghanistan bahkan sebelum perundingan damai dimulai, dengan demikian memberi Taliban kemenangan besar. Jadi seperti inilah bentuk kelelahan Taliban yang dimaksud Trump.

 

 

Sumber:   longwarjournal

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *