Membedah Cara Salafi-Jihadi Melampaui Strategi Kontraterorisme Amerika

Strategi kontraterorisme Presiden Trump telah menggandakan kegagalan strategi masa lalu.

 

Trump telah berjanji untuk melakukan penarikan penuh pasukan dari Suriah dan penarikan sebagian dari Afghanistan, semakin fokus pada serangan langsung sel-sel teror. Definisi sempit dari “kontraterorisme” telah melewatkan ancaman nyata: gerakan salafi-jihadi, yang terus mengumpulkan kekuatan di seluruh dunia.

Kelompok salafi-jihadi, termasuk al Qaeda, IS, Boko Haram dan al-Shabaab, bukan lagi faksi teror yang kita kenal. “Terorisme” adalah taktik yang mereka terapkan secara efektif dan konsisten, tetapi tidak ada kebijakan kontraterorisme yang secara langsung akan mengalahkan mereka. Tujuan mereka adalah pertama-tama untuk memerintah komunitas Sunni di seluruh dunia, dan kemudian, dalam kata-kata Osama bin Laden, untuk “mengirim seruan kepada semua orang di dunia untuk memeluk Islam.”

Mereka telah menggunakan pelajaran dari kegagalan masa lalu untuk mengubah strategi dan taktik mereka. Al Qaeda sekarang menghindari penciptaan “imarah,” karena kata-kata itu akan memicu reaksi Barat, memprovokasi intervensi militer yang tidak bisa dimenangkan al Qaeda. Istilah ini juga menimbulkan harapan lokal bahwa kelompok itu akan menyediakan layanan kepada publik sebagai sebuah negara.

Baca juga:

Pada 2011, banyak kelompok salafi-jihadi telah belajar berpikir untuk beraksi secara lokal. Jihad lokal, yang dipraktikkan di Timur Tengah dan bagian lain di Afrika dan Asia, mencakup kepentingan atau keluhan masyarakat, dengan keuntungan tambahan bahwa negara-negara Barat, yang sibuk dengan jihad global, akan mengabaikan kegiatan mereka. Kelompok salafi-jihadi menyembunyikan diri mereka dalam komunitas Sunni lokal, di mana mereka mengendalikan sumber daya dan infrastruktur dan menjadi bagian integral dari pemerintahan.

Itulah yang terjadi di Suriah barat laut, tempat para jihadis Salafi pertama kali mendapat kekuatan untuk menanamkan pengaruh ketika negara itu runtuh ke dalam perang saudara. Mereka membela komunitas lokal, berperang melawan rezim Assad dan mendirikan pengadilan lokal untuk menggantikan sistem Suriah yang rusak. Kombinasi itu sangat kuat: “Kami semua Jabhat al-Nusra!”

Para demonstran Suriah meneriakkan yel tersebut pada Desember 2012, segera setelah AS menetapkannya sebagai organisasi teroris asing. Empat bulan kemudian, pemimpin Jabhat al-Nusra menyatakan kesetiaannya kepada al Qaeda. Kelompok Suriah lainnya, Ahrar al-Sham, mengikuti cara serupa dan juga berupaya mengembangkan dukungan yang kuat dari masyarakat.

Hari ini, Pemerintah Penyelamatan Suriah, sebuah koalisi oposisi yang didukung oleh anasir Jabhat al-Nusra, mengatur di daerah yang direbut dari pasukan Assad, di Suriah barat laut. Ahrar al-Sham juga telah menjadi bagian dari pemerintahan lokal dengan menyediakan sumber daya dan mengkoordinasikan dewan masyarakat lokal. Namun tidak ada kelompok yang secara publik atau formal memerintah.

Baca juga:

Di seluruh dunia Islam, ekspansi konflik lokal dan munculnya keluhan politik, etnis, sektarian, dan ekonomi memberikan lahan subur bagi para ekstremis. Sebagai imbal balik atas diterimanya kelompok mereka di dalam masyarakat, mereka menawarkan persediaan kebutuhan pokok dan layanan dasar, penyelesaian sengketa dan keamanan.

Al Qaeda menggunakan perjuangan etnis di Mali untuk menyebarkan gejolak dan menembus komunitas melalui para pemimpin lokal. Penduduk Somalia mendukung pengadilan al-Shabaab karena hakim mereka yang tidak dapat disuap. Milisi Salafi-jihadi juga sekarang menjadi pialang kekuasaan di kota terbesar ketiga di Yaman, Taiz (tempat di mana al Qaeda tidak pernah hadir sebelumnya) karena perang saudara.

AS gagal mengenali kemunculan ancaman ini. Pemerintahan Obama berfokus pada radikalisasi dan ideologi sebagai akar dari ekstremisme yang keras. Tetapi ideologi bukanlah alasan kelompok Salafi-jihadi berhasil menyusup ke dalam masyarakat lokal, dan seruan kepada orang-orang moderat tidak berdampak pada orang-orang yang putus asa yang membutuhkan dukungan yang ditawarkan kelompok-kelompok Salafi-jihadi.

Karena fokus Barat yang salah tempat dan perselisihan yang berkelanjutan di dunia Islam, skala dan ruang lingkup masalah Salafi-jihadi menjadi lebih besar dari sebelumnya. Barat mengabaikan ancaman integrasi para ekstremis dan militan ke dalam pemerintahan lokal, dan menghilangkan kepercayaan masyarakat pada pejabat berwenang yang didukung Barat untuk menyelesaikan konflik lokal. Sebaliknya, kelompok Salafi-jihadis memanfaatkan taktik ini untuk mendapatkan kekuasaan dan wilayah dan “menyebarkan cahaya” Islam. Tahap pertama kampanye mereka adalah wilayah Sunni. Yang kedua adalah London, Paris, New York dan Los Angeles.

Ini adalah masalah yang dapat dipecahkan, tetapi AS dan para pemimpin Barat lainnya harus menyadari perlunya pendekatan baru. Bahkan mitra yang cakap di dunia Islam yang memiliki misi yang sama, seperti Uni Emirat Arab, pada akhirnya akan gagal. Operasi yang dilakukan oleh UEA telah menurunkan kekuatan dan mengganggu al Qaeda di Yaman lebih dari sebelumnya, tetapi kondisi yang memungkinkan pertumbuhan Al Qaeda di Yaman tetap ada. Ancaman akan kembali datang, segera setelah Emirat mengumumkan kemenangan dan pulang.

Tantangannya adalah mengatasi tata kelola yang buruk dan keluhan lokal, bukan hanya terorisme. AS dan sekutunya harus mengalahkan kelompok salafi-jihadi di dalam arena permainan mereka sendiri dan menutup celah yang mereka eksploitasi. Titik masuk ini terlihat sangat kecil dan sangat bervariasi antar populasi. Mulai dari merekrut guru lokal hingga memastikan perlindungan dan keamanan untuk desa dan kota. Untuk AS, berarti perlu menyesuaikan pendekatan untuk kasus-kasus tertentu dan memasang personel di lapangan di daerah yang tidak aman untuk memahami masalah lokal dan mengembangkan rencana.

Untuk menang melawan musuh ini, AS membutuhkan fokus baru dan toleransi baru terhadap risiko. Alih-alih berfokus pada teroris dan medan perang, AS dan mitranya harus fokus pada pemutusan ikatan antara kelompok-kelompok jihad Salafi-jihad dan komunitas lokal. Setelah ikatan itu diputus, para militant salafi-jihadi akan kehilangan tempat perlindungan mereka. Kemudian AS baru dapat melawan mereka.

 

Sumber:  aei

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *