Mantan Penasihat Trump Jabarkan Filosofi Perang

Perang akan terjadi lagi dan lagi. Kita harus siap.”

Itu adalah kata-kata dari Sebastian Gorka, seorang pria yang pernah menjabat sebagai penasehat presiden AS saat ini, Donald Trump, di masa awal pemerintahannya, sebelum akhirnya dipecat. Ada satu kebenaran yang diingatkan oleh Gorka, bahwa orang Amerika dalam kondisi melupakan sesuatu yang sangat penting: senjata paling penting dalam setiap konflik adalah tekad untuk menang.

Sejarah manusia dipenuhi dengan sejarah peperangan. Dari pertempuran satu lawan satu, berkembang menjadi kelompok melawan kelompok lain, kemudian lebih berkembang lagi dengan peperangan berbagai kerajaan dan negara-bangsa, sehingga mengarahkan seluruh dunia ke dalam perang … itu adalah sejarah manusia yang tidak bisa dipungkiri.

Buku Why We Fight yang ditulis oleh Sebastian Gorka adalah manifesto yang menunjukkan pada motivasi yang menyebabkan perang dan persiapan yang harus dilakukan Amerika Serikat untuk berperang di dunia yang terus berubah.

Baca juga:

Gorka menjelaskan perlunya kesiapan menghadapi ancaman yang akan datang melawan peradaban AS dan merampas kebebasan AS. “Hilangnya kebebasan selalu merampas satu generasi.”

Dalam bukunya, ia dengan mahir mengikat kebijaksanaan dari ahli perang kuno dengan kebutuhan berperang di era elektronik. Tak peduli dalam kondisi pasukan yang kalah jumlah dan terputus dari pasukan bantuan, atau perang drone era modern ini, menurut Gorka, “unsur terpenting untuk meraih kemenangan adalah tekadmu untuk menang harus lebih besar dari tekad musuhmu.”

Gorka membangun landasan bukunya dari The Art of War karya Sun Tzu, dan mahakarya On War oleh Jenderal Prusia, Carl von Clausewitz. Terjadi diskusi mendalam tentang alasan perang yang meluas pada teori bahwa perang hanyalah perpanjangan dari politik yang didorong oleh ketakutan, keserakahan, kebanggaan, atau kejahatan ideologis.

Buku ini membawa pulang filosofi tentang peperangan dan menggunakannya ke dalam konteks Amerika sejak kelahirannya sebagai negara-bangsa. Setelah “mengalahkan” Imperium Inggris dan mendirikan bangsa, Amerika hampir secara instan ditarik ke dalam perang di luar negeri.

Gorka menjelaskan bagaimana Stephen Decatur menjadi salah satu pahlawan paling awal di Amerika dan melancarkan serangan Marinir pertama selama perang Bajak Laut Barbary dan mengamankan tempat Amerika sebagai negara yang tidak bisa dianggap enteng. Dia diabadikan dalam lagu Mars Korps Marinir AS.

Baca juga:

Setelah sejarah perang yang panjang, Amerika merasa dirinya satu-satunya kekuatan super dunia. Gorka mengemukakan alasan mengapa menjadi negara adikuasa mungkin tidak cukup untuk membuat AS merasa aman.

AS, sebagaimana diklaim oleh Gorka, adalah negara yang paling siap untuk mengalahkan negara lain di planet ini, tetapi itu tidak berlaku untuk perang di masa depan. Hal ini menjadi jelas ketika warga AS merasakan kengerian ketika sebuah kelompok yang mengobarkan perang datang ke tanah air Amerika dan membunuh 3000+ warga sipil dalam serangan 9/11.

Dunia berubah secara fundamental pada hari itu. Sebuah kelompok tanpa negara, beberapa militan yang bersemangat, dengan modal finansial yang sedikit, berhasil memberi pukulan keras ke negara Amerika, yang tidak siap sebelumnya.

Jika musuh tidak memiliki negara bagaimana AS bisa menghancurkan mereka? Jika musuh dapat merekrut di seluruh dunia yang terhubung hanya dengan media sosial, bagaimana kita tahu siapa pihak yang harus dihilangkan? Pada tahun-tahun setelah 9/11, AS membawa pertempuran terhadap para “teroris jihadis” di wilayah Irak dan Afghanistan dan di wilayah mana pun di mana AS menduganya sebagai basis jihadis. Namun, sudahkah AS belajar apa yang perlu dipelajari agar siap menghadapi peperangan di masa depan?

Gorka menyebut, “Kami belum secara mendasar mengolah kembali arsitektur dan budaya dari sebuah perusahaan keamanan nasional yang dirancang terutama untuk mengalahkan pasukan negara lain.” Pelajaran yang harus dipastikan adalah bahwa kesiapan untuk perang di masa depan tidak hanya diukur melalui jumlah tank, pesawat tempur, dan kapal perang. Gorka mengingatkan kita bahwa sejarah mungkin tidak terulang sama persis, tetapi memiliki pola yang sama.

Gorka memunculkan pertanyaan, “Apa yang telah dipelajari negara-negara seperti Rusia dan Cina tentang irregular warfare kita dengan al-Qaeda dan ISIS? Dan bagaimana mereka akan menyerang kita ketika siap?

Ia menjawab sendiri pertanyaan tersebut dengan jawaban yang diplomatis, “Pertempuran kecil saat ini bisa selalu menjadi gladi bersih untuk sesuatu yang lebih buruk nanti.”

Buku Why We Fight akan menyuguhi pembaca dengan harapan dari rakyat AS bahwa Amerika akan bangkit terhadap serangan apa pun yang datang. Gorka menyebutkan beberapa kisah pahlawan Amerika yang terkenal, dan juga yang tidak dikenal: Jenderal Chesty Puller, marinir yang paling dihormati dalam sejarah Amerika, Kapten Eugene McDaniel, seorang pilot angkatan laut yang ditembak jatuh di Vietnam yang menghabiskan enam tahun di kamp penjara Hilton di Hanoi, lalu Whittaker Chambers, karakter paling menarik, seorang mantan mata-mata, dan pahlawan Amerika.

Orang-orang tersebut membawa semangat gigih yang akan dibutuhkan orang-orang Amerika di masa depan. Butuh tekad besar untuk mengalahkan musuh-musuh, ketika mereka mengembangkan metodologi mereka dalam upaya untuk menghancurkan peradaban yang didominasi oleh Amerika.

Selanjutnya, setelah Donald Trump menang. Apakah Amerika sekarang aman? Sangat tidak.

Sebastian Gorka adalah seorang pria yang mengenal Presiden Trump secara pribadi dan telah melayaninya sebagai staf ahli Strategi. Dia memiliki pengetahuan sebagai “orang dekat” presiden Trump.

Ia menjelaskan bahwa AS harus siap untuk melawan negara-bangsa mana pun seperti Rusia atau Cina dengan tank, pesawat, dan kapal selam, tetapi juga harus siap untuk mengejar musuh di mana pun, termasuk mengejar gerakan Jihadis yang menargetkan kehancuran AS.

Why We Fight adalah buku yang menarik untuk siapa saja yang tertarik untuk belajar lebih banyak tentang sejarah perang Amerika sementara pada saat yang sama menikmati opini dari seorang mantan penasehat strategis Presiden AS, tentang apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan perang di masa depan.

 

Review Buku:

Judul: Why We Fight: Defeating America’s Enemies – With No Apologies

Penulis: Sebastian Gorka

Penerbit: Simon and Schuster Publishing

Tahun Terbit: 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *