Memahami Logika Taliban Tentang Perundingan Damai

Pembicaraan damai berlangsung tanpa gangguan. Sesi maraton selama enam hari yang intens pada bulan Februari lalu mungkin hanya sesaat dibandingkan perang yang telah berlangsung jauh lebih lama.

Namun, Perwakilan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan, Zalmay Khalilzad kembali dari negosiasi dengan Taliban di Qatar bulan lalu dengan pesan harapan. Ia memilih untuk menyiarkan pesannya melalui platform media sosial yang belum ada ketika konflik di Afghanistan dimulai.

Saat mengemban tugasnya untuk mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah Amerika, Khalilzad optimis. Dia melangkah lebih jauh dengan memberi tanda selama wawancara baru-baru ini dengan stasiun televisi lokal di Kabul bahwa “mungkin” untuk mencapai kesepakatan damai dengan Taliban sebelum pemilihan presiden tahun ini di Afghanistan, yang sekarang ditunda hingga bulan Juli.

Baca juga:

Hal itu menghadirkan optimisme. Tetapi harapan untuk mencapai solusi politik ini menunjukkan para pejabat AS tidak memiliki pemahaman konkret tentang pandangan dari para pria yang duduk di sisi lain meja terhadap proses negosiasi. Bukan karena Taliban malu mengekspresikan pandangan mereka. Sekumpulan informasi dalam bahasa Pashtun dipublikasikan secara online: maklumat, perintah, fatwa, dan manifesto, semuanya menunggu untuk diteliti. Sikap yang diungkapkan sangat meyakinkan, dan sangat mengkhawatirkan prospek perdamaian abadi.

Logika Taliban terhadap Negosiasi Perdamaian

Seperti halnya pembenaran untuk “jihad” mereka di Afghanistan berdasarkan “syariah,” Taliban juga merujuk kepada “syariah” untuk memandu “negosiasi” mereka dengan Amerika. Kelompok ini telah menerbitkan serangkaian komentar mirip fatwa dengan judul “Jihad kontemporer Afghanistan berdasarkan syariah” di situs webnya yang berbahasa Pashtun. Pada bulan April tahun lalu, mereka menyatakan:

Menanggapi pendudukan AS, jihad defensif adalah wajib, menurut syariah, dan jika musuh menginginkan perdamaian, maka perdamaian juga harus didasarkan pada syariah.

Perdamaian menurut “syariah” dijelaskan lebih lanjut dalam dokumen-dokumen berikutnya. Pada bulan Juni tahun lalu, Taliban menegaskan kembali bahwa tujuan “jihad” mereka saat ini adalah “mengakhiri pendudukan asing” dan pengenalan “aturan syariah di Afghanistan.” Menurut kelompok itu, tujuan dari segala jenis perdamaian haruslah tepat “sama dengan tujuan jihad yang sedang berlangsung” itu sendiri.

Dalam manifesto keagamaannya yang berjudul, “Tujuan perdamaian dengan Amerika harus didasarkan pada syariah,” Taliban mempertahankan pendapat berikut:

Berdasarkan syariah, perdamaian adalah jihad moral, jika tujuan jihad yang disebutkan [akhir pendudukan dan aturan syariah] dapat dicapai melalui perdamaian, maka harus ada perdamaian. Dan jika tujuan muslim tidak tercapai dengan perjanjian damai, maka perdamaian tersebut dilarang, dan jihad terhadap penjajah hukumnya tetap wajib.

Yang diungkapkan oleh data-data ini adalah bahwa Taliban percaya bahwa “orang-orang Afghanistan” memiliki dua pilihan untuk masa depan di Afghanistan: “jihad” atau “perdamaian.” Tujuan dari kedua opsi itu sama: “mengakhiri pendudukan asing” dan “pemerintahan syariah.””Logika Taliban untuk perdamaian ini konsisten, dengan ideologi yang dipandang sebagai cara untuk merekrut pejuang dan, sampai batas tertentu, untuk menarik dukungan lokal bagi gerakannya.

Tetapi hal itu menciptakan kesan bahwa Taliban tidak akan menyetujui adanya sejumlah kecil pasukan Amerika di Afghanistan. Dengan melakukan hal itu berarti kelompok itu telah meninggalkan daya tarik ideologisnya untuk membebaskan Afghanistan dari “pendudukan Amerika,” suatu cara yang dapat dan telah meningkatkan legitimasi dari rakyat Afghanistan.

Baca juga:

Rumor menyebar pada bulan Desember bahwa Taliban dan Khalilzad setuju bahwa Amerika Serikat akan diizinkan memiliki dua pangkalan militer di Afghanistan. Taliban segera membantahnya. Untuk mempertahankan narasi mereka, Taliban bersikeras mereka akan terus berjuang sampai tentara terakhir Amerika meninggalkan Afghanistan.

Jadi, negosiator AS akan terlihat naif untuk percaya bahwa solusi politik dengan kelompok itu akan memungkinkan Amerika untuk mempertahankan pangkalan militer. Hasil seperti itu akan menuntut Taliban untuk bergeser secara signifikan dalam narasi perjuangan mereka, mengkompromikan kredibilitas mereka dengan calon rekrutmen dan segmen populasi yang bersimpati. Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang hal itu.

 

Baca halaman selanjutnya:  Bicara dengan Amerika, Bukan dengan Pejabat Afghanistan

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *