Sabotase Perjanjian Damai Kabul Luncurkan Pemboman

Syed Mohammad Akbar Agha menuduh pemerintahan Presiden Ghani telah menyabotase perundingan yang sedang dibicarakan dengan cara melakukan sejumlah serangan terhadap warga sipil.

Agha adalah mantan pemimpin sayap Taliban, Jaish-e-Muslimeen, yang berperang melawan pasukan Afghanistan setelah AS menyerang pemerintahan Taliban pada 2001.

“Kembalinya perdamaian tidak akan tercapai di Afghanistan jika pemerintahannya terus melakukan serangan udara, yang mengakibatkan banyak korban dari kalangan sipil,” kata Agha.

Dalam sebuah konferensi pers di Kabul pada hari Rabu, Syed Mohammad Akbar Agha, yang saat ini mejabat sebagai pemimpin Rah-e-Nejat (Dewan Keselamatan Tinggi), mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Ashraf Ghani sedang menyabotase pembicaraan damai antara perwakilan Taliban dan pejabat AS yang tengah diadakan di Qatar.

“Pemerintah Afghanistan tidak menginginkan perdamaian. Mereka masih menargetkan daerah-daerah sipil sambil mengklaim bahwa mereka menargetkan tempat persembunyian Taliban,” kata Agha kepada Al Jazeera. Agha menambahkan bahwa serangan udara di Afghanistan dilakukan ‘hampir setiap hari’.

“Kami semua positif tentang perdamaian dan sangat serius mengenai hal tersebut, terutama karena sekarang Mullah Abdul Ghani Baradar terlibat langsung dalam pembicaraan di Qatar,” katanya.

Pejabat Taliban dan Amerika Serikat tengah bertemu untuk hari ketiga pada hari Rabu (27/2) di Doha, Ibukota Qatar. Mereka membahas dua masalah utama dalam pembicaraan tingkat tinggi tersebut, yaitu; penarikan pasukan AS dari Afghanistan, dan jaminan bahwa Afghanistan tidak akan digunakan oleh pejuang asing bersenjata.

Baca juga:

Pembicaraan tersebut telah mendapatkan momentumnya dalam beberapa bulan terakhir setelah AS memutuskan untuk berhubungan dengan Taliban, yang telah melancarkan perlawanan bersenjata yang sangat mematikan sejak 2001.

Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump berusaha untuk mengakhiri perang selama 17 tahun tersebut, yang merupakan perang terpanjang AS. Perang tersebut juga telah menewaskan ribuan orang.

Menurut PBB, setidaknya 32,000 warga sipil telah tewas dan 60.000 lainnya terluka dalam satu dekade terakhir.

 

Kematian Warga Sipil

Baradar, salah satu pendiri Taliban, tengah menghadiri perundingan di Doha untuk yang pertama kalinya. Dia adalah perwakilan tingkat tertinggi yang ikut serta dalam negosiasi dengan utusan perdamaian khusus dari AS, Zalmay Khalilzad.

Taliban telah berulangkali menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, dan menyebutnya sebagai boneka AS.

“Kami, seperti rakyat Afghanistan pada umumnya, menginginkan kedamaian di negara ini. Taliban sekarang duduk untuk berbicara, yang berarti mereka juga siap untuk perdamaian,” kata Agha kepada Al Jazeera.

“Tetapi jika warga sipil yang tidak bersalah terus terbunuh dalam serangan udara seperti ini, maka mereka tidak akan pernah mempercayai pemerintah. Dan bahkan, pada kenyataannya, akan menentangnya.”

Agha, seorang mantan pemimpin sayap Jaish-e-Muslimeen Taliban, telah berperang melawan pasukan Afghanistan setelah AS menyerang pemerintahan Taliban pada 2001. Dewannya saat ini nampaknya tengah melakukan upaya untuk memulihkan perdamaian di Afghanistan.

Baca juga:

Beberapa pejabat dari pemerintahan Afghanistan tidak segera menyanggupi untuk bereaksi atas komentar Agha dalam konferensi pers tersebut.

Tahun lalu, Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menyatakan ‘keprihatinan yang amat mendalam’ atas meningkatnya jumlah korban sipil akibat serangan udara.

Laporan tersebut mengatakan bahwa serangan udara telah menewaskan sebanyak 149 orang dan melukai lebih dari 200 warga sipil pada paruh pertama tahun 2018. Angka tersebut naik sebanyak 52 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Di antara insiden yang mematikan tersebut adalah apa yang terjadi di provinsi Kunduz, pada bulan April 2018. Di mana serangan udara pasukan Afghanistan menewaskan atau melukai 107 orang, kebanyakan di antaranya adalah anak-anak. Serangan tersebut dilakukan oleh pasukan Afghanistan pada saat anak-anak tersebut melakukan perkumpulan keagamaan.

Pemerintah mengatakan bahwa pemboman tersebut dilakukan untuk menargetkan perkumpulan Taliban.

 

Sumber: Aljazeera

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *