Muslim Selandia Baru Bukan Korban Brenton Seorang, tapi Korban Industri Islamophobia Global

 

Dunia terkejut. Sebuah serangan terror brutal diarahkan ke dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Lima puluh Muslim gugur. Beberapa lainnya luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis.

Sambutan hangat “Welcome, brother” dibalas dengan tembakan membabi buta oleh teroris bernama Brenton Tarrant dan ketiga rekannya. Menurut salah seorang saksi mata, tembakan mulai terjadi sesaat setelah imam masjid memulai khutbah jumatnya. Kebiadaban tersebut ia pertontonkan ke dunia dengan menayangkan aksinya secara langsung di media sosial.

Korban di masjid pertama sebanyak empat puluh orang. Di masjid kedua, korbannya sembilan orang. Lebih sedikit, karena ada satu jamaah yang melawan serangan tersebut dengan senjata. Membuat pelaku teror lari tunggang langgang. Satu orang lagi meninggal dunia di rumah sakit.

Baca juga:

Sebagian dunia berduka, sebagian bersukaria. Sebagian lagi mengucapkan belasungkawa dengan airmata buaya, enggan untuk mengucapkan kata Muslim, meski semua korban adalah Muslim yang sedang menjalankan ibadahnya.

Namun, mengapa kita terkejut?

Tidak ada yang mengejutkan tentangnya. Jika kita sedikit memberi perhatian, hampir semua retorika yang ditulis dalam manifesto kelompok sayap kanan didapatkan dari media dan politisi Barat. Terutama di Inggris dan Amerika.

Muslim di masjid di Christchurch bukanlah korban Brenton Tarrant seorang. Mereka adalah korban dari seluruh industri Islamophobia yang masif diluncurkan kepada Islam dan umat Islam. Mulai dari kebijakan negara, berita di media, komentar para politisi, hingga kajian para akademisi.

“Dunia harusnya mulai sadar bahwa pelaku teror bersenjata, yang menjadi pusat dari tragedi ini, tidaklah teradikalisasi ke dalam ekstremisme kekerasan melalui web gelap atau forum-forum pojok internet. Tapi mereka teradikalisasi melalui propaganda kebencian pada Islam yang diamplifikasi begitu bebas di media-media arus utama,” tulis jurnalis Australia, CJ Werleman.

Akhirnya, Islamophobia menjadi bentuk rasialisme yang diterima umum.

 

Baca halaman selanjutnya: Membangun Pondasi Kebencian terhadap Islam

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *