Peta Kekuatan Umat Islam di Negara-Negara Konflik: Afghanistan (Bag.1)

Artikel ini akan membahas aspek-aspek konflik yang terjadi di kalangan umat Islam. Seputar tata cara memahami sistem internasional dan kekuatan internasional yang secara umum mempengaruhi jalannya berbagai peristiwa yang menimpa umat Islam. Melalui tulisan ini, kami mencoba untuk mengklarifikasi pemahaman yang benar dan lengkap seputar peristiwa-peristiwa di mana umat Islam menjadi fokus utamanya.

Kami juga akan menampatkan kaedah-kaedah yang mencakup sisi sekunder dari peristiwa-peristiwa tersebut, berupa pemikiran-pemikiran yang mempengaruhi peristiwa yang terjadi. Dan hal tersebut akan membantu kita untuk memahami apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Melalui artikel ini, kami mencoba untuk memasukkan visi dan konsentrasi gagasan dengan bahasa yang ringkas. Dan hari ini kita akan membahas tentang sikap umat Islam di berbagai negara di muka bumi, dan konflik apakah yang perlu kita perhatikan dengan seksama? Dan di mmanakah posisi kita pada konflik tersebut? Apakah kita berada pada jalur kemenangan? Dan hal-hal apakah yang bisa diprediksi dari peristiwa yang akan datang?

Baca juga:

Melalui tulisan ini, kami akan mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tersebut, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang menghubungkan antar konflik. Dan kami juga mempertimbangkan bahwa faktor-faktor tersebut terus menjadi hegemoni tatanan internasional, dan umat Islam saat ini sedang berupaya untuk melepaskan diri darinya.

Afghanistan

Afghanistan adalah salah satu wilayah umat Islam yang terpenting, meskipun secara geografis ia terletak jauh dari pusat dunia Islam. Tetapi, Allah menghendaki Afghanistan untuk memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah umat Islam pada masa ini. Afghanistan adalah wilayah pertama yang meraih kemenangan secara militer sejak masa kekhilafahan Utsmaniyyah.

Maksud dengan kemenangan adalah kemenangan yang mencakup elemen militer dan politik yang terintegrasi dalam perang yang komperhensif. Tidak ada pertempuran, konflik, atau perang (di Afghanistan) yang hasilnya dapat ditetapkan, kecuali dengan tangan umat Islam itu sendiri.

Kontribusi Afghanistan dapat disimpulkan dalam poin-poin berikut:

  1. Runtuhnya Uni Soviet setelah kekalahannya dalam perang melawan Afghanistan.
  2. Kemenangan Afghanistan dalam perang Chechnya pertama, di mana para pejuang Arab keluar dari Afghanistan.
  3. Penyebaran Jihad di seluruh wilayah dan negara umat Islam, yang dilakukan oleh orang-orang yang telah mengalami perang Afghanistan.
  4. Menipisnya pasukan militer dan kekuatan ekonomi AS setelah ia berpartisipasi dalam perang di Afghanistan dan seterusnya.

Beberapa angka di sini menunjukkan bukti adanya ‘gesekan’ ekonomi Amerika Serikat sejak 2001. Trump baru-baru ini menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar $ 7 triliun dalam perang mereka melawan ‘terorisme’, dan yang menjadi panggung utamanya adalah Timur Tengah.

Baca juga:

Pada Juli 2017, Pusat Studi Strategis dan Internasional AS menerbitkan tiga hipotesa:

  1. Yang pertama adalah hipotesa Lena Plamez, yang memperkirakan pengeluaran AS sampai pada bulan Februari 2016, yaitu sekitar 4 sampai 6 triliun US dolar.
  2. Kedua, hipotesa Watson Institute, yaitu sebesar $ 4.8 triliun pada periode yang sama, dan naik menjadi $ 5.6 triliun pada estimasi terbaru mereka pada tahun 2018.
  3. Ketiga, hipotesa Neta Crawford, yang menempatkan tiga perkiraan angka yang memungkinkan. Yaitu sekitar 4.8 triliun, 7.9 triliun, atau sampai pada 12.7 triliun dolar; tergantung pada biaya yang dihitung dalam estimasi tersebut. Dan total belanja militer AS pada perang Afghanistan dan Irak saja, sejak thaun 2001 hingga 2018, menghabiskan sekitar 1.6 triliun dolar.

Agar kita bisa menyadari jumlah pengeluaran AS, cukup bagi kita untuk mengetahui  bahwa biaya perang atas partisipasi AS dalam Perang Dunia II adalah sekitar 4.1 triliun dolar jika dibandingkan dengan nilai tukar dolar saat ini. Dalam perang sebelumnya, yang menghabiskan dana terbesar sebelum PD II, yaitu perang Vietnam, biaya yang dikeluarkan sekitar 770 miliar dolar, dan dalam perang Korea sekitar 340 miliar dolar, dengan nilai tukar dolar saat ini.

Jumlah korban manusia dari pihak AS menurut statistik resmi adalah lebih dari 10 ribu korban tewas dan lebih dari 56 ribu korban luka-luka yang harus diamputasi. Sedangkan jumlah korban sakit jiwa dari pasukan AS selama masa operasi militer mereka, sekitar 200 ribu pasien, menurut Departemen Urusan Veteran Militer AS.

Catatan: Produk Domestik Bruto Amerika bernilai sekitar 19.3 triliun dolar, Cina sekitar 12 triliun dolar, Inggris 2.6 triliun dolar, Perancis 2.5 triliun dolar, Rusia 1.5 triliun dolar, dan Dewan Kerjasama di Negara Teluk digabungkan bernilai sekitar 1.4 triliun dolar, Turki 850 miliar dolar. Seluruh gambaran tersebut diperkirakan oleh IMF pada tahun 2017.

Perkiraan Situasi ke Depan

Pada bulan Oktober 2017, Reuters dan BBC melaporkan bahwa Taliban telah mengontrol sejumlah 44 % dari Afghanistan, mengutip dari sumber koalisi. Sedangkan pemerintah Afghanistan hanya mengontrol hanya 30 % negara tersebut yang tidak terlepas dari serangan Taliban, sedangkan wilayah yang di dalamnya terdapat aktivitas dari Taliban adalah sekitar 70 % dari seluruh Afghanistan. Laporan-laporan berita mengatakan bahwa persentase kemenangan Taliban meningkat dua kali lipat di tahun terakhir.

Dengan segala faktor dan pengakuan dari Amerika, gelombang perang selama lebih dari 17 tahun nampaknya menguntungkan Taliban. Dan jika pasukan AS menambahkan jumlah pasukan mereka atau menarik diri dari Afghanistan, Taliban akan kembali berkuasa secara penuh lagi.

Amerika telah gagal menemukan cara untuk melawan Taliban, sehingga pemerintah Afghanistan juga gagal. Tidak ada partai lain yang serupa dengan partai Syi’ah di Iraq untuk menolong mereka, sehingga mereka dapat meninggalkan Afghanistan tanpa mengaku kalah.

 

Sumber: Tipyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *