Fasisme Barat Gaya Baru

Sudah menjadi catatan sejarah dalam kehidupan Eropa sejak 1945 bahwa fasisme telah terkubur di bawah batu nisan. Tetapi tidak ada ideologi yang benar-benar hilang dan musnah sehingga, dengan berlalunya waktu, seolah tidak akan bisa dilahirkan kembali.

 

Apa definisi fasisme di abad kedua puluh satu? Ketika kita mengucapkan kata ini, ingatan kita kembali ke tahun-tahun antara dua perang dunia dan membayangkan lanskap gelap kekerasan, kediktatoran, dan genosida. Hari ini, gambaran-gambaran kejam tentang fasisme ini muncul secara spontan di hadapan kebangkitan kelompok sayap kanan radikal, rasisme, yang mengadopsi paham xenophobia dan islamophobia.

Namun, di luar beberapa analogi yang dangkal, semua kecenderungan kontemporer ini mengungkapkan banyak perbedaan dari fasisme di masa lalu, yang justru lebih besar daripada persamaan mereka. Paradoksnya, ketakutan akan terorisme Islam telah menyuburkan kelompok rasis sayap kanan, dengan naiknya sosok seperti Marine Le Pen di Perancis atau Donald Trump di AS, di mana keduanya mengklaim sebagai benteng paling efektif melawan “fasisme Jihadis”.

Tetapi karena fasisme adalah produk imperialisme, dapatkah kita mendefinisikan fasisme sebagai gerakan teroris yang sasaran utamanya adalah dominasi Barat atau supremasi kulit putih? Dengan mengurai benang-benang yang kontradiktif ini, pandangan historis Enzo Traverso membantu menguraikan teka-teki masa kini.

Dalam buku The New Faces of Fascism, sejarawan asal Italia, Enzo Traverso telah mengangkat pertanyaan tentang kebangkitan kembali fasisme di Eropa dan Amerika Serikat, dan kemungkinan konsekuensi politiknya.

Dalam buku setebal 150 halaman ini, Traverso berusaha untuk memastikan status fasisme saat ini melalui metamorfosisnya menjadi “neofasisme” dan apa yang ia sebut “pasca-fasisme”. Ia juga memberikan beberapa kemungkinan skenario tentang cara yang membuat perubahan ini dapat mengubah lanskap politik Atlantik Utara.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Pada bagian yang pertama, Traverso melihat munculnya kelompok dan tokoh sayap kanan di Eropa dan Amerika Serikat.

Di AS, kebangkitan Donald Trump telah mengguncang politik dan banyak tatanan lama tampaknya sedang dalam proses disintegrasi.

Di Eropa, munculnya ekstremis kanan, Front Nasional (yang sekarang menjadi Rassemblement National) di Perancis, Alternative für Deutschland dan PEGIDA di Jerman, dan Jobbik di Hongaria, telah menimbulkan ancaman eksistensial terhadap tatanan demokrasi pasca-Perang Dunia II.

Di Inggris, keberhasilan pemungutan suara Brexit, dibarengi dengan munculnya UKIP dan English Defence League, telah semakin meningkatkan ancaman dari sayap kanan, mendatangkan iklim politik jenis baru yang anti-demokrasi, yang jauh lebih keras daripada neoliberalisme.

Sementara ini telah mengarah pada keunggulan baru bagi partai-partai yang berharap untuk membangun kembali gerakan nasionalis dan rasis pada periode antar-perang, perkembangan yang lebih signifikan adalah munculnya kelompok-kelompok postfasis.

Post-fasisme berbeda dari fasisme, dalam arti bahwa ia tidak memiliki agenda komunisme sebagai puncaknya.

Kekuatan-kekuatan baru dari sayap kanan radikal tentu saja memiliki beberapa kesamaan — pertama dan terutama, xenophobia, dengan jenis retorika yang telah disesuaikan dengan zaman. Mereka telah meninggalkan model rasisme lama, meskipun paham xenofobia yang mereka lakukan ditujukan terhadap imigran atau populasi dengan asal usul negara jajahan.

Kedua, Islamofobia, inti dari nasionalisme radikal ini, telah menggantikan anti-Semitisme. Kita akan kembali ke titik ini. Mereka tentu juga memiliki tema-tema lain yang sama, tetapi nasionalisme, anti-globalisasi, proteksionisme, dan otoritarianisme dapat diwujudkan dengan cara yang sangat berbeda, dengan pergeseran ideologis. Misalnya, Front Nasional tidak lagi menyerukan reintroduksi hukuman mati, tetapi menuntut pemerintah yang kuat dan negara berdaulat yang menolak untuk tunduk pada kekuatan keuangan. Mereka mengusulkan nasionalisme otoriter, nasionalisme autarkis (berdikari).

Kekuatan-kekuatan radikal sayap kanan berusaha untuk memobilisasi massa. Mereka menyerukan kebangkitan kembali nasional dan menuntut mundurnya elit korup yang dikendalikan oleh kapitalisme global. Mereka juga menuntut para elit bertanggung jawab atas kebijakan yang telah membuka negara-negara Eropa untuk menjadi tuan rumah bagi imigrasi yang tidak terkendali dan ‘invasi Islam’.

Seperti yang dijelaskan oleh Luc Boltanski dan Arnaud Esquerre, orang-orang sayap kanan radikal tidak meninggalkan mitos lama tentang ‘orang baik’ yang menentang elit yang korup, tetapi telah mengubah rumusannya secara signifikan. Di masa lalu, orang-orang ‘baik’ berarti pedesaan Prancis sebagai lawan dari ‘kelas berbahaya’ di kota-kota besar. Setelah berakhirnya komunisme, kelas pekerja yang dikalahkan oleh deindustrialisasi telah diintegrasikan kembali ke dalam komunitas orang-orang baik.

Orang-orang ‘jahat’ adalah para imigran, kaum Muslim dan Kulit Hitam di pinggiran kota, wanita berjilbab, pecandu, dan kaum marginal lainnya, bersama dengan komunitas yang telah mengadopsi adat-istiadat liberal: kaum feminis, ramah-gay, anti-rasis , pencinta lingkungan, dan pembela hak-hak imigran. Akhirnya, orang-orang ‘baik’ dari imajinasi penganut post-fasis adalah nasionalis, anti-feminis, homofobik, xenofobik, dan menyuburkan permusuhan yang jelas terhadap ekologi, seni modern, dan intelektualisme.

Review buku

Judul buku: The New Faces of Fascism : Populism and the Far Right

Penulis: Enzo Traverso

Penerbit: Verso Publishing

Tahun Terbit: 2019

 

Tags:
No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *