Mengurai Makna Tersembunyi di Senapan Pembantai Selandia Baru

Pada hari Jum’at 15 Maret 2019, dunia dihebohkan oleh serangan teroris di dua masjid, Selandia Baru. Teroris tersebut melakukan tembakan membabi buta terhadap para jamaah masjid yang baru selesai melaksanakan shalat Jum’at. Pelaku serangan tersebut adalah kelompok ekstrimis Kristen yang dipimpin oleh Brenton Tarrant (28 tahun).

Di senjata yang digunakan oleh teroris untuk membunuh dan membantai umat Islam tersebut, terdapat banyak tulisan. Senjata tersebut telah ditutupi dengan tulisan-tulisan kefanatikan Kristen ekstrim. Senjata tersebut juga diselimuti oleh banyak tanggal dan nama dari halaman-halaman sejarah (banyak dari tokoh-tokoh ini yang dipuja dalam ideologi ekstrim Kristen selama berabad-abad).

Sekarang, apa sebenarnya makna dari tulisan-tulisan tersebut? Mari kita bahas satu persatu.

  1. Charles Martel.

Charles Martel adalah raja Francia (Perancis modern). Ia dikenal dalam sejarah Eropa karena satu hal, ia adalah orang yang dapat menghentikan perkembangan Khilafah Islam ke Eropa Barat dalam pertempuran Tours pada 732 Masehi.  Karena hal ini, dia dihormati dan ditempatkan dalam status ilahi dalam ajaran ekstrimis Kristen.

  1. Tours 732.

Pertempuran Tours pada 732 M, mungkin merupakan pertempuran paling menentukan dalam sejarah Eropa. Pasukan Muslim dari Kekhilafahan Umayyah benar-benar menghancurkan kerajaan Kristen Spanyol dan menaklukkan seluruh Spanyol. Kemudian mereka maju tanpa ada hambatan berarti, hingga hampir menaklukkan seluruh Eropa Barat. Jika kita membandingkan keseimbangan kekuatan pada masa itu, maka Kekhilafahan Umayyah adalah satu-satunya kekuatan Super power di dunia, dan secara militer jauh lebih maju daripada kerajaan Kristen di Eropa. Satu-satunya kerajaan yang mampu melakukan perlawanan terhadap Kekhalifahan yang begitu besar di seluruh Eropa adalah Kerajaan Francia (Perancis).

Baca juga:

Pertempuran awalnya berjalan sangat baik bagi kaum Muslimin, Kekhilafahan hampir menang. Tetapi para prajurit di pasukan kaum Muslimin menjadi serakah ketika melihat barang rampasan perang dan kekayaan yang berserakan di medan perang. Mereka tidak patuh pada perintah komandan mereka, yaitu Abdurrahman al-Ghafiqi.

Mereka memecah barisan untuk mengumpulkan kekayaan yang berserakan tersebut. Melihat hal ini, pasukan Kristen bersatu, dan berbalik menyerang kaum Muslimin. Kebanyakan kaum Muslimin tidak bersenjata karena mereka meletakkan senjata mereka agar bisa mengamankan sebanyak mungkin kekayaan sebisa mereka. Terkejut, para pasukan Khilafah melarikan diri dari pertempuran. Sedangkan Abdurrahman al-Ghafiqi yang berani, maju sendirian dalam upaya terakhirnya untuk menyerang pasukan Perancis. Ia akhirnya meraih kesyahidan.

Banyak sejarawan yang memperkirakan, jika kaum Muslimin memenangkan perang Tours, maka kaum Muslimin sudah menguasai seluruh Eropa Barat.

  1. Vienna 1683

Perang Wina pada tahun 1683 M merupakan Jihad ofensif terakhir yang dipimpin oleh Kekhalifahan Islam dalam sejarah. Kekhalifahan Utsmani di abad ke-16 adalah negara super power di dunia. Militernya besar dan tidak tertandingi. Sejak berdirinya Kekhilafahan Utsmaniyyah, ia menaklukkan Eropa dengan mudah. Paus memprakarsai perang salib dan menciptakan banyak koalisi Kristen untuk menghentikan laju Utsmani. Tetapi bahkan dengan seluruh Eropa bersatu, mereka masih tidak dapat menghentikan laju Utsmani.

Pada 1683 M, pasukan Utsmani mengepung kota Wina. Pada waktu itu, kota Wina dikenal sebagai ‘jantung Eropa’. Pasukan Utsmaniyyah memiliki tentara sangat besar berjumlah 300,000 pasukan. Tetapi pada akhirnya, karena komandan Utsmani, Kara Mustapha, merasa sombong dan tidak mau patuh terhadap perintah Sultan, pasukan Utsmani kalah dalam pertempuran tersebut.

Baca juga:

Kara Mustapha sendiri dieksekusi atas perintah Sultan. Kekalahan di Wina pada tahun 1683 tersebut merupakan bencana bagi dunia Islam, di mana kekalahan ini mulai memperlambat dan menyebabkan kemunduran umat Islam. Dan karena tidak ada lagi jihad ofensif atau ekspansi wilayah, maka inovasi teknologi dan pemikiran dari dunia Islam juga mulai berantakan.

Tahun 1683 M adalah tahun di mana umat Islam kehilangan status sebagai negara ‘super power’ di dunia.

 

Baca halaman selanjutnya:  Calivijo 844

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *