Mr. Trump, Mari Pulang dan Belajar Menikmati Fakta Pahit!

Sebuah resolusi gabungan baru yang diperkenalkan di Senat menyerukan kepada cabang eksekutif untuk menarik semua pasukan AS dari Afghanistan dalam waktu satu tahun. Presiden Trump telah menyatakan keinginan untuk menarik mundur pasukan. Negosiasi dengan Taliban juga menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan, sehingga tampaknya perang terpanjang Amerika akan segera berakhir.

Namun, politik selalu jauh tertinggal dari kenyataan. Sementara jajak pendapat menunjukkan dukungan publik untuk penarikan pasukan, banyak dari pejabat Washington menentang untuk mengakhiri perang. Para pembuat kebijakan harus menghadapi beberapa kenyataan yang pahit di Afghanistan.

  1. Kita Kalah

Inti dari misi pembangunan bangsa kita di Afghanistan telah gagal. Kita belum mampu menenangkan pemberontakan Taliban. Kita juga tidak menciptakan pemerintahan demokratis yang dapat menjaga ketertiban tanpa dukungan eksternal. Taliban kini memiliki lebih banyak wilayah, sekitar setengah distrik negara itu, daripada saat kapanpun sejak 2001. Tahun lalu menandai jumlah kematian sipil tertinggi yang tercatat sejak 2009.

Laporan Inspektur Jenderal baru-baru ini menemukan bahwa kekuatan pasukan keamanan Afghanistan berada pada titik terendah sejak 2015, karena mengalami desersi, moral yang tertekan, dan rendahnya daftar ulang. Sebanyak 45.000 perwira dan prajurit polisi Afghanistan telah tewas sejak 2014.

Kita telah mencoba segalanya: pasukan kecil, pasukan besar, lonjakan pasukan, kerja sama regional, dan peningkatan bantuan. Semua itu tidak ada yang membawa lebih dekat ke tujuan kita. Taliban akan berjuang untuk selama-lamanya hingga penarikan penuh AS dan sampai mereka mendapatkan kembali kekuasaan politik di Kabul.

Orang Amerika tidak suka mendengar bahwa mereka kalah perang. Selama perang Vietnam, para pejabat di Washington telah mengakui secara pribadi pada awal 1965 bahwa sebagian besar alasan untuk menjaga kelangsungan perang bukanlah untuk mencapai tujuan kita, yang pada dasarnya telah hilang, tetapi untuk menghindari penghinaan kekalahan.

Tetapi memperpanjang perang mengerikan itu selama bertahun-tahun atas dasar ini adalah salah. Sudah waktunya untuk menghadapi kenyataan pahit: Kita kalah. Sekarang, mari kita memotong kerugian kita dan angkat kaki.

  1. “Tempat perlindungan teroris” adalah mitos

Alasan pihak keamanan untuk terus mengobarkan perang yang kalah ini adalah untuk mencegah Afghanistan yang dikuasai Taliban menjadi tempat perlindungan bagi kelompok-kelompok teroris. Tetapi kehadiran Al Qaeda di Afghanistan menjelang peristiwa 9/11 tidak memiliki utilitas operasional nyata dalam memungkinkan kelompok teroris itu untuk melakukan serangan terhadap New York dan Washington.

Serangan juga direncanakan dari Jerman dan Malaysia, dan bahkan dari Amerika Serikat sendiri. Dalam era komunikasi global instan ini, perlindungan teritorial di Afghanistan yang terpencil dan terkurung daratan tidak banyak membantu kelompok teroris yang berencana menyerang Barat.

Bagaimanapun, terorisme bukanlah semacam bahaya eksistensial yang menjamin perang abadi. Ini adalah ancaman yang relatif kecil dan dapat dikelola. Satu perkiraan, yang menggunakan analisis risiko standar, menemukan bahwa untuk mulai membenarkan pengeluaran keamanan dalam negeri untuk program anti-terorisme senilai $ 75 miliar setiap tahun, harus ada sekitar tiga serangan 11 September setiap empat tahun.

Perang di Afghanistan menelan biaya sekitar $ 2 triliun. Kebanyakan orang yang berusaha melakukan serangan teroris di Amerika Serikat adalah orang lokal dan tidak ada bukti satupun bahwa memerangi pemberontak di sana telah menghalangi serangan teroris di sini. Jelas, sumber daya yang kita keluarkan untuk perang melebihi manfaat yang masuk akal atas keamanan nasional.

Kenyataan yang pahit ini memiliki sisi positif. Dalam negosiasi dengan AS, Taliban pada prinsipnya sepakat untuk tidak mengizinkan kehadiran Al Qaeda di Afghanistan di masa depan. Ini telah menjadi posisi de facto mereka untuk waktu yang lama, tetapi jika pemerintahan Trump mencari jalan menyelamatkan dari kekalahan perang, mereka harus mengambil keuntungan dari “konsesi” ini dan keluar.

  1. Banyak hal akan menjadi berantakan setelah penarikan pasukan

Ini mungkin kenyataan paling pahit dari semuanya: Jangan berharap kumbaya setelah kita pergi. Mungkin ada pertikaian, peningkatan aktivitas militan, atau bahkan perang saudara tingkat rendah. Anda bahkan mungkin melihat aktor regional mulai tidak peduli. Tetapi orang Amerika harus ingat bahwa keamanan AS sebagian besar terisolasi dari efek dari kemungkinan-kemungkinan ini.

Amerika Serikat tidak dapat mengendalikan pemerintahan Afghanistan pasca-penarikan, dan itu berarti mencengkeram pemerintahan Taliban. Prospek untuk demokrasi, hak asasi manusia, dan perlindungan perempuan, antara lain, akan terpukul. Itu hanyalah beberapa kenyataan.

Tetapi Afghanistan bukanlah tempat yang sangat bebas dan liberal bahkan dengan kehadiran militer AS yang tidak terbatas. Rezim Kabul tentu saja lebih baik daripada pemerintahan Taliban, tetapi tidak berarti itu merupakan keberhasilan yang bersinar: ia menduduki peringkat rendah dalam demokrasi, hak-hak politik dan kebebasan sipil, sementara ia peringkat yang tertinggi di dunia dalam hal korupsi.

Menyaksikan demokrasi bergulir kembali di Afghanistan akan sulit, tetapi harus berfungsi sebagai pengingat bahwa misi pembangunan bangsa yang kita pilih untuk diadopsi setelah jatuhnya Taliban pada tahun 2001 adalah taruhan yang hilang sejak awal. Kita sudah melakukannya selama hampir 18 tahun, dengan biaya besar, dan ternyata gagal.

Pembuat kebijakan harus mempelajari batas-batas kekuasaan AS dan menahan diri untuk tidak mengadopsi misi ambisius untuk kepentingan periferal. Menolak untuk berperang yang tidak dapat dimenangkan dan tidak perlu adalah langkah pertama untuk tidak kalah dalam peperangan.

 

Naskah ini disadur dari opini yang ditulis oleh John Glaser, direktur studi kebijakan luar negeri di Cato Institute.

Sumber:   cato

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *