Tekanan Asing Mereda, Pakistan Kembali Bebaskan Para ‘Teroris’

Pemerintah Pakistan mengatakan bahwa mereka telah menutup lembaga milik Jamaat-ud-Dawa (JuD), sebuah kelompok jihadis yang diduga merupakan nama lain dari Lashkar-e-Taiba. Jika masa lalu adalah petunjuk, maka upaya-upaya yang mereka lakukan hanyalah pencuci mata untuk menenangkan pemerintah barat, setelah terjadinya serangan-serangan yang berasal dari tanah Pakistan.

Itu karena Pakistan mengklaim bahwa mereka telah menutup kantor-kantor JuD dan menahan para pemimpin puncaknya di masa lalu, hanya untuk memungkinkan kantornya dapat dibuka kembali dan para pemimpinnya dibebaskan beberapa bulan kemudian.

“Sebuah seminari, rumah sakit, dan dua apotek yang terletak di jalan Chakrah dan Adiala yang dikendalikan oleh JuD, telah ditutup,” oleh pemerintah lokal di Rawalpindi atas perintah pemerintahan federal. Namun, tidak ada penangkapan yang dilakukan selama penutupan tersebut.

Rawalpindi adalah tempat dari Markas Besar Tentara Pakistan. JuD terdaftar sebagai kelompok yang ‘terlarang’ di Pakistan. Yang berarti bahwa kelompok tersebut tidak diperbolehkan beroperasi di sana. Baik pemerintah AS dan PBB mencantumkan JuD sebagai organisasi ‘teroris’ internasional yang terlarang. Para pejabat pemerintah Pakistan secara rutin menyatakan bahwa kelompok-kelompok ‘teroris (baca: jihadis)’ tidak diizinkan untuk beroperasi di Pakistan. Tetapi JuD beroperasi secara bebas di kota yang juga menjadi markas militer Pakistan.

Ini bukan pertama kalinya pemerintah Pakistan ‘menindak’ Jamaat-ud-Dawa. Hafiz Saeed, pemimpin dan pendiri Lashkar-e-Taiba dan penggantinya, JuD, telah ditempatkan di ‘tahanan perlindungan’ setidaknya sebanyak empat kali dalam kurun waktu dua dekade terakhir, hanya sebagai bahan laporan. Bahkan ketika dia ditahan, Saeed bebas bepergian dan berceramah di masjid-masjid yang dikelola LeT / JuD di Lahore.

Setelah serangan JuD / LeT di Mumbai, India, pada November 2018, Pakistan mengklaim telah menutup kantor dan kamp milik Lashkar-e-Taiba / Jamaat-ud-Dawa, dan menahan para pengikutnya, termasuk Saeed. Tetapi upaya tersebut sebagian besar bersifat kosmetik semata. Kantor JuD kembali dibuka dengan tenang dan Saeed dibebaskan dari tahanan rumah yang sangat longgar.

Pada awal 2017, terakhir kali Pakistan menahan Saeed, Pakistan juga mengklaim telah menutup kompleks Markaz-e-Taiba di Muridke. Kompleks tersebut memiliki rumah sakit, masjid, madrasah, toko, dan fasilitas pelatihan untuk para jihadis. Selain itu, pemerintah Pakistan mulai ‘menghapus spanduk JuD dari jalan-jalan di Lahore.’ Penumpasan tersebut bersifat sementara; kompleks Markaz-e-Taiba masih berlangsung di bawah pengurusan JuD.

Hubungan Saeed dengan negara Pakistan dan kelompok jihadis global, seperti Al Qaeda, tidak dapat disangkal lagi. Dia mendirikan Lashkar-e-Taiba atas saran dari Usamah bin Laden dan mentornya, Abdullah Azzam. Negara Pakistan mendukung Saeed dan kelompoknya, yang memiliki kantor di seluruh negara tersebut. Banyak front amal JuD beroperasi di Pakistan, dengan sepengetahuan dan dukungan dari negara.

Pakistan juga mengumpulkan para pemimpin ‘jihadis’ secara rutin, kemudian menempatkan mereka di bawah tahanan perlindungan, untuk kemudian membebaskan mereka setelah tekanan dari asing berkurang. Komandan jihadis seperti Masood Azhar (Jaish-e-Mohammed), Qari Saifullah Akhtar (Harakat-ul-Jihad-al-Islami), dan Malik Ishaq (Lashkar-e-Jhangvi) telah ditahan beberapa kali, kemudian dibebaskan beberapa kali.

 

 

Sumber:     Longwarjournal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *