Muslim Selandia Baru Bukan Korban Brenton Seorang, tapi Korban Industri Islamophobia Global

Bukan Serangan di Ruang Hampa

Serangan di Selandia Baru tidak terjadi di ruang hampa.

Teroris Brenton Tarrant menembak orang-orang tak berdosa ketika mereka sedang shalat di masjid, murni karena mereka Muslim. Serangan ini adalah “kesimpulan alami” dari “permainan perang psikologis” yang selama ini digelorakan. Dan permainan perang ini telah dimainkan oleh pemerintahan global sejak serangan 11 September. Ia muncul dari narasi Islamophobia yang penuh kebencian pada Islam dan ajarannya, yang dinormalisasi oleh industri Islamophobia dan melalui “Perang Melawan Teror”.

Pemerintah dunia mendiskriminasi Muslim, menganggap mereka sebagai “pihak lain”. Ketika kelompok sayap kanan mengumpulkan kekuatan di seluruh dunia, mereka terus berfokus pada orang-orang Islam sebagai ‘musuh’. Individu, atau kelompok, yang bertanggung jawab atas kekejaman terbaru ini mendapatkan kekuatan dari narasi anti-Islam yang dibangun selama ini.

Baca juga:

Islamophobia bukan sekadar tentang ide, tapi tentang bagaimana ide-ide tersebut dibangun, diproduksi, disebarkan, dan dilembagakan dalam bentuk kebijakan dan praktik di lapangan.

Salah besar jika kita berpikir bahwa teroris yang membantai di Christchurch adalah sekadar kelompok bersenjata sayap kanan dan pengagum supremasi kulit putih. Salah besar. Setiap hari, ideolog dan antek-antek mereka duduk di depan layar mereka dan menebarkan kebencian. Seringkali, mereka membungkus ideologi tidak berperikemanusiaannya dengan bahasa-bahasa intelektual.

Islamophobia bukan sekadar masalah minoritas kelompok sayap kanan di jalanan. Tapi, pada praktiknya, ia melekat dalam kebijakan sosial politik. Tulang punggung dari praktik-praktik tersebut adalah institusi negara—terutama aparat kontraterorisme, sebagaimana dijelaskan dalam buku  berjudul What is islamophobia?: Racism, Social Movements and the State:

“Negara, dan lebih khusus lagi pejabat ‘kontraterorisme’, [benar-benar] memainkan peran penting dalam memproduksi Islamofobia kontemporer. Ini adalah tulang punggung rasisme anti-Muslim. Serangkaian lembaga yang semakin kuat, dan sebagian besar tidak bertanggung jawab, yang memiliki hubungan dekat dengan perusahaan teknologi dan keamanan multinasional, menargetkan ‘ekstremis’ dan mereka yang dikatakan telah ‘teradikalisasi’, dengan fokus utama pada umat Islam.”

Kebencian itu bersifat institusional. Menyebar secara masif ke seluruh dunia.

Umat Islam dipenjara secara massal di China, diserang terus-menerus oleh kaum nasionalis Hindu di India, Muslim Rohingya dibantai dan diusir dari Myanmar, dibantai di Suriah dan Yaman. Semua itu dilakukan atas nama melawan ekstremisme.

Perang Melawan Teror pun tak lebih dari sekadar bahan bakar untuk membakar kebencian pada Islam dan umat Islam, serta memecah belah komunitas umat Islam.

 

Baca halaman selanjutnya: Pesan dari Teror Selandia Baru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *