Petinggi Al-Qaeda Afrika JNIM Bantah Kematian Dirinya

Salah satu pendiri dan pemimpin senior kelompok Al-Qaeda, JNIM, Amadou Kouffa, membantah laporan tentang berita kematian dirinya. Bantahan tersebut diterbitkan dalam format video yang dirilis oleh JNIM. Pemerintah Perancis dan Mali mengklaim bahwa Kouffa telah terbunuh pada bulan November lalu, namun JNIM secara konsisten membantah laporan ini.

Format video tersebut adalah wawancara antara Kouffa dan perwakilan dari Al-Zallaqa Media milik JNIM, dan organisasi induknya -Al-Andalus Media milik AQIM-. Video tersebut bertujuan untuk menunjukkan bukti secara visual bahwa Kouffa memang masih hidup. JNIM sebelumnya telah membantah berita kematian Kouffa dalam pernyataan mereka, tetapi belum memberikan bukti saat itu.

“Kenyataannya adalah bahwa kebingungan tentang berita tersebut ada di pihak pemerintah yang digambarkan sebagai ‘negara yang kuat’ dengan kekuatan veto-nya di Dewan Keamanan mereka. Yang mana hal tersebut sangat membingungkan dan menyebabkan semua orang bertanya-tanya (negara ‘kuat’ tetapi menerbitkan laporan yang belum terbukti benar),” kata Kouffa ketika ia diminta untuk memberikan komentar tentang laporan kematiannya.

Baca juga:

Ia melanjutkan, “Terutama karena kita sekarang ini berada dalam era yang penuh dengan akses menuju informasi, sebuah era di mana tidak ada informasi yang dapat dirahasiakan. Kita sekarang juga berada dalam suatu dunia yang sangat terbuka tentang detail terkecil tentang suatu informasi, sehingga tidak dapat dimonopoli oleh pemerintah maupun institusinya lagi.”

Kouffa mengutip dua contoh peristiwa yang masih baru untuk membuktikan kebohongan pemerintah Perancis. Termasuk penyangkalan pemerintah Perancis terhadap berita tentang serangan yang terjadi pada bulan April 2018 di bandara Timbuktu.

Selama penyerangan tersebut, media Perancis mengklaim bahwa JNIM menggunakan seorang wanita untuk melakukan bom bunuh diri, tetapi kelompok Jihad tersebut dengan cepat menyangkal tuduhan tersebut. Kouffa mengulangi bantahan tentang tuduhan tersebut, dan memberikan pujian kepada pelaku bom bunuh diri yang sebenarnya, yaitu Abu Muhammad al-Muhajir.

Selain itu, Kouffa juga mengutip pernyataan Perancis seputar serangan udara di Kidal pada bulan Oktober 2017. Serangan udara tersebut membunuh 11 pasukan Mali yang telah diculik sebelumnya di Mali Tengah. Sumber-sumber Perancis mengatakan bahwa pasukan tersebut telah bergabung dengan para Mujahidin sebelum serangan tersebut terjadi. Namun, Kouffa mengemukakan pendapat JNIM bahwa pasukan tersebut masih ditahan sebagai tahanan pada saat serangan berlangsung.

Baca juga:

Kouffa kemudian melakukan kecaman terhadap media lokal dan internasional karena ‘hanya mengandalkan sumber informasi dari Kementrian Angkatan Bersenjata,’ dan ‘pernyataan spekulatif’ dari Florence Parly, Menteri Angkatan Bersenjata Perancis. Parly telah menyatakan bahwa kematian Kouffa adalah sebuah ‘kemungkinan’ setelah serangan udara yang dilakukan oleh Perancis pada November lalu.

Pemimpin Mujahidin tersebut juga menyatakan bahwa media massa telah gagal karena mereka ‘tidak menyajikan jalur komunikasi terbuka antara media massa mainstream dan Yayasan media milik Mujahidin.’

Seorang perwakilan beraksen inggris dari Al-Zallaqa Media milik JNIM kemudian bertanya mengapa Kouffa menunda untuk memberikan bukti visual sebagai bentuk bantahan atas klaim kematiannya. Kouffa mengatakan bahwa penundaan itu adalah langkah politik yang dimaksudkan untuk mengukur reaksi masyarakat secara internal maupun eksternal.

Dia kemudian menjelaskan bahwa kepemimpinan JNIM ingin memastikan bahwa kohesi kelompok tersebut tetap utuh dan untuk “mengajari para anggota yang masih muda bahwa pesan dan misi Jihad tidak akan berhenti karena syahidnya para pemimpin.”

Ketika ia ditanya tentang mata-mata Perancis yang dilaporkan berada dalam kadernya, (di mana hal tersebut menyebabkan serangan udara yang menargetkan dirinya) Kouffa mengkonfirmasi bahwa hal tersebut memang benar. Namun mata-mata tersebut ‘sekarang berada di tangan para Mujahidin.’ Nampaknya tingkat infiltrasi macam inilah yang menyebabkan terbunuhnya beberapa pemimpin penting di Mali selama setahun terakhir.

Video Kouffa tersebut dirilis hanya beberapa hari setelah Perancis menyatakan klaim serupa tentang terbunuhnya Yahya Abu al-Hammam di tangan mereka. Yahya Abu al-Hammam adalah salah satu pendiri dan pemimpin senior di JNIM. Namun, JNIM belum merilis pernyataan resmi dalam rangka menyangkal kematian Hammam, seperti yang terjadi pada Kouffa.

Amadou Kouffa adalah pemimpin Katibat Macina milik JNIM, yang juga merupakan kelompok konstituen dari Ansar Dine. Kouffa adalah sekutu lama dari Ansar Dine dan pemimpin keseluruhan JNIM, Iyad Ag Ghaly. Kouffa telah bertempur bersama pasukannya  pada 2012 di mana ia memimpin beberapa serangan untuk merebut bagian utara Mali dan pusat kota Konna.

Katibat Macina Kouffa bertanggungjawab atas menyebarnya kekuasaan mereka ke Mali Selatan dan Tengah, dan Burkina Faso Utara, bersama dengan pasukan JNIM lainnya.

Video Kouffa yang dirilis minggu lalu tersebut secara langsung memotong kredibilitas pernyataan militer Perancis, dan berfungsi sebagai pengingat (kepada media) bahwa hal terbaik sebelum membuat suatu pernyataan adalah untuk menunggu sumber dan metode konfirmasi lain.

 

 

Sumber: Longwarjournal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *