Muslim Selandia Baru Bukan Korban Brenton Seorang, tapi Korban Industri Islamophobia Global

Membangun Pondasi Kebencian terhadap Islam

Semua pembantaian berawal dari kata-kata. Kekerasan menyusul kemudian.

Perlu waktu sepuluh tahun bagi Nazi untuk menggambarkan Yahudi sebagai musuh Jerman, nilai-nilai Jerman dan ancaman bagi rakyat Jerman, sebelum mereka pada akhirnya menjustifikasi pembantaian.

“Saya pikir Islam membenci kita. Ada kebencian yang sangat besar di sana. Ada kebencian yang luar biasa terhadap kita,” begitu kata presiden Amerika, Donald Trump. Trump jualah yang mengatakan bahwa jamaah masjid adalah kumpulan para pembunuh yang “keluar masjid dengan kebencian dan kematian di mata dan pikiran mereka.”

Mantan Gubernur Mike Huckabee menggambarkan umat Islam yang keluar dari masjid di hari jumat sebagai “binatang yang sedang terlepas”.

Baca juga:

Ada juga senator Amerika Serikat bernama Lindsey Graham yang mengatakan, bahwa “jika saya harus mengawasi, maka saya akan mengawasi masjid.”

Nampak familiar bukan? Ya, masjid dijadikan sebagai obyek pengawasan dengan dalih sebagai tempat sumber kebencian.

Pada faktanya, sejak serangan 11 September, kelompok sayap kananlah yang getol meminta agar ulama-ulama “penebar kebencian” dibungkam, agar khutbah dan ceramah diawasi. Mereka jua yang menggelorakan bahwa akar dari terorisme adalah pikiran dan ideologi Islam.

Kini, lebih dari 17 tahun, sejak serangan 11 September 2001, gambaran negatif tentang Islam dan umat Islam mendominasi diskursus tentang terorisme.

Diskursus ini menghasilkan kebijakan yang menjadikan umat Islam sebagai objek kebijakan keamanan. Diskursus ini menjadikan umat Islam sebagai risiko yang harus diredakan. Diskursus ini menjadikan umat Islam sebagai komunitas yang harus diawasi dan dicurigai.

Dampaknya? Kekerasan pada umat Islam meningkat di mana-mana. Dari Eropa, Amerika, Myanmar, India, hingga China. Semua mengatasnamakan perang melawan teror. Semua menjadikan Islam dan keislaman sebagai potensi ancaman. Semua menjadikan Islam sebagai ideologi yang harus direduksi.

Baca juga:

Bahkan forum-forum yang mengatasnamakan perdamaian pun lebih banyak meminta para tokoh Islam untuk membantu mereduksi ajaran agamanya. Mulai dari distorsi ajaran khilafah, jihad, syariat, dan lain sebagainya. Narasi toleransi jadi kedok itu semua.

Silakan ke bandara-bandara di negara Barat, nama Muhammad, jenggot, dan cadar akan membuat Anda lebih lama menjalani pemeriksaan.

Jadi, apa yang terjadi di Selandia Baru sebenarnya tidaklah mengejutkan. Propaganda Islamophopia yang masif digelontorkan hanya akan menjadi bom waktu yang siap meledak. Satu demi satu. Menjadikan Muslim sebagai sasaran.

 

Baca halaman selanjutnya: Bukan Serangan di Ruang Hampa

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *