Poin Penting Pembicaraan Amerika dan Imarah Islam di Qatar

“Dua masalah utama dibahas dalam perundingan Doha untuk menemukan solusi konflik”

–Suhail Shaheen (juru bicara negosiator Imarah Islam,Taliban)–

 

Kantor biro Politik Imarah Islam Afghanistan di Doha Qatar

Dua masalah utama yang dibahas dalam pembicaraan tingkat tinggi antara Taliban dan Amerika Serikat di Qatar adalah penarikan pasukan AS dari Afghanistan dan jaminan bahwa Afghanistan tidak akan digunakan untuk menyerang negara lain, kata juru bicara Taliban kepada Al Jazeera.

Di hari kedua perundingan di Doha, Stefanie Dekker dari Al Jazeera bertanya kepada Suhail Shaheen apa jaminan Taliban dapat menawarkan untuk mengakhiri operasi militer mereka setelah kesepakatan tercapai.

“Ketika pendudukan telah berakhir, ada penarikan penuh pasukan asing dari Afghanistan dan terwujud pemerintah Islam Afghanistan independen, saya pikir tidak perlu operasi militer dan perang,” kata Shaheen kepada Al Jazeera.

“Jadi, akan ada perdamaian berkelanjutan di Afghanistan, dan semua orang militer dan orang-orang kami, mereka akan dimasukkan dalam tentara nasional,” tambahnya.

Baca juga:

Salah satu pendiri Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, menghadiri perundingan untuk pertama kalinya sebagai deputi politik Taliban. Dia adalah perwakilan tingkat tertinggi untuk mengambil bagian dalam negosiasi dengan delegasi AS yang dipimpin oleh Zalmay Khalilzad, utusan khusus AS untuk perdamaian.

Khalilzad berkata, “Ini bisa menjadi momen yang signifikan.” dalam tweet sebelum pembicaraan dimulai pada hari Senin (25/2).

Pertemuan ini adalah yang terbaru dari serangkaian pembicaraan antara Khalilzad dan perwakilan Taliban dan pihak-pihak yang berkepentingan di sejumlah negara di kawasan itu sejak utusan AS itu ditunjuk pada September tahun lalu.

Dalam enam hari pertemuan di Doha bulan lalu, Khalilzad mengatakan ada “kemajuan signifikan” telah dibuat pada dua masalah penting, penarikan pasukan potensial, serta jaminan bahwa Taliban tidak akan menyediakan atau tidak membiarkan kelompok-kelompok tempur berkembang di Afghanistan.

Taliban telah berulang kali menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintah Kabul, menyebutnya sebagai “boneka” AS.

Suhail Shaheen, juru bicara negosiator Taliban

 

Mullah Baradar menjadi harapan Baru

Salah seorang pendiri Taliban dan mantan wakil Mullah Umar, Mullah Baradar berpartisipasi dalam pembicaraan terakhir di Qatar.

Baradar, mantan nomor dua Taliban, dipandang sebagai pemain berpengaruh di Imarah Islam. Dia membantu Mullah Omar, yang meninggal pada 2013, untuk membentuk Taliban di Afghanistan pada 1994.

Dia melarikan diri ke Pakistan setelah Taliban digulingkan oleh invasi pimpinan AS pada tahun 2001. Namun ia ditangkap pihak keamanan Pakistan pada 2010. Dia dibebaskan Oktober lalu dan baru-baru ini diangkat sebagai kepala kantor politik Taliban di Doha, yang didirikan di tahun 2013.

Saat ini sekitar 14.000 tentara AS berbasis di Afghanistan sebagai bagian dari misi NATO yang dipimpin AS untuk melatih, membantu, dan memberi nasihat kepada pasukan Afghanistan. Taliban mengatakan bahwa kehadiran pasukan asing sebagai penghalang utama perdamaian.

Baca juga:

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk terlibat pembicaraan langsung dengan Taliban, yang telah melakukan perlawanan bersenjata mematikan terhadap AS dan sekutunya sejak invasi AS tahun 2001.

Langkah menuju perdamaian telah meningkat setelah Taliban melakukan serangan hampir setiap hari di negara itu yang memakan banyak korban pasukan keamanan Afghanistan bentukan Barat. Taliban mengendalikan hampir separoh negara tersebut.

Pertempuran sengit berlanjut di Afghanistan dengan serangan udara AS yang menargetkan Taliban dan kelompok-kelompok lain, dan serangan-serangan Taliban. Rakyat sipil yang banyak jadi korban, terutama karena serangan udara NATO dan pemerintah kabul yang didukung AS.

Tahun lalu adalah yang paling mematikan bagi warga sipil di Afghanistan menurut sebuah badan PBB, UNAMA dengan 3.804 kematian sipil pada 2018.

PBB mengatakan setidaknya 32.000 warga sipil telah tewas dan 60.000 lainnya terluka selama satu  dekade terakhir, ketika organisasi tersebut mulai mengumpulkan data.

 

 

Sumber: aljazeera

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *