Membongkar Kebencian Barat Terhadap Islam

Umat Muslim di Barat berada di bawah ancaman. Meningkatnya prevalensi kejahatan kebencian anti-Muslim hanyalah salah satu konsekuensi yang makin jelas terlihat. Di Inggris, anak-anak sekolah Muslim menderita sejumlah bentuk ‘serangan’ pelecehan, menurut serikat guru setempat; Wanita Muslim adalah korban lebih dari setengah serangan Islamofobia, kata Tell MAMA, sebuah lembaga advokasi anti-islamofobia di Inggris.

Meskipun kejahatan kekerasan terhadap Muslim dapat dipahami sebagai masalah utama bagi Muslim dan gerakan anti-rasis, adalah menjadi sebuah kesalahan untuk berpikir bahwa Islamofobia hanyalah masalah rasisme oleh minoritas kecil di jalanan, atau mereka yang berada di pinggiran politik. Sebenarnya, masalah tersebut telah tertanam dalam politik dan masyarakat Barat, dan telah menjadi sesuatu yang lebih serius daripada yang diakui banyak penulis.

Selain itu, saat sebagian besar catatan Islamofobia menunjukkan bahwa rasisme anti-Muslim hanyalah masalah prasangka, yang mungkin memiliki konsekuensi sosial, masalah itu perlu dipahami sebagai lebih dari gagasan tentang rasis.

Baca juga:

Jelas, ini adalah bagian penting dari Islamofobia tetapi untuk menjadi efektif ide-ide seperti itu perlu dikembangkan secara praktis, secara aktif diproduksi, disebarkan dan dilembagakan dalam kebijakan dan praktik baru. Rasisme anti-Muslim ditopang oleh apa yang kita sebut ‘pilar’ Islamofobia.

Target yang sah?

Yang pertama dan paling penting adalah lembaga-lembaga negara, terutama aparatur ‘anti-terorisme’ yang tersebar luas, jejaring utama lembaga-lembaga dan praktik-praktik yang menargetkan ‘ekstrimis’ dan mereka yang dituduh ‘radikal’. Ketidaktepatan konsep-konsep ini didefinisikan dan dioperasionalkan dalam wacana resmi, bersama dengan praktik rutin kepolisian dan dinas intelijen, yang berarti bahwa ribuan orang, termasuk non-Muslim, dianggap sebagai target yang sah untuk dicurigai, mendapat pengawasan, dan sebagai obyek penggalian data intelijen.

Beberapa penulis akademis melihat negara sebagai pihak yang progresif, atau setidaknya netral, dan mampu membantu menantang rasisme anti-Muslim dengan menciptakan ruang untuk menampung keterlibatan budaya dan sipil Muslim.

Tetapi dalam pandangan sebagian Muslim di Barat, negara tidak netral. Kebijakan anti-terorisme telah merugikan kaum Muslim (dan minoritas lainnya) melalui undang-undang, ketidakmampuan tindakan pencegahan dan intelijen serta pengawasan. Dan aparat anti-terorisme telah menyebar dari markasnya di kepolisian dan badan intelijen untuk menduduki hampir setiap cabang negara, dari sekolah dan universitas hingga perpustakaan.

Baca juga:

Sebuah front yang relatif baru dalam perang untuk mengusir Muslim dari ruang publik adalah sektor LSM. Komisi Amal, yang dipimpin oleh Lord Shawcross yang neo-konservatif, telah memimpin peningkatan yang signifikan dalam penyelidikan lembaga amal Muslim. Lembaga pemikir Claystone melaporkan bahwa Komisi Amal telah menandai 55 badan amal Inggris dengan label ‘ekstremisme dan radikalisasi’, tanpa sepengetahuan semua organisasi, dan bahwa badan amal Muslim jelas terpengaruh.

Kecondongan Gerakan Sayap Kanan

Pilar Islamofobia lainnya adalah gerakan sosial atau politik yang berkuasa di sebuah negara ataugerakan yang mampu mendorong pemerintahnya lebih jauh ke “kanan”, sebagaimana dikatakan oleh sosiolog Laurence Cox dan Gunvald Nilsen. Mereka merujuknya sebagai ‘agensi kolektif kelompok dominan’.

Yang pertama adalah yang paling terkenal, adalah kelompok sayap kanan. Perwakilan tradisionalnya dalam partai-partai neo-fasis semuanya telah mengambil langkah anti-Muslim, tetapi mereka telah bergabung dalam beberapa tahun terakhir oleh sejumlah besar partai baru (seperti Partai Demokrat Swedia, Partai Rakyat Denmark dan UKIP di Inggris), gerakan-gerakan jalanan seperti Liga Pertahanan Inggris, PEGIDA di Jerman (dan Inggris, Austria, Denmark, Norwegia dan Swedia) dan ‘gerakan kontra-jihad’, yang beroperasi di hampir setiap negara Uni Eropa, serta di AS.

Baca juga:

Kelompok sayap kanan tidak dibatasi dengan sebuah garis tegas dan ada tumpang tindih dengan untaian gerakan sosial lainnya, yang mereka sendiri saling berpenetrasi. Kelompok-kelompok tersebut termasuk gerakan neo-konservatif, sangat aktif di UE dan juga di AS, negara asalnya; gerakan Zionis; dan sejumlah arus kiri / liberal seperti kelompok pro-perang. Ketiganya adalah gerakan transnasional dan memiliki koneksi ke kelompok-kelompok lebih jauh ke kelompok sayap kanan, serta ke gerakan konservatif yang lebih utama dan memang sayap kanan, seperti lembaga think tank neoliberal.

Gerakan-gerakan sosial ini, meskipun terpecah karena perbedaan dalam beberapa hal, tetapi melakukan kerja sama — dalam kombinasi dengan negara — untuk menghasilkan, mereproduksi, dan melakukan tindakan rasisme anti-Muslim, dalam proses meletakkan kerangka kerja kebijakan dan pengaturan praktis yang melegalisasi penindasan kepada umat Islam.

Ambil contoh lembaga Henry Jackson Society yang neo-konservatif, sebuah think tank yang menyatukan neo-konservatif penting dari AS dan Inggris, termasuk William Kristol dan Richard Perle. Di antara pendukung keuangan utama HJS adalah tokoh Konservatif Stanley Kalms, mantan bendahara Partai Konservatif dan presiden DSG International (sebelumnya Dixons). Kalms adalah anggota terkemuka dari Friends of Israel. Dia telah mendukung Henry Jackson Society dan pendahulunya Center for Social Cohesion melalui lembaga Traditional Alternatives Foundation dan Stanley Kalms Foundation, dan hubungannya dengan konservatisme arus utama diilustrasikan dengan dukungan keuangannya untuk Institute for Economic Affairs dan Center for Social Justice.

Baca juga:

Kalms tampaknya memiliki pandangan yang ‘radikal’ tentang Muslim dan Islam. Menurut Tony Lerman, penulis dan Zionis yang ‘murtad’, Kalms hadir pada sebuah pertemuan pada 17 November 2006 di mana ia berkata: “Kebanyakan Muslim tidak mau berintegrasi … Pada akhirnya mereka akan berbaris di belakang kaum fundamentalis.” Gerakan sosial, termasuk gerakan sayap kanan dan elemen-elemen gerakan neo-konservatif dan Zionis, memainkan peran aktif yang penting dalam menumbuhkan rasisme anti-Muslim.

Kita tentu tidak akan bisa membalikkan gelombang Islamofobia hanya dengan menghadapi ancaman UKIP dalam politik, atau EDL dan bagian lain dari gerakan transnasional “kontra-jihad” di jalanan. Kita juga perlu memusatkan perhatian kita pada elemen-elemen gerakan neo-konservatif (juga transnasional) yang memberikan informasi, ‘penelitian’ dan advokasi yang dapat menyeret negara dan politik ke arus kanan dan mempertajam kebijakan-kebijakan Islamofobia, seperti yang telah kita lihat di Inggris dengan revisi program ‘Prevent‘ pada tahun 2010 (mengacu pada materi Pusat Kohesi Sosial neo-konservatif) dan dalam Undang-Undang Anti Terorisme dan Keamanan 2015.

Kriminalisasi Perbedaan Pendapat

Yang paling penting, kita perlu memahami bahwa negara dan alat pengawasan dan represi telah berada di garis depan untuk memastikan bahwa umat Islam secara kolektif didorong ke tepi kehidupan publik dengan konsekuensi jangka pendek, menengah dan panjang yang sangat serius. untuk politik yang demokratis. Maksudnya jelas: perbedaan pendapat, apakah oleh organisasi Muslim, gerakan sosial atau serikat pekerja, dikriminalisasi untuk melindungi para penguasa dari tekanan dari bawah.

Ini adalah komentar menyedihkan tentang keadaan histeria tentang Islam di Inggris hari ini bahwa mendokumentasikan bukti tentang Islamofobia dipandang sebagai bukti ‘ekstrimisme’ atau ‘radikalisasi’. Cukup dengan menulis artikel ini, kita telah berpotensi memasuki apa yang oleh polisi disebut ‘ruang pra-kriminal’, yang cukup untuk mendapatkan perhatian dari badan intelijen dan kepolisian, apalagi dari para kolumnis surat kabar konservatif.

 

Sumber:   opendemocracy 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *