Lima Hal Penting Terkait Serangan Teroris di Selandia Baru

Lima Hal Penting Terkait Serangan Teroris di Selandia Baru

Serangan teroris terhadap dua masjid, yaitu Al Noor dan Linwood di Selandia Baru, yang telah menewaskan 49 orang dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka, hanyalah peristiwa yang terbaru dalam kekerasan anti-Muslim oleh kelompok sayap kanan, yang mengganggu banyak negara demokrasi di seluruh dunia. Teroris itu ternyata adalah seorang Australia yang melakukan perjalanan ke Selandia Baru untuk mengirim pesan kepada para migran Muslim bahwa tidak ada tempat yang aman.

Kita harus berhati-hati untuk menghakimi hal-hal tertentu karena beberapa informasi awal yang kita dapat mungkin salah, dan begitu banyak yang tidak lengkap. Namun, inilah beberapa pemikiran awal ketika kita belajar lebih banyak tentang kekerasan yang mengerikan ini.

1.  Kata-kata memiliki konsekuensi.

Demonisasi (penggambaran sebagai sosok jahat) terhadap komunitas Muslim, seringkali oleh politisi yang kemudian bertindak kaget dan marah ketika kekerasan terjadi, berkontribusi pada polarisasi masyarakat dan menginspirasi kekerasan. Boris Johnson dari Inggris menganjurkan “simpati dan doa” setelah serangan itu, tetapi sebelumnya ia telah menulis bahwa wanita yang mengenakan burqa terlihat seperti “perampok bank.”

Yang luar biasa, setelah penembakan, Senator Australia sayap kanan Fraser Anning mengklaim, “Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalan-jalan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum fanatik Muslim untuk bermigrasi ke Selandia Baru sejak awal.” Ia menganggap pelaku termakan oleh polarisasi ini dan berusaha memperburuknya.

2.  Badan keamanan dan institusi pemerintah harus memprioritaskan nasionalis kulit putih dan bentuk lain dari terorisme sayap kanan.

Di Amerika Serikat, kekerasan sayap kanan telah berkembang, dengan Yahudi dan Muslim khususnya menjadi sasaran. Pemerintahan Trump telah mengurangi program yang berfokus pada kelompok-kelompok sayap kanan bahkan di tengah ancaman yang berkembang.

Baca juga:

Mengingat penurunan baru-baru ini dalam kekerasan jihad di Amerika Serikat, mengalihkan beberapa sumber daya adalah tepat. Demikian pula, memastikan integrasi imigran sangat penting. Berbeda dengan Eropa, komunitas Muslim Amerika secara teratur bekerja sama dengan penegak hukum. Idealnya, presiden akan menekan pejabat negara dan lokal untuk melanjutkan dan memperluas pekerjaan mereka dengan komunitas Muslim, tidak hanya untuk menghentikan radikalisme di barisan mereka tetapi juga untuk melindungi mereka dari ekstremis sayap kanan.

3.  Kepemimpinan menjadi hal penting dalam sebuah krisis, terutama ketika didukung dengan tindakan.

Deklarasi langsung Perdana Menteri Jacinda Ardern tentang korban Muslim bahwa “mereka adalah kita” adalah awal yang sangat baik dan menunjukkan bagaimana seorang pemimpin dapat menggunakan sebuah tragedi untuk menyatukan negara yang terguncang bersama. Agar melampaui retorika tersebut, Ardern harus meminta warga Selandia Baru untuk menerima lebih banyak migran Muslim untuk menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya gagal tetapi akan menjadi bumerang.

4.  Perusahaan media sosial perlu memperlakukan terorisme sayap kanan dengan keseriusan yang sama seperti mereka memperlakukan kekerasan jihad.

Teroris itu memposting tautan ke manifesto sayap kanan di platform “8chan dan Twitter”, menggunakan kamera di helm untuk menyiarkan serangannya melalui Facebook, dan mengeksploitasi media sosial untuk menyebarkan berita. Untuk hal tersebut, sebagian besar perusahaan besar bekerja keras untuk mengambil konten dan mencegahnya menyebar.

Baca juga:

Tetapi ini tidak cukup. Perusahaan-perusahaan besar memiliki seperangkat kebijakan yang kuat untuk mencoba menurunkan dan membatasi konten jihad. Metode serupa perlu digunakan untuk bentuk-bentuk kebencian lainnya, yang sama mematikannya, seperti kekerasan anti-Muslim, rasis, dan anti-Semit. Program countermessaging yang mengalihkan pengguna dari konten kekerasan ke pesan yang mempertanyakan dan merusak kebencian, seperti dirancang untuk Islamic State, juga harus diterapkan dalam konteks nasionalis putih.

5.  Terakhir, banyak dari terorisme sayap kanan adalah terorisme internasional, yang memanfaatkan jaringan, ide, dan kepribadian internasional dari seluruh dunia.

Seorang Australia yang bepergian ke Selandia Baru untuk menyerang masjid adalah salah satu contohnya. Selain itu, orang Australia itu mengambil ide dan tindakan radikal dari Anders Breivik Norwegia. Dia juga mengaku mengagumi Presiden Trump “sebagai simbol identitas kulit putih yang diperbarui dan tujuan bersama” dan juga pengagum kritikus Black Lives Matter, Candace Owens.

Demikian pula, kelompok neo-Nazi seperti “Divisi Atomwaffen” memiliki koneksi internasional. Seperti yang dikatakan Mary McCord dan Jason Blazakis, koneksi internasional memungkinkan Amerika Serikat untuk menunjuknya sebagai organisasi teroris asing dan menggunakan kekuatan hukum untuk mencoba menblokir organisasi tersebut. Perbedaan domestik-asing seharusnya tidak menjadi penghalang untuk memahami atau melakukan tindakan.

 

 

Sumber:   brookings

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *