Mendekontruksi Deradikalisasi: Pendekatan Baru CT dan PCVE

Mendekonstruksi Deradikalisasi: Mengapa Inggris Membutuhkan Pendekatan Baru untuk Menilai Program CT dan PCVE

Ketika ISIS kehilangan wilayah terakhir yang dikontrolnya di Suriah, ada fokus yang cukup besar pada masalah pejuang asing yang kembali ke Inggris. [I] Kembalinya para kombatan ini menimbulkan pertanyaan rumit: Haruskah mereka yang tinggal di wilayah yang dikuasai ISIS, dan berafiliasi dengan kelompok teroris, menjalani pemeriksaan, deradikalisasi, dan kemungkinan penuntutan hukum? Atau haruskah mereka ditolak masuk kembali ke Inggris sama sekali?

Para pejuang asing yang kembali di tahap sebelumnya telah ditempatkan dalam program deradikalisasi. Namun, keefektifan upaya ini sebagian besar masih belum diketahui. Sebuah studi pada tahun 2018 oleh RAND Eropa telah meneliti tentang penilaian program kontraterorisme (CT) dan program “Prevent and Countering Violent Ekstremism” (PCVE) dan menemukan kesenjangan yang signifikan dalam kualitas desain dan metode evaluasi.

Baca juga:

Dengan meningkatnya jumlah pejuang asing mantan anggota ISIS yang ingin masuk kembali ke Inggris, pemahaman yang lebih baik tentang jenis program deradikalisasi ini menjadi lebih penting dari sebelumnya. Studi RAND menunjukkan bahwa proses evaluasi yang lebih kuat dan transparan untuk program intervensi tersebut harus dilaksanakan sebelum kepercayaan terhadap efektivitasnya dapat diukur.

Pemerintah Inggris saat ini mengelola dua program deradikalisasi menyeluruh sebagai bagian dari strategi kontraterorisme: Prevent and Channel. Tujuan utama Prevent adalah untuk menghentikan orang dari terlibat dalam terorisme. Sedangkan program Channel memberikan dukungan kepada individu yang diidentifikasi berisiko terlibat dalam terorisme.

Di bawah Undang-Undang Anti Terorisme dan Keamanan 2015, program Prevent secara hukum mensyaratkan sejumlah badan – termasuk pemerintah daerah, sekolah, universitas, penjara, dan polisi – untuk melaporkan mereka yang mereka duga mungkin berisiko terlibat dalam terorisme. Ada banyak penduduk yang telah merasakan program Prevent di Inggris. 6093 orang dirujuk pada 2016-2017; pada 2017-2018, jumlah ini meningkat menjadi 7.318 individu. Dari 7.318 individu ini, 42% meninggalkan proses, dan tidak memerlukan tindakan lebih lanjut, 40% diberi rujukan ke layanan alternatif, dan 18% disalurkan ke program Channel, dengan 394 di antaranya menghadapi tindak lanjut di program Channel.

Dari 7.318 rujukan pada 2017-2018, 44% kasus terkait dengan ekstrimisme Islam dan 18% terkait dengan ekstremisme sayap kanan. Pada 2019, pemerintah Inggris mengumumkan bahwa akan ada tinjauan independen terhadap program Prevent, setelah banyaknya kritik terhadap dampak program tersebut terhadap komunitas lokal. Komunitas Muslim dan kelompok hak asasi manusia berpendapat bahwa program ini diskriminatif, tidak adil dengan menargetkan sektor masyarakat tertentu, dan kontra-produktif, dengan mendorong pejabat untuk mencari ancaman yang tidak ada.

Baca juga:

Beberapa kritik mengutip contoh kasus untuk mempertanyakan kemanjuran program CT dan PCVE ini. Misalnya, mereka mencatat bahwa Ahmed Hassan yang berusia 18 tahun, yang bertanggung jawab atas serangan Green Parson 2017, telah menjadi peserta dalam program Prevent. Penanganan deradikalisasi Hassan dikecam dalam sebuah laporan oleh Intelijen Parlemen Inggris dan Komite Keamanan, yang mencatat bahwa meskipun terlibat dalam program Prevent, ia masih termotivasi melanjutkan serangan itu.

Studi dari RAND Eropa menemukan beberapa tantangan utama dengan mengevaluasi program CT dan PCVE. Pertama, para ahli tidak sepakat tentang cara yang seragam untuk menilai program CT dan PCVE. Ada kekurangan metrik yang valid secara empiris yang dapat mengukur hasil, seperti perubahan perilaku peserta program atau efek jangka panjang dari intervensi terhadap peserta program.

Kedua, evaluator program membutuhkan akses yang lebih baik ke data dan subjek yang sensitif. Meskipun ada peningkatan jumlah inisiatif CT dan PCVE yang dilaksanakan di seluruh Uni Eropa, basis bukti yang mendukung program-program ini masih kurang. Tanpa data ini, program-program seperti Prevent tidak dapat dinilai dengan tepat untuk memahami sepenuhnya dampak dari inisiatif deradikalisasi pada individu.

Untuk meredakan kekhawatiran akan ancaman terorisme, pemerintah Inggris harus memastikan bahwa metode evaluasi program CT dan PCVE transparan dan kuat. Tanpa sarana penilaian yang valid secara empiris, tidak ada cara untuk menentukan apakah inisiatif ini tidak diskriminatif, adil, dan efektif. Selama program deradikalisasi tidak memiliki basis bukti yang kuat, baik pemerintah Inggris dan publik tidak dapat memiliki keyakinan pada keakuratan program ini.

 

Sumber:  georgetown

Tags:, ,
No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *