Kuatnya Keislaman Sang Pahlawan Jawa

Kuatnya Keislaman Sang Pahlawan Jawa

(Seri Kisah Perjuangan Perang Sabil Diponegoro Bag.1)

Pangeran  Diponegoro  lahir  sekitar  1785. Pangeran ini merupakan putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III yang memerintah pada tahun 1811 hingga 1814. Ibunya bernama, Raden Ayu Mangkarawati, yang merupakan keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram.

Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur. Saat masih kanak-kanak, Diponegoro telah digadang-gadang oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang akan melawan orang kafir (Belanda) yang sudah banyak berbuat sewenang-wenang di Jawa.

Karena harapan besar tersebut, Istri Sultan Hamengkubuwono I kemudian mendidiknya dan menyiapkannya sebagai seorang pemimpin dengan berbagai macam bekal dan skill yang dibutuhkan.

Ia memilih tempat di luar keraton di Tegalrejo untuk menempa Diponegoro muda. Ia membuka Tegalrejo menjadi sebuah perkampungan santri dengan persawahan yang luas sehingga menjadi daerah yang makmur dan banyak didatangi orang.

Baca juga:

Kondisi kraton ketika itu penuh dengan intrik dan persaingan akibat pengaruh Belanda. Sebab itulah sejak kecil Diponegoro yang bernama asli Pangeran Ontowiryo diasuh neneknya, Ratu  Ageng di lingkungan pesantren Tegalrejo.

Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, berpenampilan sebagaimana rakyat biasa dengan berpakaian wulung. Diponegoro belajar Islam kepada Kyai Taptojani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo.

Taptojani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al-Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. Dalam Babad Diponegoro disebutkan, Diponegoro menolak gelar putra  mahkota dan  merelakan  untuk  adiknya R.M. Ambyah.  Alasannya karena untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak  ingin  dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad dengan menjadi bawahan Belanda.

Pendidikan  Diponegoro  membuatnya diterima di berbagai komunitas yang berbeda meliputi dunia peradilan, pedesaan, pesantren, dan mereka yang terlibat dalam perdagangan jarak jauh (termasuk Arab dan China). Pandangan hidup Diponegoro sangat jelas mengenai bagaimana orang- orang  Muslim  Jawa  seharusnya  hidup  dalam zaman dominasi Barat. Bagi Diponegoro, jawaban atas ini semua adalah dengan perang suci dan mengambil sikap yang jelas dan tegas antara wong Islam (orang Islam), orang Eropa kapir laknatullah (kafir yang dilaknat oleh Allah), dan kapir murtad (orang Islam yang memihak dan membantu Belanda).

Baca juga:

Perlawanan Diponegoro dan  pengikutnya adalah aksi politik  yang dilakukan oleh orang Jawa untuk merebut kembali  kedaulatannya yang dirampas oleh penjajah Belanda. Menurut As’ad Jamhari,  ada tiga indikasi untuk sampai pada kesimpulan tersebut: pertama, memiliki ideologi (ideological asset), yaitu jihad, berperang untuk mendirikan negara yang berkeadilan berdasarkan agama Islam. Kedua, memiliki organisasi dan kondisi lingkungan yang mendukung, pemimpinnya mampu mengeksploitasi emosi masyarakat dengan  tema  yang abstrak. Ketiga, para pejuang amat menguasai medan.

Dari aspek kultural, perang Jawa juga merupakan bentuk penolakan terhadap sistem budaya asing, termasuk sistem militer. Diponegoro ingin menjadi Sultan yang terbebas dari ikatan masyarakat Jawa yang jahiliyah, yang saat itu telah dipengaruhi oleh budaya kafir. Ia menanggalkan baju Jawanya dan menggantikannya dengan jubah, pakaian Rasul.

Susunan organisasi pasukannya dan hirarki kepangkatannya meniru model Turki Usmani, bukan model barat. Pangkat-pangkat seperti Alibasah, Basah, Dulah dan Seh tidak terdapat dalam organisasi kemiliteran kraton Jawa. Garis komando antara Diponegoro  dan para pimpinan mandala perang sangat jelas. Hal ini semakin menunjukkan antipati dan perlawanan terhadap budaya Barat.

Baca juga:

Situasi dan kondisi masyarakat Jawa masa itu dipersepsikannya identik dengan masyarakat Arab jaman pra Islam yang disebutnya masyarakat jahiliyah. Sehingga ia merasa berkewajiban mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islami yang berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW. Untuk menyusun masyarakat baru dalam wadah balad Islam hanya dapat dicapai melalui perang Sabil terhadap kafir Belanda.

Perang diponegoro adalah sebuah perang besar yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa. Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh  Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara, melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.

 

Baca halaman selanjutnya: Dampak Jihad Diponegoro

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *