Para Pengkhianat di Tengah Kita: Ulamanya Para Penjajah

Sejak zaman penjajahan terhadap umat Islam 200 tahun yang lalu, para penjajah menemukan bahwa cara terbaik untuk menghindari perlawanan dari umat Islam adalah dengan menggaet para ulama. Dalam sejarah, para ulama tersebut digaet untuk menggunakan argumen-argumen agamis dalam mendukung para penjajah.

 

Hari ini, jika ada sebuah forum yang membicarakan tentang perdamaian dunia, ada satu tema yang tidak pernah luput dari pembahasan, yaitu Islam. Forum semacam itu tidak pernah mendiskusikan tentang invasi Amerika Serikat  yang menewaskan lebih dari dua juta jiwa umat Islam atas nama menyebarkan demokrasi dan kebebasan. Forum tersebut tidak pernah mendiskusikan tentang hampir setengah juta warga Suriah yang dibunuh oleh rezim Assad, tentang jutaan Muslim Rohingya yang dibunuh, diusir, dan dipersekusi pemerintah Myanmar, tentang jutaan Muslim Uyghur yang ditindas pemerintah China atas nama loyalitas pada negara, tentang warga Ghaza yang dijadikan laboratorium percobaan senjata baru Israel, tentang warga Yaman yang dibombardir aliansi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—dengan dukungan senjata dari Amerika, tentang penduduk Kashmir yang ditindas oleh rezim Modi di India.

Forum-forum semacam itu seolah menjadikan Islam sebagai antonim dari perdamaian. Demonisasi terhadap Islam mulai dilakukan, untuk membangun legitimasi serangan. Islam dan umat Islam tertuduh sebagai sumber utama kekacauan dunia hari ini. Karenanya, perlu ada intervensi dari para pemimpin dunia untuk menghadirkan Islam yang lebih “damai” (baca: jinak).

Dan untuk itulah beberapa tokoh agama Islam didatangkan. Mereka diharapkan menjadi agen untuk mendefinisikanan ulang Islam. Tujuannya adalah agar umat Islam lebih jinak, tunduk dan patuh pada imperialisme Barat hari ini.

Ini bukanlah sebuah fenomena baru. Pada abad kesepuluh, untuk pertama kalinya program demonisasi Islam dimulai. Pada waktu itu, dari sudut pandang Eropa, Islam digambarkan sebagai ancaman. Perang Salib adalah contoh pertama demonisasi Islam dengan menggunakan garis agama. Bukan Turki atau Arab yang diserang, tapi Islam.

Selanjutnya, pola yang sama dilanjutkan oleh kolonialis Inggris, Perancis dan Belanda, saat menghadapi perlawanan umat Islam.

Baca artikel EDITORIAL lainnya:

Menurut ilmuwan politik Dr. Eqbal Ahmed, selama 1.400 tahun  sudah ada sebuah upaya yang terorganisir untuk mendemonisasi Islam. Namun, yang berbeda saat ini adalah upaya tersebut lebih terorganisir dan berkelanjutan, karena sarananya sudah berubah. Hari ini upaya tersebut semakin masif, dengan adanya sarana komunikasi massa yang lebih canggih.

Sejak zaman penjajahan terhadap umat Islam 200 tahun yang lalu, para penjajah menemukan bahwa cara terbaik untuk menghindari perlawanan dari umat Islam adalah dengan menggaet para ulama. Dalam sejarah, para ulama tersebut digaet untuk menggunakan argumen-argumen agamis dalam mendukung para penjajah.

Untuk memuluskan invasi ke Mesir, Napoleon menciptakan propaganda palsu bahwa Prancis adalah Muslim yang menghancurkan kepausan. Ia memuji Islam dalam rangka memenangkan hati dan pikiran orang-orang Mesir. Napoleon berulang kali menegaskan bahwa dia berjuang untuk Islam. Dia mengundang enam puluh ulama al-Azhar ke tempat tinggalnya dan membuat mereka terkesan dengan pengetahuan dan penghormatannya terhadap Al Quran. Segala sesuatu yang dikatakan Napoleon diterjemahkan untuk dikonsumsi secara publik. Strategi ini berhasil: rakyat Mesir tidak lagi memandang buruk penjajahan Prancis.

Napoleon mengundang enam puluh ulama al-Azhar ke tempat tinggalnya dan membuat mereka terkesan dengan pengetahuan dan penghormatannya terhadap Al Quran. Segala sesuatu yang dikatakan Napoleon diterjemahkan untuk dikonsumsi secara publik. Strategi ini berhasil: rakyat Mesir tidak lagi memandang buruk penjajahan Prancis.

Para ulama ini kemudian menghabiskan waktunya untuk mengajarkan keutamaan-keutamaan patuh dan setia terhadap para ‘penguasa’ (baca: penjajah), dan betapa indahnya kebersamaan dan berdamai dengan mereka, betapa idealnya budaya mereka, dan betapa majunya negara mereka. Ulama semacam ini akan mengajarkan umat Islam untuk menolak pemerintahan Islam, menolak khilafah, menolak jihad, menolak syariat, menolak ekslusivisme beragama, dan lain sebagainya. Mereka akan mempromosikan konsep al-insaniyah qabla al-tadayyun (kemanusiaan sebelum keagamaan), yang merupakan pilar utama pemikiran humanisme liberal.

Baca artikel EDITORIAL lainnya:

Apapun yang dapat mengancam kekuasaan kolonial akan dilabel sebagai ‘terbelakang’ atau ‘primordial’ dan, pada akhirnya, ‘tidak Islami’. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa umat Islam tidak akan melawan rezim politik yang baru, yang telah dipaksakan keberadaannya kepada mereka. Bahkan, umat Islam malah akan tunduk dan menerima dengan sukarela para penjajah itu serta dominasi sistematik yang mereka lakukan.

Banyak ulama-ulama besar yang memainkan peran di atas bagi para penjajah dalam 150 tahun belakangan ini. Namun, tentunya ada juga ulama lain yang memilih untuk melawan para penjajah. Bagi mereka, itu semua adalah bentuk jihad untuk membela umat. Ulama-ulama semisal ini antara lain Umar Mukhtar, Abdul Al-Qadir al-Jazairi, Imam Syamil, hingga Imam Bondjol. Para ulama semisal ini dilabeli sebagai ‘barbar’ oleh para ulama yang telah di’pegang’ oleh para penjajah. Di zaman sekarang, mereka menggunakan label ‘ekstrimis’ atau ‘teroris’.

Intinya, inilah masalah yang paling utama pada ulama-ulama yang melegitimasi diktator-diktator sekuler. Mereka menyokong proyek neo-kolonial masa kini untuk melakukan sekulerisasi dan menjinakkan dunia Islam melalui diktator-diktator brutal ‘boneka’ Barat. Mereka adalah agen-agen imperialisme Barat.

Mereka ingin menarik umat Islam ke bawah kendali Barat (dan Israel) secara ekonomi, politik, sosial, budaya, dan –tentunya—agama.

Dan, jika kita perhatikan, acara-acara ‘perdamaian’ semacam itu selalu menghadirkan perwakilan Zionis, Barat, dan kelompok-kelompok ‘anti ekstrimis’. Inilah ‘perdamaian’ yang mereka sokong: damailah ketika dunia Barat memperkosamu! Damailah ketika para diktator membantaimu! Berdamailah ketika para misionaris dan zionis mengindoktrinasimu dan menjauhkanmu dari agamamu!

Abdullah bin Bayyah, Hamza Yusuf, bersama dengan beberapa tokoh Yahudi dalam sebuan Forum Perdamaian di Uni Emirat Arab bulan Desember 2018.

 

Kelakuan semacam ini adalah sebuah pengkhianatan besar terhadap umat Islam dan harus dikecam dengan sekeras mungkin, agar kelakuan tersebut tidak dinormalisasi dan diterima oleh umat Islam secara keseluruhan.

Abu Dzar pernah pertanya kepada Nabi SAW,

“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal? Beliau menjawab, “Para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Ahmad)

Dan, bicara soal dukungan pada proyek kolonial berupa sekularisasi dan liberalisasi, seorang ulama tidak harus menghadiri sebuah forum perdamaian dunia untuk melakukannya. Ada sebagian tokoh Islam yang telah melakukannya tanpa perlu meninggalkan negaranya masing-masing. Mereka hanya perlu menyokong platform-platform politik liberal yang memberikan sokongan terhadap perenialisme (semua agama sama), LGBT, feminism radikal, penghapusan institusi keluarga dan pernikahan, dan lain sebagainya.

Baca artikel EDITORIAL lainnya:

Dukungan kuat mereka terhadap narasi-narasi Barat beserta segala kebijakannya telah menjajah fikiran umat Islam dan mendukung berlangsungnya proyek-proyek kolonial di dunia Islam. Mereka memberikan topeng berupa ‘legitimasi agamis’ atas pandangan-pandangan yang sangat-sangat bertentangan dengan Islam dan merusak kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

Lebih lanjut, mereka menikmati kucuran dana dari kelompok-kelompok liberal dan memiliki akses terhadap lingkar-lingkar kekuasaan yang berpengaruh dalam organisasi-organisasi pemerintah maupun non-pemerintah, dan juga lembaga-lembaga ‘think tank’, Lembaga dan Yayasan ‘kemanusiaan’, serta perusahaan-perusahaan multi-biliyuner.

Tentunya, masih banyak Imam dan ulama yang berlepas diri dari kekejian tersebut. Kita perlu menyokong ulama-ulama hanif ini, atas keberanian dan prinsipnya dalam melawan arus. Mereka inilah Umar Mukhtar zaman ini. Semoga Allah selalu melindungi para ulama al-Haqq dan kita juga, dan semoga Allah melindungi umat Islam dari semua diktator serta para ulama pengkhianat.

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *