Islamophobia Bukanlah Sebuah Phobia

 

“Islamophobia bukan sekadar ketakutan. Beberapa orang secara sengaja mengembangkannya dan menggunakannya sebagai strategi politik. Islamophobia tidak terjadi begitu saja. Ia bisa memberikan uang dan kekuasaan kepada orang yang mendapatkan keuntungan atasnya.”

 

Islamophobia tidak terjadi secara tiba-tiba.

Ia tidak terjadi hanya pasca peristiwa 11 September, namun ia memiliki akar sejarah yang panjang dan mendalam di belakangnya. Peristiwa 11 September, meningkatnya migrasi Muslim ke Barat pada akhir abad ke-20, dan serangan teror di Eropa hanya pemicu dari sebuah epidemi kebencian terhadap Islam yang mengakar di Barat  sejak lama.

Hari ini, Islam dan Muslim senantiasa mendominasi headline negatif di media mainstream. Serangan teror selalu dialamatkan kepada Islam sebagai tertuduh. Islam dan Muslim selalu dianggap bersalah, sampai terbukti sebaliknya. Islam sering dipandang sebagai penyebab radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Dalam studi yang dilakukan oleh Georgia State University, teroris dari kalangan non-Muslim perlu melakukan pembunuhan tujuh kali lebih banyak untuk mendapatkan liputan yang sama di media dibanding jika pelakunya Muslim.

Baca juga:

Menjadikan Islam sebagai kambing hitam cenderung lebih simple, dibanding mempertimbangkan inti masalah politik dan keluhan yang menggema di dunia Islam, yaitu kegagalan pemerintah di negeri Muslim, kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dukungan Barat terhadap rezim otoriter, invasi dan penjajahan di negeri Muslim, atau dukungan terhadap penjajahan Israel di Palestina.

Islamophobia bukanlah phobia, ia adalah cara pengaturan yang bersifat struktural dan didukung oleh negara.

Islamophobia bersifat struktural, karena ia adalah cara berpikir yang hari ini secara formal menginformasikan bagaimana lembaga publik, media, dan pemerintah memperlakukan umat Islam. Saat ini, kita telah mencapai tahap di mana umat Islam secara keseluruhan, dan Islam itu sendiri, dianggap sebagai ancaman dan berpotensi menjadi penjahat.

Baca juga:

Tidak hanya di Inggris dan di Amerika, namun cara pandang tersebut kini diekspor ke belahan dunia lainnya. Dalam istilah akademis, kebijakan ini disebut “sekuritisasi Islam”, mengacu pada program kontraterorisme yang pada praktiknya mencurigai semua Muslim, berdasarkan pemahaman bahwa setiap muslim berpotensi melakukan kekerasan dan menjadi teroris.

Islamophobia adalah sebuah perang, perang yang tidak dideklarasikan, bersifat tersembunyi, dan tak terucapkan. Namun, jika jeli melihat, kita bisa menemukannya dalam strategi dan kebijakan keamanan di Barat saat ini. Fokusnya adalah pada perang melawan “radikalisasi” yang dipresentasikan sebagai perang melawan Islam “ekstrem”.

Namun jika kita menyelidiki cara-cara di mana proyek anti-ekstremis dilakukan secara global, kita melihat bahwa di balik topeng anti-ekstremisme itu sebenarnya adalah perang eksistensial melawan Islam itu sendiri.

Ini adalah konflik yang akan terus memperluas jangkauannya ke seluruh dunia, dimanapun umat Muslim berada.

Strategi kontraterorisme tidak “melawan” “teroris”. Banyak bukti akan hal ini.

Baca juga:

Kita akan menyadari bahwa sejak awal Perang Melawan Teror digulirkan, di luar negeri maupun di dalam negeri, kekerasan tidak berkurang. Hal ini dikarenakan strategi kontraterorisme dan kontraradikalisasi tidak benar-benar menangani penyebab kekerasan. Strategi tersebut beranggapan bahwa kekerasan, pada akhirnya, disebabkan oleh fakta bahwa seseorang adalah Muslim.

Karena itu, dalam asumsi program tersebut, siapa saja yang beragama Islam bisa menjadi pelaku kekerasan. Ini adalah kerangka kerja yang selama ini dibangun dalam program kontraterorisme.

Itulah mengapa kita seringkali mendapati pandangan bahwa semakin nampak “Islami” seseorang, semakin besar kecenderungannya terhadap kekerasan dan semakin dicurigailah dia. Seorang pria dengan ciri-ciri yang terlihat Islami yang meninggalkan tasnya sesaat tanpa pengawasan di kereta membuatnya lebih banyak mendapatkan kecurigaan daripada orang lain yang tidak memiliki ciri serupa.

Ini karena menjadi atau nampak seperti Muslim adalah kejahatan yang sebenarnya, bukan karena ia meninggalkan barang tanpa penjagaan. Kecurigaan semacam itu, sadar atau tidak, kini melekat pada cara pemerintah bersikap, yang dikuatkan dengan sejumlah aturan, dikampanyekan di sekolah dan universitas yang dihimbau untuk melaporkan perilaku “mencurigakan”, dan direproduksi oleh media saat mendiskusikan tentang Islam dan Muslim.

Baca juga:

Saat kita bisa memahami bahwa menjadi seorang Muslim kini berarti layak untuk mendapatkan pengawasan dan sasaran kecurigaan, maka saat itulah kita bisa memahami makna sebenarnya dari Islamophobia.

Islamophobia bukanlah “phobia”, ia lebih dari sekedar prasangka interpersonal. Ia adalah pemahaman formal dan sistematis tentang Muslim sebagai kriminal; pemahaman bahwa “Muslimness”, “kemusliman”, adalah penyebab kekerasan. Pemahaman ini berarti bahwa hak-hak umat Islam dapat terkikis dan dilanggar tanpa banyak protes dari masyarakat.

Muslim dapat ditahan tanpa tuduhan, diberhentikan dan diselidiki meski tanpa kesalahan, meningkatkan penyensoran terhadap Muslim tanpa dilihat sebagai pelanggaran hak berbicara, normalisasi serangan fisik dan verbal terhadap Muslimah, dll.

Itu semua adalah dampak dari Islamophobia, yang menyalahkan umat Islam padahal mereka sendiri adalah korban. Islamophobia memungkinkan kita untuk menghindari pertanggungjawaban atas terorisme yang dilakukan oleh pihak selain Muslim, mendorong kita untuk tidak menanggapi kebijakan luar negeri Barat dan perlakuan mereka terhadap Muslim, baik di dalam maupun luar negeri.

Oleh karena itu, kita tidak dapat meningkatkan kesadaran tentang Islamophobia tanpa meningkatkan kesadaran tentang sifat cacat inheren yang ada pada agenda anti-terorisme atau deradikalisasi.

Memahami Islamophobia hanya sebagai ketakutan individu akan membuat kita terus menyembunyikan fakta bahwa Islamophobia adalah kesalahan penerapan keadilan yang semakin struktural dan sangat disengaja, pembalikan arah keluhan politik, pembenaran perang ilegal yang dilakukan Amerika dan sekutunya, serta pemindahan kekerasan.

Inilah fondasi yang memungkinkan setiap bentuk Islamophobia.

Ketakutan adalah musuh sejati kita. Ketakutan telah menguasai dunia kita. Ketakutan digunakan sebagai alat untuk memanipulasi masyarakat. Ia adalah cara para politisi menjajakan kebijakan dan menjual sesuatu yang sejatinya tidak kita perlukan.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *