Jumlah Korban Serangan Drone AS Akan Semakin Sulit Diungkap

Komunitas intelijen AS tidak lagi diharuskan untuk mengungkapkan berapa banyak warga sipil yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS dan operasi kontraterorisme di luar zona perang, bahkan saat CIA memperluas program pesawat tak berawak yang sangat mematikan tersebut.

Menutup aturan era Obama oleh perintah eksekutif, Donald Trump menyatakan bahwa direktur intelijen nasional tidak perlu lagi mengeluarkan “ringkasan tanpa klasifikasi dari jumlah serangan yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap target teroris di luar wilayah permusuhan aktif, serta penilaian kematian kombatan dan non-kombatan yang diakibatkan oleh serangan-serangan itu, di antara informasi lainnya.”

Gedung Putih tahun lalu memilih untuk tidak merilis laporan dan menghadapi batas waktu 1 Mei untuk mengungkapkan laporan tersebut tahun ini. Pejabat berwrnang pada hari Rabu menyarankan bahwa persyaratan pelaporan itu berlebihan karena Kongres tahun lalu memerintahkan Departemen Pertahanan untuk setiap tahun menyerahkan laporan yang lebih luas tentang korban sipil yang disebabkan oleh operasi udara dan darat militer AS di seluruh dunia.

Tetapi undang-undang tersebut juga memungkinkan menteri pertahanan untuk merahasiakan informasi jika dia menyatakan bahwa pengumuman secara publik akan “menimbulkan ancaman bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.” Dan mungkin yang lebih penting, kritik terhadap langkah tersebut, aturan di era Obama juga mencakup serangan CIA, bukan hanya serangan Departemen Pertahanan.

“‘Konteks’ yang diberikan pemerintah tidak jujur,” kata Ned Price, juru bicara Dewan Keamanan Nasional di bawah Obama, di Twitter. “Persyaratan di era Obama diterapkan pada operasi di luar area permusuhan aktif. Persyaratan pelaporan NDAA yang ditunjuk pemerintah hanya berlaku untuk operasi Departemen Pertahanan di zona perang aktif.”

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan Trump “menghilangkan persyaratan pelaporan merupakah tindakan yang berlebihan, persyaratan yang tidak meningkatkan transparansi pemerintah, melainkan justru mengalihkan perhatian para profesional intelijen kami dari misi utama mereka.”

Pemerintahan Trump telah menghembuskan nyawa baru ke dalam program drone rahasia CIA, yang berusaha dicekik oleh Obama dengan mengalihkan kendali serangan drone ke serangan militer di tahun-tahun terakhir kepresidenannya. Selama dua tahun terakhir, agen mata-mata telah kembali melakukan serangan, daripada menyerahkan informasi intelijen kepada Pentagon sehingga Pentagon bisa melakukan serangan.

The New York Times melaporkan pada bulan September lalu bahwa badan tersebut sekarang mengoperasikan pangkalan drone di timur laut Niger, untuk menjangkau Libya barat daya dan wilayah Sahel di Afrika. The Wall Street Journal juga melaporkan bahwa badan intelejen tersebut telah melakukan serangan mematikan di Suriah, yang dianggap sebagai area permusuhan aktif dan karenanya tidak akan dirilis di bawah aturan lama.

Pentagon juga meningkatkan serangan drone yang mematikan di beberapa negara. Di Somalia, mereka memperbanyak serangan hingga tiga kali lipat berdasarkan penghitungan tahun sebelumnya. Tetapi pada tahun lalu, pemerintahan Trump telah menunjuk sebagian besar Somalia sebagai wilayah permusuhan aktif, menurut Times, yang berarti bahwa itu juga tidak akan diperhitungkan di bawah aturan lama.

Banyak kritik terhadap program drone, dan khususnya, terhadap otoritas CIA untuk melakukan serangan mematikan, yang berpusat pada korban sipil. Para pembela hak asasi manusia percaya bahwa agen intelejen kurang bisa bertanggung jawab secara publik kepada para pembuat kebijakan dan publik dan oleh karena itu memiliki potensi untuk menjadi lebih boros dalam penggunaan kekuatannya.

The Wall Street Journal telah melaporkan bahwa ketika otoritas serangan dikembalikan ke CIA, diperlukan kepastian untuk memenuhi standar bahwa warga sipil tidak akan dirugikan ketika menilai target, sebagai lawan dari standar “kepastian” yang lebih rendah yang dijalankan oleh Departemen Pertahanan di zona perang aktif. Tetapi ketika Departemen Pertahanan mempublikasikan serangan kontraterorisme, CIA tidak melakukannya, dan pengawasan kongres terhadap CIA terjadi di balik pintu tertutup oleh Senat dan Komite Intelijen.

“Persyaratan ini lebih dari sekadar transparansi,” kata Price. “Ini memungkinkan, untuk pertama kalinya, AS melawan disinformasi dari kelompok teroris dengan fakta tentang efektivitas dan ketepatan operasi kami. Itu adalah alat penting yang kita tidak punya lagi.”

Namun, dua laporan era Obama memberikan sedikit rincian, hanya menyebutkan jumlah total serangan, dan kematian kombatan dan non-kombatan. Pada 2016, komunitas intelijen melaporkan hanya satu korban sipil.

Trump sendiri telah memancing keributan atas komentar yang menurut para kritikus menunjukkan ketidakpedulian terhadap kehidupan sipil. Di saat kampanye, ia bersumpah untuk memerangi teroris dengan “menghabisi keluarga mereka.”

Pada kunjungan pertama presiden baru ke CIA, kepala operasi drone agensi mengatakan kepada Trump bahwa mereka telah mengembangkan amunisi khusus untuk membatasi korban sipil, menurut Washington Post. Trump ditunjukkan video dari serangan di mana operator tidak menembak sampai target telah pergi dari rumah, sedangkan keluarganya masih berada di dalam rumah.

“Mengapa Anda menunggu?” Tanya Trump, menurut salah satu peserta dalam pertemuan itu.

 

Sumber:  defenseone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *